Showing posts with label Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Pertanian. Show all posts

Monday, 28 July 2008

Pisang Raja Cililin "Semanis" Wajitnya

BERTANAM pisang relatif lebih gampang; sediakan tanah, ambil anak pisang, tanam, lalu biarkan, tidak sampai melebihi satu tahun hasilnya sudah bisa dinikmati. Lagi pula panennya tidak mengenal musim. Begitu juga soal benih tidak jadi masalah.

Dari sekian banyak jenis pisang, salah satu yang paling disukai dan dicari akhir-akhir ini--khususnya di Kota Bandung--adalah jenis pisang raja sere dari Cililin, Kabupaten Bandung. "Dibandingkan dengan pisang raja sere dari Lembang dan dari Banjar, Ciamis, pisang raja sere (cau raja cere--Sunda) dari Cililin lebih manis," demikian penuturan seorang konsumen di daerah Pasirluyu, Kodya Bandung, yang lantas membandingkannya," pisang raja dari Ciamis rasanya asam, dari Lembang sedikit manis, dan dari Cililin lebih manis lagi."

Hal itu dibenarkan Olih Solihin (43), seorang petani pisang di Desa Pasir Meong, 1 km dari Alun-alun Kec. Cililin, Kab. Bandung. "Tak aneh bila harganya pun lebih mahal dibandingkan pisang ambon atau pisang raja bulu," ujar Olih. Bila pisang raja dijual Rp 1.500,00 per sisir, pisang ambon hanya dihargai Rp 600,00 per sisir (harga di tingkat petani).

Bila diamati, pisang raja Cililin, sosoknya tidaklah terlalu istimewa. Bintik-bintik hitam yang tidak merata terlihat di permukaannya, seperti penyakit koreng. Panjangnya sekitar 10 cm. Bentuk pohon ramping agak tinggi, dengan batang dan pelepah daun yang kecil. Satu tandan (turuy) biasanya mencapai 4 sampai 6 sisir pisang.

Seperti ditunjukkan Olih, ciri khas pisang raja sere Cililin, dalam satu tandan, jarak antarsisir renggang dan saling bertolak belakang. Ini sekaligus menandakan pisang raja yang dagingnya manis dan pulen. "Jangan sekali-kali membeli pisang raja yang jarak antarsisir pendek dan seperti terpelintir, ini dipastikan rasanya asam," ujar Olih menasihati.

Apa penyebab pisang raja demikian manis? Padahal petani di sana tidak begitu telaten dalam merawatnya, seperti memupuk dan menyiangi. Secara pasti belum diketahui penyebabnya. Namun kemungkinan kondisi lingkungan sekitar, seperti keadaan tanah dan temperatur sangat mempengaruhi (seperti halnya ubi cilembu). Hal ini dibenarkan Uteng Sulaeman, koordinator PPL/Pengelola BPP Kec. Cililin, ketika "MB" menanyakan hal ini.

Penanaman pisang yang usia tanamnya 9 bulan ini, di Cililin kebanyakan masih secara sambilan, sekadar mengisi lahan kosong di pinggiran-pinggiran tebing di desa-desa Celak, Cikoneng, Lembang, Mukapayung, Kec. Cililin. Namun ada juga satu-dua yang membudidayakannya secara monokultur dan intensif, seperti di Kampung Cisitu, Desa Batulayang, Saguling, juga di daerah Ciomas, Desa Kajati yang masuk Kec. Batujajar.

Dalam memasarkan hasil panennya petani umumnya tidak menjual kepada pedagang pengumpul (bandar), tetapi para pedagang eceran datang sendiri yang lantas menjualnya secara pikulan ke pasar-pasar sekitar Kota Bandung, bahkan sampai ke Bogor dan Jakarta. Peminatnya kebanyakan warga keturunan China. Dari pedagang pikulan, pisang raja sere ini dijual antara Rp 2.000,00 sampai Rp 3.000,00 per kg-nya.

Sebenarnya dengan harga yang relatih mahal itu, disadari betul oleh petani untuk membudidayakan komoditas ini secara serius. Namun para petani ini selalu mengeluhkan masalah bibit yang masih jarang dan serangan hama/penyakit tanaman. Seperti dikeluhkan Olih, pisang raja dalam satu pohon hanya beranak 1 sampai 2 pohon tidak seperti kebanyakan pisang lainnya. Diperparah dengan hama/penyakit yang biasa disebut "muntaber", "daun laja" dan ulam/belatung, yang sukar penanggulangannya. "Pemberantasan hama demikian tidak ada cara lain, selain di-eradikasi (pemusnahan)," tambah Uteng Sulaeman memberi solusi. (Dede Suhaya)***

*Foto: www.iptek.net.id
Maaf ilustrasinya bukan pisang raja sere dari Cililin, tapi dari Purworejo, Jawa Tengah

Sunday, 13 July 2008

Legenda Anggur di Bordeaux

BUAH apa yang paling banyak dibudidayakan di dunia? Ternyata anggur menduduki peringkat pertama yang paling luas dibudidayakan di seluruh dunia, kebun anggur di seluruh dunia mencakup area sekitar 10 juta hektar dengan 8.000 varietas. Anggur telah dibudidayakan ribuan tahun sebelum Masehi, bangsa Mesir kuno telah merintis pembuatan minuman dari anggur ini, dan bangsa Yunani awal menjadikannya sebagai komoditi ekspor penting.

Vitis vinifera ini tumbuh baik mulai dari iklim sedang hingga daerah tropis, tetapi kebanyakan anggur ditanam di area dengan iklim sedang. Budidaya dengan konsentrasi tinggi ada di Eropa, namun juga sukses dikebunkan di Australia, Afrika Selatan, Amerika Selatan dan, Kalifornia (AS).

Prancis memiliki ribuan kebun anggur dengan kualitas terbaik di dunia. Ada sekitar 362 'appellation' atau jenis wine Prancis di sana. Setiap appellation bisa mencakup ratusan kebun anggur. Kebun anggur terluas terbentang di sekitar Bordeaux dengan anggur terkenalnya, Cabernet Sauvignon selain juga di kawasan Burgundy, Rhone, dan Champagne. Namun dalam hal metode viticulture Kalifornia-lah yang paling maju di dunia. Produksinya terus meningkat, menyaingi anggur klasik dari Eropa.

Dari dulu Bordeaux menjadi legendanya anggur, bisa dikatakan fanatik. Ada 13.000 petani anggur di Bordeaux, kebanyakan anggur yang tumbuh di sana khusus untuk membuat minuman anggur atau wine. Yang terkenal di antaranya Cabernet Sauvignon (anggur “bangsawan”) dan Cabernet Franc, juga Merlot. Merlot paling banyak ditanam di Bordeaux, dalam 120.000 hektar kebun anggur (vineyard) 50% adalah jenis Merlot.

Merlot adalah anggur yang rapuh, sensitif terhadap kekeringan. Merlot memperkaya warna wine, ia lembut dan cepat matang. Dengan aroma kismis dan blackberry.

Di musim semi dan musim panas, para petani memberi naungan pada tanaman anggur. Mereka menjaga daun-daun kecil dan tidak rimbun memungkinkan cahaya matahari mencapai buah anggur, selain memudahkan mengontrol hama dan penyakit tanaman seperti phylloxera.
Ketika musim panen tiba. Mereka biasanya melakukan dengan tangan, walaupun saat ini kebanyakan kebun anggur di sana menggunakan mesin-mesin untuk panen.

Kualitas yang rendah dari tanah di sekitar kota Bordeaux malahan menjadi faktor terkenalnya wine di sana. Selain iklim, usia wine dan metode pemanenan pun menentukan. Tapi yang paling menentukan adalah kualitas anggurnya. Lamanya paparan sinar matahari, awan, hujan, angin dan kelembaban juga berpengaruh pada anggur.

Tak ada aturan yang pasti, setiap faktor pada kebun anggur harus hadir pada saat yang baik. Jika hujan terlalu dini atau telat, misalnya, kualitas anggur akan berkurang. Petani di sana tahu betul, tidak mungkin memproduksi wine kualitas baik dari anggur yang jelek, tetapi mungkin membuat wine jelek dari anggur kualitas baik.

Misteri anggur Bordeaux, kini menjadi ladang bisnis menggiurkan, banyak biro perjalanan atau organisasi di sana menawarkan wisata anggur ke sana. Para wisatawan akan dibawa ke Chateaux (pabrik pembuatan dan penyimpanan wine), misalnya ke Medoc yang terkenal sebagai chateaux penghasil wine di dunia. Selain “grape walk” memetik anggur segar, mereka juga dibawa ke ruang penyimpanan tong anggur dan ke ruang mencicipi rasa anggur. Mereka akan menjelaskan bagaimana anggur dipanen, bagaimana menyimpan anggur dan bagaimana cara membotol wine. Tak terlewatkan untuk mencicipi minuman anggur berumur tahunan.

Selain secara tradisional, kini para pekebun di sana sadar betul bahwa "great wines need great technology". Untuk meningkatkan produksi, efisiensi serta menjaga mutu, berbagai inovasi pun mereka diterapkan, misalnya dalam penanaman bibit mereka telah menggunakan mesin yang dikendalikan satelit, metode GPS ini terbukti menyederhanakan pekerjaan penanaman, selain itu juga dilakukan mekanisasi dalam panen raya. Dengan cara mekanis keuntungan semakin meningkat, bisa mengatur waktu panen, pemasakan buah, dan meningkatkan kualitas buah dan secara akurat dapat memperkirakan hasil.

Anggur adalah tanaman dengan berbagai kegunaan. Selain buahnya difermentasi menjadi wine dan brandy, juga dimakan segar. Buah ini bisa dikeringkan menjadi raisin. Ada juga jus nonfermentasi, anggur kalengan, jam dan jeli anggur. Bahkan untuk menanggulangi menurunnya penjualan, overproduksi dan kompetisi di luar negeri, mereka membuatnya sebagai bahan bakar.

Para motoris di Prancis membuat bahan bakar dari anggur sebagai outlet baru untuk menanggulangi menurunnya penjualan, overproduksi dan kompetisi dengan luar negeri.

Dengan produksi sebanyak 5,8 miliar liter (2004), Prancis menjadi penghasil wine terbesar di dunia. Praktis 200.000 ton etanol per tahun dihasilkan negeri ini. Tak ayal terjadi surplus 400 juta liter per tahun, artinya 40 juta liter alkohol berpotensi digunakan sebagai biofuel. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***



Tuesday, 8 July 2008

Beras sebagai Gaya Hidup Rakyat Korea

SEPULUH tahun jangka waktu yang diberikan WTO untuk membuka pasar beras seakan tak cukup bagi rakyat Korea. Habisnya moratorium ini menjadi hal yang dilematis bagi pemerintah Korea. Di satu sisi Korea Selatan harus melindungi petaninya, namun di sisi lain harus memberlakukan kebijakan internasional dengan membuka impor berasnya untuk menjaga kredibilitasnya di mata dunia.

Para petani Korea pun frustasi. Beberapa pekan lalu para petani Korea Selatan melakukan unjuk rasa besar-besaran untuk menentang upaya pembukaan pasar beras oleh pemerintahnya. Mereka melakukan aksi penentangan dengan cara membuang gabah, membakar gabah, membakar tanaman padi di sawah, bahkan aksi bunuh diri pun tidak segan mereka lakukan.

Presiden Liga Buruh Tani Korea Selatan Moon Kyeong-sik menegaskan, beras tidak bisa diperlakukan seperti mainan. Negara harus menggunakan produk dalam negeri sejauh mana bisa diproduksi di dalam negeri. Impor hanya dilakukan apabila produk itu tidak bisa diproduksi di dalam negeri. Untuk itulah para petani di sana mati-matian menolak impor beras.

Mengapa sektor pertanian khususnya beras di Korea Selatan diproteksi begitu ketat oleh pemerintahnya, hingga mengulur-ngulur waktu untuk membuka serbuan impor beras dari negara lain. Begitu pentingkah dan menentukan komoditi yang satu ini bagi perekonomian negara ginseng ini?

Bagi petani Korsel, beras bukan hanya sebatas komoditi yang dihitung-hitung secara ekonomi saja. Mereka menyebut beras, yang dalam bahasa Korsel bap, sebagai identitas. Tak heran jika di antara mereka ada yang berani mati karena beras telah mendefinisikan, siapakah sebenarnya mereka.

Sebuah identitas yang mungkin tidak mudah untuk dipahami bagi mereka yang berada di luar usaha tani padi. Akan tetapi, petani Korsel menyadari sepenuhnya, meski sekarang mereka telah menjadi negara industri yang maju, nenek moyang mereka dan masa lalu mereka adalah negara agraris yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Mereka sadar pertanian padi adalah akar mereka.

Kalau dilihat dari struktur sosial, Republik Korea terdiri dari kota dan desa. Kira-kira 30 tahun lalu, lebih dari 70% populasi rakyat Korea tinggal di pedesaan dan bekerja sebagai petani. Di tahun 1995 tinggal 22% (sekitar 9 juta) populasi yang tinggal di kawasan pedesaan, dan pertanian membentuk sekitar 80% dari populasi pedesaan.

Pertanian tetap menduduki bagian yang penting dalam politik dan masyarakat Korea walaupun kontribusinya pada GDP kurang dari 5%. Beras merupakan sumber utama pendapatan dari pertanian. Para petani di Korea Selatan memiliki income nonpertanian yang sangat rendah, dan beras tercatat sekitar 45% dari total pendapatan.

Untuk melindungi para petani kecil, pemerintah Korea membatasi luas lahan pertanian 3 ha per rumah tangga serta menjalankan ìsistem harga ganda untuk berasî. Lewat sistem ini pemerintah Korea membeli beras dengan harga tinggi dari para petani di saat panen, dan menjual dengan harga rendah pada konsumen.

Area penanaman padi di Korsel meningkat dari tahun 1970 hingga 1990 dan kemudian menurun menjadi 1.052.000 hektar di tahun 1997. Namun demikian, ada peningkatan dalam hasil per hektar, produksi beras secara rata-rata tidak menurun. Di 1996 dan 1997, ada panen padi yang bagus dengan rekor hasil tinggi. Produksi padi per hektar menyentuh 5,18 ton di tahun 1997.

Dari berbagai perundingan, secara gradual Korsel akan melipatgandakan persentase beras impor yang boleh masuk ke pasar dalam negerinya. Perhitungannya, saat ini kuantitas beras yang boleh diimpor adalah empat persen dari total konsumsi tahunan. Tahun berikutnya kuantitas itu menjadi delapan persen hingga pada 2014 pasar beras negara itu benar-benar dibuka. Pada tahun 2014 itu pasar benar-benar dibuka dan petani hanya dilindungi oleh bea masuk yang besarnya diperkenankan oleh WTO.

Bandingkan langkah Korsel ini dengan langkah Pemerintah Indonesia. Langkah Korsel tergolong cerdas, jauh berbeda dengan kebijakan Pemerintah Indonesia yang langsung meliberalisasi pasar beras ketika ikut menjadi anggota WTO. Indonesia tidak mengajukan pasal-pasal keberatan sedikit pun ketika WTO berdiri, sedangkan Korsel mengajukan moratorium itu. Kasus Korsel menjadi pelajaran berharga bagi para juru runding kita di arena perdagangan internasional.

Mekanisasi Pertanian

Di Indonesia, ''Revolusi Hijau'' sudah dimulai pada 1970-an, di Korsel baru pada 1980-an. Tapi kini pertanian di Korsel telah maju demikian pesat meninggalkan Indonesia. Di Korea, lebih dari 70% sawah-sawah telah memiliki sistem irigasi yang stabil, dan sisanya masih tadah hujan.

Para petani Korea banyak belajar dari Jepang dan AS, tapi kini justru telah mengekspor ke dua negara tersebut. Mereka pun telah melakukan mekanisasi pertanian, sebagai contoh penggunaan mesin panen padi. Dengan alat ini hanya butuh waktu 15 menit untuk memanen padi seluas satu hektar.

Untuk meningkatkan persaingan industri beras, beberapa kelompok peneliti di Korea telah mengembangkan teknologi pasca panen padi dan teknologi untuk produksi dan distribusi padi kualitas tinggi; mengembangkan sistem grading tepung beras, dan bahan-bahan mentah dari beras; serta menyaring komponen-komponen fungsional dalam beras dan aplikasinya.

Tak pelak lagi, impor beras ke negeri ini akan menyebabkan beberapa akibat yang signifikan, dan efeknya berhubungan langsung dengan ekonomi dan budaya Korea Selatan

Menurut laporan Samsung Economy Institute, impor beras tsb akan menurunkan GDP Korea 4 miliar US$ dan produksi padi Korea sebesar 2 juta ton (sekitar 41%).

Impor beras akan menghancurkan basis dari pertanian di Korea. Lebih dari setengah petani di Korea menggantungkan hidupnya pada pertanian padi, dengan demikian sekitar 400.000 petani akan kehilangan pekerjaannya setelah pembukaan pasar beras.

Aspek kultur juga menjadi isu signifikan dari impor beras ke Korea. Beras telah menjadi hal penting dalam konsumsi dan gaya hidup bagi bangsa Korea secara turun temurun. Dalam istilah tradisi Korea, beras tidak sekadar biji-bijian sebagai makanan pokok tapi juga simbol dari kehidupan. Karena keadaan geografis dan iklim, bangsa Korea harus bergantung pada pertanian padi untuk mempertahankan hidupnya. Ekonomi tsb harus secara total dikendalikan oleh hasil pertanian karena Korea merupakan negara agraris sepanjang sejarahnya.

Keadaan telah membuat bangsa Korea untuk berpikir ìpetani adalah basisnya duniaî. Ketika pemerintah Korea mulai membangun ekonominya, pertanian menjadi tenaga pendorong; maka, ekonominya berhasil membuat orang Korea yakin bahwa pertanian harus menjadi basis masyarakatnya meskipun kini menduduki bagian kecil dari ekonomi nasional.

Semenanjung Korea memiliki pola cuaca kontinental dengan suhu ekstrem lebih dari 40 derajat C di musim kemarau dan -40 derajat C di musim dingin. Karena iklim panas dan lembab dalam musim kemarau, beras telah menjadi chief article bagi rakyat Korea sejak sekitar tiga ribu tahun yl. Beras telah melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Korea. Contohnya, kebanyakan makanan orang Korea harus disajikan dengan nasi (beras yang dikukus) yang merupakan makanan pokok. Juga, beras memikiki arti khusus untuk beberapa perayaan. Beras dan kue beras digunakan pada acara pernikahan atau kematian di beberapa kawasan. Pada pernikahan, beras penting untuk permohonan fecudity, dan beras, menurut mereka, berpengaruh pada hantu-hantu di kuburan. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Saturday, 5 July 2008

Listrik dari Tahi Sapi

SEBANYAK 1.500 sapi di peternakan Blue Spruce Farm, Bridport, Vermont, Amerika Serikat kini selain menghasilkan susu, mereka juga bisa membangkitkan listrik.

Gas metan yang keluar dari tahi atau kotoran sapi-sapi tersebut bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik, paling tidak bagi keperluan sendiri dan lingkungan sekitarnya.
“Ini pertama kalinya suatu pembangkit berbasis peternakan telah menawarkan bagi konsumen suatu pilihan yang bisa diperbaharui,” ujar Steve Costello dari Central Vermont Public Service Corp.

Bagaimana sebenarnya proses pembangkit listrik tahi sapi ini?


Secara garis besar, prosesnya dimulai dari kotoran sapi yang dipanaskan sehingga menghasilkan gas metan ketika terurai, proses ini membutuhkan waktu sekitar tiga minggu. Gas tersebut kemudian dikumpulkan dan digunakan untuk menjalankan generator, yang mengalirkan listrik ke jala-jala energi ini.

Sejauh ini sekitar 1.000 pelanggan telah menandatangani untuk membayar sekitar 4 cent lebih setiap kWh listrik untuk keperluan para petani ini. Kategori rumah tangga biasanya membayar sekitar 12 cent setiap kWh-nya dari listrik pemerintah.

Earl Audet, pemilik peternakan ini bersama saudaranya, berharap sapi-sapinya mampu membangkitkan cukup listrik untuk keperluan sekitar 330 rumah tangga.


“Para betina ini secara resmi memproduksi dua aliran pendapatan bagi kami, susu dan energi,” ujar Earl Audet. “Inilah salah satu cara untuk diversifikasi peternakan, memperbaiki usaha utama, dan mengelola limbahnya secara bertanggung jawab.”


Peternakan Audets berharap penjualan dari energinya bisa menutupi pembayaran listrik tahunan yang nilainya mencapai US$ 70.000 untuk peternakan ini. Dalam tujuh tahun ke depan, Audet berharap bisa bebas sepenuhnya dari tagihan ini.


Sementara operasional pembangkit listrik ini memerlukan kotoran sapi yang tidak sedikit, namun untuk memulai proyek ini tidaklah murah, mengubah metan menjadi listrik memerlukan peralatan yang mahal. Biaya untuk menjalankan proyek pembangkit listrik di Audets saja bisa mencapai sekitar US$1,2 juta, itu pun setengahnya ditutupi oleh negara bagian dan hibah dari pemerintah federal.


Walaupun demikian, hasil studi menunjukkan bahwa kotoran sapi merupakan sumber energi yang menjanjikan. Suatu saat akan menjadi sumber yang berguna untuk menopang energi bagi negara-negara berkembang.


Menurut taksiran Farm Bureau, sebuah pabrik susu sapi dengan jumlah sapi 1.500 ekor bisa menghasilkan hingga 1 megawatt listrik, ini cukup untuk keperluan energi 1.000 rumah. Sementara studi yang dilakukan Federasi Pabrik Susu Washington, menyebutkan limbah dari ternak sapi perah dalam satu desa bisa membangkitkan listrik hingga 10 megawatt, cukup untuk menerangi 8.000 rumah.


Membangkitkan listrik dari kotoran sapi memiliki keuntungan lain. Di antaranya, mengekstrak gas dari kotoran ruminansia ini bisa menghilangkan baunya yang menyengat hingga 90 persen. Kotoran yang telah ’dimasak’ juga bisa digunakan sebagai alas tidur bagi hewan dan bermanfaat sebagai kompos. (Dede Suhaya/AP)


Foto: AP



“Pencernaan Anaerob”

TEKNOLOGI untuk mengubah kotoran sapi menjadi metan, merupakan proses yang disebut ”pencernaan anaerob” (anaerobic digestion).

Pencernaan anaerob menggunakan mikroorganisme untuk mengubah kotoran sapi menjadi gas metan. “Teknologi ini sepenuhnya ’ramah petani’ (dan) memerlukan sangat sedikit perawatan dan observasi,” ujar manajer peternakan Hague, David Armstrong.


Teknologi pencernaan anaerob, menurut Wilkie ahli mikrobiologi lingkungan Universitas Florida AS, sudah digunakan di beberapa kota untuk mesin pengolahan air limbah. Mesin limbah air di Tampa menggunakan unit anaerob untuk menjalankan fasilitas itu, sementara mesin di Plantation menggunakan metan untuk bahan bakar armada kendaraannya.


Proses produksinya mampu menghilangkan bau dibanding pengolahan aerobik tradisional yang menggunakan oksigen, sementara sistem anaerob mencegah udara dan bau keluar.


Limbah makanan dari rumah juga bisa digunakan dalam sistem ini.

Teknologi seperti itu bisa memberi energi secara mandiri bagi pabrik susu sapi. Terutama bila keadaan darurat, terjadi bencana misalnya, yang menyebabkan pasokan energi terputus. (DS/ gvillesun.com)***

Sunday, 29 June 2008

Mani Chamba, "Beras Ajaib" dari India


"BELUM makan kalau tidak melahap nasi." Ungkapan ini bukanlah sekadar canda, bagi umumnya rakyat Indonesia --yang notabene makanan pokok sehari-harinya-- meninggalkan kebiasaan makan nasi adalah sesuatu yang mustahil. Namun, apa daya bila mengidap penyakit tertentu, seperti diabetes mellitus, mau tidak mau harus mengurangi porsi makan nasi atau bahkan tidak boleh sama sekali.

Diet, menurut para ahli kesehatan, merupakan tonggak perawatan kesehatan yang menyeluruh bagi penderita diabetes mellitus (DM). Dengan diet yang baik, mampu menekan parahnya penyakit serta menghindari komplikasi akibat penyakit ini. Kalau si penderita sendiri mampu mempertahankan gula darahnya, mampu mengendalikan kadar kolesterol, trigliserida, dan kelainan lainnya, maka penyakit ini bisa dikendalikan dengan baik.

Diet nasi bagi penderita DM sebenarnya tidaklah perlu. Pasalnya kini ada beras herbal ponni taj mahal atau mani chamba yang disebut-sebut mampu mengontrol dan menstabilkan gula darah. Inilah kabar baik bagi penderita DM yang kerap menghindari nasi, yang mereka anggap biang keladi timbulnya penyakit kencing manis ini.

Dibanding dengan beras biasa, beras herbal ponni memiliki sejumlah keistimewaan, yaitu tidak berkanji, rendah glukosa, dan rendah lemak. Selain itu, beras varietas mani chamba ini mengandung serat larut, protein, dan kalsium yang tinggi. Juga kaya akan vitamin dan mineral, seperti vitamin A, B1, C, D, fosfor, dan seng. Sementara kandungan natriumnya sangat kecil, yakni 63% lebih rendah dari beras biasa, sehingga aman bagi penderita darah tinggi.

Data klinis International Diabetes Institute Australia (IDIA), menunjukkan beras tersebut mengandung 24,2% amylose dan 75,8% amylopectin. Semakin tinggi kadar amylose berarti glycemic index-nya lebih rendah. Pada umumya pangan dengan glycemic index rendah, mengandung glukosa dan lemak yang rendah pula.

Hasil penelitian laboratorium di sejumlah negara, seperti Malaysia, Singapura, dan Australia menunjukkan beras ini memiliki kandungan karbohidrat 70 persen lebih rendah dari beras pada umumnya, mengandung kalsium tinggi dan memiliki serat empat kali lebih banyak dibandingkan dengan beras biasa. Apabila telah diolah menjadi beras, karena kadar karbohidratnya sangat rendah, padi ini aman dikonsumsi penderita diabetes, hipertensi, atau osteoporosis.

Disebut "beras herbal" karena beras ini memiliki khasiat bagi kesehatan. Adapun istilah "ponni" mengacu pada ukurannya yang mungil, panjang bulir rata-rata hanya 3 mm. Bandingkan dengan panjang beras biasa yang umumnya 5 - 8 mm.

Padi mani chamba tumbuh baik di dataran berkapur Bangalore, India Selatan. Telah dikonsumsi masyarakat setempat sejak ratusan tahun lalu. Bahkan, mereka mengenalnya sebagai salah satu obat tradisional. Beras ini pun tumbuh alami, dan sama sekali tidak memakai obat-obatan, sehingga bisa digolongkan sebagai padi organik.

Dengan glycemix index atau kandungan karbohidrat yang rendah, beras ini memang cocok bagi penderita DM yang biasanya harus berhati-hati dengan pola makan. Dengan mengkonsumsi beras ini, karbohidrat yang ada di dalamnya langsung dicerna jadi tenaga, tidak mengendap menjadi gula (glukosa) dalam darah.

Sedangkan seratnya yang empat kali lebih banyak dari beras pada umumnya, membantu menyerap kelebihan gula darah serta lemak yang dibuang lewat proses buang air besar. Beras yang juga dijuluki 'the magic rice' atau beras ajaib ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 2002. Selain aman dikonsumsi bagi penderita diabetes, beras ini juga cocok bagi mereka yang menderita hipertensi dan osteoporosis.

Cara menyajikan beras mini ini agak berbeda dari beras umumnya, beras ponni dimasak dengan perbandingan air lebih banyak; 1 gelas beras herbal ponni, harus dimasak dengan 3 gelas air, karena beras ini menyerap air lebih tinggi dari beras biasa. Beras ini pun mengembang 2 kali lebih banyak dari beras biasa. Kadar pengembangannya bisa 3 hingga 5 kali dari ukuran asalnya.

Nasi memang sudah menjadi makanan pokok bagi hampir setengah populasi dunia, kebiasaan yang sangat sulit untuk dilepaskan. Bagi mereka yang harus membatasi asupan karbohidratnya seperti para penderita diabetes, hipertensi, dan obesitas, beras endemik Bangalore ini bisa menjadi solusi yang aman. Beras herbal ponni memang bukan obat, namun paling tidak bisa membuat mereka menjalani kehidupan yang lebih baik. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Dua Tahun Tiga Kali Panen

BERAS ponni memang unik, paling tidak ini ditegaskan Prof Dr Kannaiyan, ahli pertanian dan mikrobiologi dari Tamil Nadu, India Selatan. Keunikannya sudah tampak ketika ia masih tumbuh di area persawahan. Beras kesehatan ini pernah dicoba ditanam di tempat lain, namun setelah diteliti ternyata khasiatnya tidak sama seperti ditanam di tempat asalnya, Davangere, Bangalore, India Selatan.

Mulai masa tanam hingga panen tiba, padi mani chamba membutuhkan waktu delapan bulan. Atau dalam dua tahun, hanya tiga kali panen. Satu hektar padi mani chamba rata-rata menghasilkan enam ton gabah kering. Walaupun tidak memerlukan pupuk apapun, varietas mani chamba tinggi produksi bijinya. Bulir-bulir berasnya tahan disimpan lama hingga dua tahun, bahkan konon semakin lama disimpan, khasiatnya semakin baik.

Tanaman padi varietas mani chamba sesungguhnya telah dikenal ribuan tahun yang lalu oleh orang India, khususnya yang tinggal di India selatan dan barat daya. Mereka secara turun-temurun gemar menanam padi mani chamba karena mengetahui bahwa jenis padi tersebut memang bagus untuk kesehatan, bahkan dianggap memiliki keajaiban. Tak berlebihan kalau orang India menyebutnya si raja beras.

Mencuatnya pamor padi mani chamba tak lepas dari jasa besar Sri Agastyar, seorang mahaguru yoga, pertapa, pujangga, filsuf, dan ahli pengobatan yang hidup sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi. Sri Agastyar membuat catatan tentang aneka tanaman yang berkhasiat untuk kesehatan, termasuk padi mani chamba. Catatan yang sangat berharga itu kemudian diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1860.

Selain faktor alam yang sangat mendukung tumbuh suburnya padi mani chamba, tak kalah pentingnya adalah proses pengolahan pasca-panen. Setelah dipanen, gabah mani chamba dikeringkan selama satu hari. Kemudian gabah diuapkan (di-steam) dalam ketel raksasa selama 5-10 menit pada temperatur 20 hingga 140 derajat Celcius. Perlakuan ini bertujuan mempertahankan kandungan vitamin dan mineral pada kulit ari agar terserap ke dalam biji beras.

Setelah di-steam, gabah kembali dikeringkan selama dua hari. Setelah benar-benar kering, gabah digiling. Tidak berhenti sampai di sini, setelah sekam gabah terkelupas, butir-butir beras masih harus dipoles dan dibersihkan hingga 3 kali. Namun, kandungan nutrisi beras herbal ponni ini tetap kekal.

Setelah dikemas dengan baik, beras herbal ponni diimpor ke Singapura, Malaysia, Hongkong, Taiwan, Brunei Darussalam, Australia, Selandia Baru, dan juga Indonesia. Di Australia, beras ini dikenal dengan sebutan "pearl grain herbal rice". Sementara di Tanah Air dikenal dengan nama herbal ponni taj mahal. (DS/dari berbagai sumber)


Saturday, 28 June 2008

Para Kandidat Biodiesel

Biodiesel adalah bahan bakar yang berasal dari makhluk hidup, kebanyakan merupakan minyak nabati (tumbuhan). Biodiesel biasanya digunakan sebagai campuran/dioplos dengan solar, atau sepenuhnya menggantikan petroleum diesel tersebut. Bukankah ketika mesin diesel tercipta seabad silam oleh Rudolf Diesel juga memanfaatkan minyak kacang tanah sebagai bahan bakarnya.

Setidaknya ada 60 macam tumbuhan yang berpotensi sebagai bahan baku biodiesel di antaranya adalah jarak, kelapa sawit, randu, nyamplung, kelapa, jagung, singkong, nimba, kakao, kayu manis, kelor, kemiri, padi, pepaya, rambutan, sirsak, srikaya, wijen, kecipir, karet, kosambi. Yang sudah diteliti dan diterapkan sebagai bahan bakar adalah pohon jarak dan kelapa sawit.

Untuk menjadi bahan bakar, minyak nabati yang dihasilkan karakteristiknya mesti menyerupai solar.
Kelapa sawit memang cukup melimpah di negeri ini, namun tidak terlalu diandalkan untuk bahan biodiesel, karena selama ini juga dibutuhkan oleh industri pangan, selain juga membeku pada suhu 16 derajat C.

Para ahli menyarankan minyak jarak pagar (Jatropha curcas) sebagai alternatif paling potensial. Soalnya, kadar minyaknya relatif tinggi, 30% per kg biji kering dan tidak dikonsumsi. Minyak jarak membeku pada suhu 3 derajat C.
Nyamplung (Callophyllum inophyllum) dengan kadar minyaknya yang tinggi (40 - 73%) banyak dilirik, namun ketersediaan biji masih terbatas.

Satu lagi yang cukup menjanjikan adalah kapok atau randu (Ceiba petandra).
Nimba atau mimba, bisa juga diekstrak menjadi biodiesel, daging biji Azadirachta indica ini 50% mengandung minyak lemak. Hasil ekstraksi alkohol pada daging biji nimba, bila diperah menghasilkan minyak nimba. Melalui proses metalonisis atau etalonisis alias penghancuran alkohol akan dihasilkan biodiesel yang cukup berkualitas.

Jagung juga berpotensi sebagai biodiesel. Biji, kulit dan batangnya mengandung etanol. Unsur ini dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan atau dicampur dengan bensin menjadi gasohol (gasoline alcohol). Kelebihan etanol sebagai bahan bakar, tingkat oktannya tinggi (104 RON) dibanding bensin (95-98 RON). Bila dicampur dengan bensin, kadar oktan bensin akan terdongkrak, sehingga kinerja mesin pun meningkat. Penggunaan gasohol pun membuat busi dan pelumas tetap bersih karena pembakaran lebih sempurna.

Selain dari jagung, gasohol juga bisa dihasilkan dari singkong, yang diproses menjadi ethanol anhydrous 99% atau bioetanol fuel grade. Gasohol singkong ini bisa dicampur dengan bensin hingga 20%, sebagai aditif atau bahkan 100% sebagai pengganti BBM kendaraan tanpa mengubah mesin.

Anda kenal kakao (Theobroma cacao), di balik kelezatannya juga tersimpan manfaat sebagai kandidat biodiesel. Biji kakao mengandung 54-58% minyak lemak. Seperti juga jagung, minyak kakao mengandung etanol yang juga berpotensi sebagai biofuel.


Jangan dilupakan, ekstrak biji alpukat juga mengandung asam lemak methyl ester yang berpotensi sebagai bahan bakar alternatif, biodiesel alpukat. Ini sudah dicoba di AS pada sebuah bus yang berbahan bakar avocado biodiesel. Karena kadar belerang minyak alpukat ini kurang dari 15 ppm, pembakaran akan berlangsung sempurna, sementara emisi CO dan CO2 ke lingkungan bisa dikurangi.
Berbagai penelitian banyak mendukung penggunaan minyak alpukat ini sebagai biodiesel. Alpukat mengandung lemak nabati yang tersusun dari senyawa alkyl ester. Bahan ester ini komposisinya mirip dengan diesel solar.

Kelapa sawit telah lama ditetapkan sebagai bahan bakar alternatif. Hasil perasannya mengandung senyawa yang tergolong monoalkil ester atau metil ester dengan panjang rantai karbon 12 - 20. Inilah bedanya dengan minyak solar yang komponen karbonnya dominan. Di Indonesia penelitian palm biodiesel dirintis sejak 1992, hasil uji coba menunjukkan kinerjanya hampir mirip dengan solar. Bahkan penggunaan minyak sawit mampu menekan emisi CO dan bebas sulfur.

And the winner is... jarak. Inilah kandidat terkuat yang akan muncul sebagai pemenangnya. Berbagai kalangan banyak mempertimbangkan pohon jarak ini, dari segi ekonomi jauh lebih murah dibanding CPO (crude palm oil), yang cukup banyak tapi mahal. Menurut perhitungan para peneliti, harga minyak jarak jauh lebih ekonomis dan kompetitif.


Kendala minyak jarak ada pada pasokan bahan baku. Saat ini areal penanaman jarak masih terbatas, padahal untuk menghasilkan 15.000 liter/hari saja dibutuhkan 2.700 ha lahan. Jika kebutuhan mencapai 2 juta kiloliter, perlu 2 - 3 juta ha lahan. Artinya harus tersedia lahan pertanaman jarak minimal 500.000 ha per tahun.


Untuk menghasilkan 1 liter biodiesel saja diperlukan 2,5 kg biji kering. Sementara pemanfaatan biji dari tanaman nonunggul hanya menghasilkan biji jarak 2-3 kg/pohon/tahun. Artinya setiap hektar lahan yang terdiri dari 2.000-2.500 tanaman hanya menghasilkan 4-5 ton biji kering atau mengeluarkan 1.000-1.500 liter biodiesel/tahun. Untuk menanam jutaan bibit jarak jelas dibutuhkan lahan yang sangat luas. Oleh karenanya program penanaman jarak harus didukung berbagai pihak, terutama pemerintah daerah.

Tidak ada yang menyangkal industri biodiesel butuh modal ratusan juta bahkan triliunan rupiah. Namun, bila semua kendala bisa diatasi bukan tidak mungkin di tahun 2010 semua mesin diesel di Indonesia sudah menggunakan biodiesel.
Sudah saatnya kita kembali ke khittah sebagaimana mesin diesel pertama bisa jalan dengan minyak kacang tanah. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Tanaman Sumber Biodiesel


Jarak pagar (Jatropha curcas), sumber inti biji; kadar (%): 40 - 60

Jarak kaliki (Ricinus communis) biji 45 - 50
Kelapa sawit (Elaeis guineensis) sabut, daging buah 45-70, 46-54

Kapok/randu (Ceiba petandra) biji 24 - 40

Jagung (Zea mays) lembaga lk. 33

Nimba (Azadirachta indica) daging biji 40 - 50

Nyamplung (Callophyllum inophyllum) inti biji 40 - 73

Alpukat (Persea gratissima) daging buah 40 - 80

Kacang tanah (Arachis hypogea) biji 35 - 55

Kakao (Theobroma cacao) biji 54 - 58

Kayu manis (Cinnamomum burmanni) biji lk. 30

Kelapa (Cocos nucifera) daging buah 60 - 70

Kelor (Moringa oleifera) biji 30 - 49

Kemiri (Aleurites moluccana) inti biji 57 -69


Sumber: dari berbagai sumber

Friday, 27 June 2008

Ketika Pasar Tak Lagi "Menyerap"

BAGI sebagian besar pekebun, kelebihan pasokan hasil pertanian akibat panen raya atau panen secara bersamaan tak ubahnya sebagai "bencana" yang tak dapat dihindari. Kita kerap mendengar petani tomat di Jawa Barat yang memilih tidak memanen buahnya, lantaran harga jual lebih kecil ketimbang biaya panen. Seorang pengepul cabe mesti gigit jari karena produknya gagal bongkar muat di pasar induk, karena pedagang di sana tak lagi mampu menampung karena pasokan melimpah.

Bila tiba bulan September - Desember, di beberapa sentra mangga sedang melimpah, pasar ekspor dan dalam negeri pun tak mampu lagi menyerap hasil produksi, setiap panen raya bisa sekitar 30% dari total produksi mangga tak terserap pasar. Akibatnya harga jual di tingkat pekebun melorot drastis. Bahkan di tingkat pedagang buah-buahan "banjir"nya produk musiman seperti mangga, rambutan, atau duku malah bisa memukul penjualan komoditi lain yang stabil misalnya pisang, harganya bisa "terjun" atau tidak ada yang beli sama sekali.

Melimpahnya buah-buahan di beberapa daerah di Indonesia boleh dikatakan upaya pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal. Para pengusaha yang bergerak di bidang agribisnis cenderung sekedar menjual buah-buahan tanpa usaha pengolahan lebih lanjut, menjadi sebuah produk makanan olahan. Misalnya dengan mengolah buah-buahan menjadi produk jenang atau dodol, manisan, selai, asinan, bubur (puree), jus atau mengolahnya menjadi kripik buah. Tampaknya masih sedikit pelaku agribisnis yang melakukan diversifikasi usaha pengolahan buah menjadi produk-produk olahan. Padahal dengan melakukan 'sedikit' upaya mengolah buah-buahan segar menjadi produk makanan, kita dapat memperoleh banyak keuntungan; produk buah-buahan menjadi tahan lama, harganya lebih mahal sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan pendapatan, dan tidak menutup kemungkinan untuk diekspor.

Sebagai gambaran, untuk produk kripik buah, misalnya. Di tingkat produsen lokal harga kripik nangka bisa mencapai Rp 45.000 hingga Rp 50.000 per kilogramnya. Atau tengok pengolahan mangga menjadi bubur mangga (puree), yang dilakukan seorang pengusaha di Cirebon, dari 1 kg puree ia bisa mengantongi laba bersih Rp 3.000 - Rp 4.000/kg. Di pasar swalayan puree mangga dijajakan seharga sekitar Rp 14.000/kg. Dengan pengolahan ini selain nilai tambah berlipat, pekebun juga tak perlu khawatir buahnya terbuang percuma.


Tak dipungkiri, banyak kendala untuk memulai bisnis makanan olahan berbasis buah-buahan ini. Di antaranya ada persepsi dari sebagian besar orang yang menganggap produksi buah olahan membutuhkan investasi yang tinggi terutama dalam pengadaan mesin dan peralatan lainnya, prosesnya yang panjang dan lama, serta ada anggapan menjalankan usaha seperti ini harus memiliki skill tinggi untuk menjalankan alat atau mesin pengolah buah-buahan.


Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Untuk menghasilkan produk buah olahan tidak perlu waktu yang lama. Prosesnya cukup sederhana tak perlu keterampilan tinggi. Pada dasarnya semua orang dapat melakukannya. Proses pembuatan kripik buah, misalnya, bisa dimulai dengan memilih buah yang berkualitas, seperti kondisi fisik yang bagus serta kadar gulanya tinggi. Kemudian, buah dikupas kulitnya dan dicuci sampai bersih. Baru setelah itu, buah dipotong-potong dengan ukuran yang dikehendaki. Sampai di sini proses pengerjaan sepenuhnya dilakukan tenaga manusia.


Selanjutnya tahap pengolahan menggunakan mesin. Buah-buahan yang telah dipotong-potong (atau dibiarkan bentuk aslinya seperti nangka) dimasukkan ke dalam mesin penggoreng hampa atau terkenal dengan sebutan vacuum fryer. Waktu yang diperlukan mulai dari proses sortasi buah hingga pengemasan tidak lebih dari dua jam. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber
)***

Vacuum Fryer, Penghasil Kripik Buah


UNTUK menggoreng buah-buahan yang akan dijadikan kripik, lebih praktis menggunakan mesin yang dinamakan vacuum fryer atau mesin penggoreng hampa. Kita tidak mungkin menghasilkan produk buah olahan berupa kripik menggunakan alat penggoreng biasa. Hampir semua komoditi buah-buahan memiliki kandungan gula (glukosa) yang cukup tinggi.

Karenanya, bila kita menggoreng menggunakan alat penggoreng biasa, keinginan untuk mengubah buah menjadi kripik tidak akan tercapai, justru buah yang kita goreng malah meleleh seperti jelly. Kalaupun kering buahnya menjadi gosong dan tidak layak untuk dikonsumsi apalagi dijual.

Dengan teknologi terapan mesin penggoreng sistem vakum, kita bisa menurunkan titik didih minyak goreng sehingga buah-buahan berkadar air tinggi yang diolah menjadi keripik tidak mudah hangus. Untuk menggoreng buah-buahan, seperti nangka atau mangga, paling tidak diperlukan minyak panas bersuhu antara 175 hingga 200 derajat celcius. Dengan temperatur setinggi itu air yang terkandung dalam buah-buahan akan diuapkan dan struktur daging buah pun mengering.


Teknologi mesin vacuum fryer kini berkembang dengan pesat. Banyak perusahaan memproduksi jenis mesin ini dengan pilihan kapasitas produksi 1,5 hingga 40 kg, memanfaatkan sistem vakum pompa maupun water jet, lama proses bisa 60 - 90 menit, dengan kontrol suhu secara otomatis, daya listrik 1.300 watt - 2.000 watt, alat yang sepenuhnya stainless steel ini harga per unitnya Rp 11 juta - Rp 59 juta (tergantung kapasitas input).


Dengan vacuum frying tekanan udara luar sebesar 1 cmHg dapat ditekan hingga -76 cmHg. Alhasil, titik didih minyak goreng dapat diturunkan dari 175-200 derajat celcius menjadi 90 derajat celcius. Konsekuensinya, waktu penggorengan jadi lebih lama bila dibandingkan dengan cara menggoreng biasa. Jika kita mengunakan penggoreng biasa kita hanya membutuhkan waktu 5-10 menit untuk bisa menghasilkan keripik, dengan menggunakan mesin vakum ini bisa memakan waktu sekitar 1 jam. Namun demikian, kita akan mendapatkan banyak kelebihan. Hasil produk menjadi lebih bagus. Kripik tidak gosong, tetap cerah seperti warna aslinya. kecil kemungkinan terjadi oksidasi pada produk buah olahan yang dihasilkan. Serta kandungan vitamin dari buah olahan tidak rusak.


Kelebihan lainnya adalah, dengan turunnya titik didih menjadikan minyak memiliki umur pakai lebih lama. Dengan menggunakan mesin penggorengan hampa, minyak goreng yang dipakai dapat digunakan hingga 60 kali penggorengan. Selain itu, mesin penggorengan tidak mudah terkena korosi, sebab uap air yang dihasilkan dari penggorengan dikondensasikan dan disedot keluar lewat pipa kapiler. Dengan mekanisme semacam ini secara otomatis membuat mesin menjadi lebih awet.


Mengoperasikan mesin vacuum fryer tidaklah terlalu sulit. Yang kita lakukan 'hanya' memasukkan minyak goreng ke dalam mesin dengan jumlah tertentu, tanpa bahan pengawet, tanpa bahan kimia tambahan, kemudian memasukkan buah yang telah diiris-iris ke dalam mesin, lalu kita tunggu sampai matang, antara 55 hingga 75 menit.


Berkat mesin yang efektif dan efisien ini kita bisa segera menjagi pengusaha berbagai aneka kripik buah dan sayuran. Satu mesin bisa dipakai untuk membuat kripik nangka, kripik nanas, kripik mangga, kripik melon, kripik pepaya, kripik salak, kripik apel, dll. Kripik yang dihasilkan sangat memuaskan, karena tidak mengubah warna aslinya, rasanya renyah, tampilan menarik, rasanya enak, dan disukai konsumen.


Patut dicoba bisnis produk buah olahan ini. Selain nilai investasi yang harus ditanamkan tidaklah terlalu tinggi, income yang anda dapatkan pun cukup menggiurkan. (DS/dari berbagai sumber)***

Thursday, 26 June 2008

”Si Rumput Ajaib” yang Multiguna



DALAM beberapa tahun terakhir ini proporsi penggunaan jagung oleh industri pakan telah mencapai 50% dari total kebutuhan nasional. Dalam 20 tahun ke depan, penggunaan jagung untuk makanan ternak ini diperkirakan terus meningkat mencapai 60% dari total kebutuhan nasional.

Ditinjau dari sumberdaya lahan dan ketersediaan teknologi, Indonesia memiliki peluang untuk berswasembada jagung dan bahkan bisa menjadi pemasok di pasar dunia, mengingat makin meningkatnya permintaan dan menipisnya volume jagung di pasar internasional.


Lain di Tanah Air lain pula di negara-negara industri, di sana jagung tidak melulu untuk bahan pangan dan pakan, tapi sudah merambah ke kawasan industri berteknologi tinggi. Jagung telah menjadi tanaman multiguna, sekurangnya ada 2.500 produk berbahan dasar Zea mays ini. Namun demikian, para produsen di seluruh dunia tak henti-hentinya mengeksplorasi nilai tambah dari “rumput ajaib” ini.

Di Amerika Serikat, misalnya, dalam keseharian warganya sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari produk-produk yang dihasilkan dari jagung. Mulai dari pemanis buatan hingga bahan bakar kendaraan. Dalam kenyataannya, di Negeri Paman Sam pemanfaatan jagung untuk konsumsi manusia, malah menempati persentase yang kecil dari seluruh penggunaan jagung.


Bahan Bakar Ethanol


Ethanol merupakan kisah sukses para pertani AS dalam mempersembahkan bahan bakar alternatif nan ramah lingkungan. Sebelas persen dari produksi jagung AS telah berubah menjadi ethanol, sementara sisanya diekspor. Di AS ethanol berbasis jagung memegang peranan utama dalam ekonomi negeri ini; selain menawarkan keamanan energi untuk menggantikan impor BBM-nya yang bernilai USD 2 miliar, juga menciptakan kesempatan berbisnis bagi petani dan komunitas jagung.

Di AS perluasan produksi ethanol meningkatkan permintaan substrat, dalam hal ini jagung, yang akan meningkatkan pendapatan petani AS $ 2,3 miliar antara tahun 2000 - 2004. Peningkatan aktivitas ekonomi akibat perluasan produksi ethanol pun meningkatkan pendapatan rumah tangga mencapai AS $ 2,5 miliar. Lebih dari 47.800 lapangan kerja baru tercipta. Bidang lain juga terkena imbas positif. Di sektor industri transportasi terbuka 2.300 lapangan kerja baru, di bidang konstruksi 1.300, di sektor
retail trade 3.200, dan lebih dari 11.000 lapangan kerja dalam industri jasa.

Bahan bakar campuran ethanol mengakomodasi 18 persen dari seluruh BBM otomotif di AS. Ethanol merupakan BBM berperforma tinggi karena memiliki angka oktan 113. Selain juga bahan bakar campuran ethanol tidak meninggalkan deposit, sehingga menjaga sistem bahan bakar mobil tetap bersih.


Ethanol diproduksi dengan memanfaatkan mikroorganisme seperti ragi (
Saccharomyces cerevisiae), Clostridium sp., dan Zymomonas mobilis. Mikroorganisme jenis ini sanggup memfermentasi karbohidrat (glukosa, fruktosa, atau sukrosa).

Salah satu produk turunan jagung yang sukses selain ethanol adalah plastik dari jagung yang lebih dikenal dengan sebutan plastik PLA (
polyactic acid). Polimer yang diturunkan dari jagung ini digunakan untuk membuat serat-serat sintetis dan plastik yang mudah terurai di alam. Plastik PLA di negara-negara maju sudah digunakan dalam kesehariannya, seperti untuk membungkus bunga potong, bungkus roti dan wadah makanan lainnya. Produk jagung juga bisa ditemukan juga dalam bentuk pakaian, tempat tidur dan karpet.

Menurut data Dinas Indagro, di Jawa Barat produksi jagung mencapai 400 ribu ton pipilan kering per tahun. Kendati jumlah ini masih relatif kecil bila dibandingkan provinsi lain, namun komoditi tersebut mempunyai nilai ekonomis strategis. Dari catatan Dinas Indagro Jabar, ada sebanyak 300 jenis makanan olahan dari jagung.

Inilah menjadi bahan pemikiran bersama. Khususnya di Jawa Barat, kemajuan pemanfaatan jagung di negara-negara maju mesti menjadi inspirasi untuk membangun dan mengembangkan industri penganekaragaman produk makanan olahan berbahan baku jagung ini. Dengan dibangunnya sistem industri pengolahannya, masyarakat diharapkan dapat memperoleh tambahan pendapatan yang cukup dan memadai. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Wednesday, 25 June 2008

Bercocok Tanam Tak Selalu di Tanah


BERCOCOK tanam secara konvensional, melalui media tanah, memang begitu simpel karena telah mengandung zat-zat makanan, tanah merupakan tempat dimana akar-akar tanaman hidup dan mampu menyokong struktur tanaman. Namun dengan media tanah, juga terbukti mengandung banyak permasalahan; melibatkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit dalam mempersiapkan lahan, mengatur irigasi, pemeliharaan tanaman, pemupukan, pembasmian hama dsb. Bukan hal yang aneh bila ternyata hasil panen yang didapat tidak sebanding dengan segala pengorbanan itu. Lebih celakanya bila panen gagal, maka seluruh waktu, tenaga dan biaya akan terbuang percuma. Petani pun akan gigit jari.

Teknologi hidroponik, menawarkan cara bercocok tanam yang lebih baik dan cerdas. Teknik berkebun yang lebih mudah dan murah, bahkan di lahan sempit sekalipun. Tanaman hidroponik bersifat portabel, mudah dipindah-pindah, mudah diaplikasikan, dan hampir bebas perawatan. Kebanyakan bertani secara hidroponik sedikit menggunakan air dan produksinya lebih cepat, dengan hasil yang besar, tentunya dalam lingkungan yang bebas hama. Segalanya dikerjakan menggunakan bahan portabel yang mudah dirakit.

Secara etimologi, kata hidroponik (hydroponics) diturunkan dari kata Yunani hudor yang berarti air, dan ponos yang berarti pekerjaan, jadi arti hidroponik adalah bekerja dengan air. Teknik hidroponik telah digunakan hampir 300 tahun lalu oleh orang yang bernama John Woodward. Di tahun 1944 pemerintah AS mulai menggunakan teknik hidroponik untuk ransum pasukannya ketika berkecamuk Perang Pasifik. Bayangkan, 0,6 acre menyediakan cukup sayuran untuk 400 orang setiap harinya.

Hidroponik artinya bekerja dengan air. Dalam praktiknya hidroponik adalah menumbuhkan tanaman di dalam larutan nutrisi tanpa media tanah. Ditinjau dari segi sains, hidroponik telah membuktikan bahwa tanah tidak diperlukan untuk menumbuhkan tanaman kecuali unsur-unsur, mineral dan zat-zat makanan seperti dalam tanah. Dengan mengeliminasi tanah, berarti mengeliminasi hama/penyakit, tanaman pengganggu yang berasal dari tanah, dan mengurangi pengendalian secara teliti nutrisi tanaman. Dalam larutan hidroponik, sudah tersedia zat-zat makanan yang tepat untuk tumbuhan dengan perbandingan yang benar sehingga dapat mengurangi stres pada tanaman, lebih cepat matang dan, panen pun dimungkinkan dengan kualitas yang lebih bagus.

Ada banyak variasi bercocok tanam secara hidroponik ini, bisa disebutkan di antaranya metode tetesan (drip), sistem NFT (nutrient film technique), sistem float, flood and drain, aquaponik, aeroponik dan sistem pasif. Dalam skala komersial, yang paling banyak diadopsi adalah metode tetes dan NFT.

Sistem tetes atau substrat bisa digunakan untuk budidaya tanaman berumur panjang seperti tomat, mentimun dan cabai. Dalam sistem ini, nutrisi atau zat-zat makanan diantarkan ke tumbuhan lewat tetesan dalam jangka waktu tertentu. Alat penetes biasanya diatur agar menetes sekitar 10 menit setiap jam tergantung pada tahap berkembangnya tanaman dan banyaknya cahaya. Daur tetes menyiram media tanam, untuk menyediakan nutrisi segar, air dan oksigen bagi tanaman.

Dalam sistem tetes komersial, akar-akar tanaman biasanya tumbuh di dalam media batu perlit atau rockwool. Variabel utama sistem drip ada pada media tanam dan wadahnya. Sebagai contoh adalah sistem ember yang berisi perlit. Setiap ember berisi batu perlit dan satu atau dua tanaman. Dalam metode ini, parit atau lubang dibuat pada wadah untuk mengalirkan larutan nutrisi yang berlebih. Saluran di bawah ember akan menampung kelebihan tersebut.

Dalam teknik NFT atau teknik lapisan tipis, tanaman ditumbuhkan pada saluran (pipa) yang mana larutan nutrisi dipompa untuk melewatinya. Akar-akar tanaman dijaga agar tetap basah dengan selapis tipis larutan nutrisi yang melewatinya

Biasanya saluran NFT dialiri nutrisi terus menerus pada kecepatan sekitar 1 liter per menit. Di kebanyakan sistem NFT, larutan nutrisi dicampur pada penampung utama (reservoir), berputar melewati saluran dan kembali ke penampung. Dengan beberapa pengembangan, reservoir nutrisi bisa diatur secara otomatis, begitu juga aerasi dan pengaturan pH-nya.

NFT ideal untuk lettuce, sayuran daun, herba, dan semua tanaman berumur pendek. Untuk sayuran berumur panjang, saluran NFT bisa dibuat lebih besar. (Dede Suhaya/www.aquaponics.com)***

Cara Gampang Ber-Hidroponik

SAYURAN daun, semi-head lettuce dan tanaman berumur pendek lainnya bisa dibudidaya dengan teknik hidroponik sederhana dan murah, tak perlu pasokan listrik ataupun pompa. Peralatan murah ini bisa dipersiapkan dalam waktu sekitar 10 menit, dan sedikit perhatian untuk 5-6 minggu selanjutnya, pada saat tanaman dipanen. Tak perlu tambahan pupuk atau air—sistem hidroponik botol plastik ini sudah mengandung cukup zat-zat makanan dan air untuk tanaman berumur pendek hingga panen. Namun perlu diingat, metode ini tidak cocok untuk tanaman berumur panjang seperti mentimun dan tomat, yang memerlukan banyak air.

Pekebun bisa menggunakan metode ini untuk budidaya di lahan terbatas seperti halaman rumah, serambi, atau di bawah atap bangunan. Metode ini juga cocok bagi para guru dalam menerangkan konsep pertumbuhan tanaman pada murid-muridnya. Bahkan para peneliti dan petani bisa memanfaatkan kit hidroponik ini untuk studi nutrisi, tes pestisida, dan produksi benih.

Bahan-bahan yang diperlukan cukup sederhana, sediakan botol plastik bekas jus atau botol lain yang berukuran tinggi lk. 3 inchi dengan bukaan botol 1,5 inch; 1 sendok teh pupuk hidroponik (misalnya Chem-Gro, More Grow atau yang sama, bisa dibeli di toko-toko hidroponik atau pertanian); 1 pot keranjang (net pot) berdiameter 1,5 inch, tinggi 3 inchi; media tanam (peat, perlite, vermiculite, atau coir); dan benih tanaman berumur pendek (seperti lettuce atau pekchoy).

Net pot bisa didapatkan di toko-toko hidroponik atau toko pertanian. Bisa juga dipakai tabung plastik yang berukuran sama kemudian diberi lubang-lubang.

Pot keranjang ini digunakan sebagai tempat media tanam, ditenggelamkan pada saat penanaman agar media basah, dan lubang-lubangnya pas untuk menerobosnya perakaran mencapai dasar botol.

Sebelum digunakan bilas botol plastik dengan air sampai bersih. Masukkan pupuk hidroponik sebanyak satu sendok teh ke dalam botol. Tambahkan air sekitar seperempatnya ke dalam botol dan kocek hingga pupuk melarut. Kemudian tambahkan air sekitar 1,5 inchi dari atas. Sekarang isi pot keranjang dengan media tanam, usahakan agak longgar jangan terlalu padat.

Letakkan pot keranjang yang sudah berisi media tanam ke dalam botol yang sudah berisi larutan nutrisi. Pot ini harus pas di lubang botol dan tak ada celah. Media tanam akan menyerap larutan nutrisi melalui daya kapilernya. Jika media tanam masih ada yang kering, tambahkan 1 atau 2 sendok teh air ke dalam media.

Buat lubang sedalam seperempat inchi di media tanam basah ini. Tanamkan 1 - 2 benih lettuce atau pakchoy. Tutup benih secara perlahan. Benih ini akan berkecambah selama 2-4 hari.

Tempatkan botol berisi benih ini di tempat yang banyak menerima cahaya namun lindungi dari angin dan hujan. Lokasi yang baik bisa di bawah atap rumah, serambi, atau di rumah kaca. Alangkah baiknya bila botol dicat atau tempatkan di dalam kantong supaya cahaya tidak masuk ke botol yang bening. Karena alga hijau bisa tumbuh di botol dan akan memperlambat pertumbuhan tanaman.

Biarkan botol hidroponik ini selama 5-6 minggu. Jangan menarik net pot dari botolnya—perakaran bisa rusak. Juga jangan lagi menambah air atau pupuk.

Setelah tanaman dipanen, keluarkan bekas-bekas akar dari media tanam. Cuci botol. Dan Anda siap untuk mulai menanam lagi. (DS/www2.ctahr.hawaii.edu)

Saturday, 21 June 2008

"Hit and Run", Gaya Pestisida Nabati


Satu lagi komponen penting dari konsep pertanian organik ramah lingkungan, yakni pembasmian hama dan penyakit tanaman dengan pestisida nabati.

PEMBASMIAN hama dengan cara pestisida nabati bukanlah konsep baru yang dipicu oleh maraknya pertanian organik akhir-akhir ini. Namun upaya ini telah ada sejak dulu, pestisida nabati lahir dari kearifan nenek moyang kita dalam menyikapi mewabahnya hama dan penyakit tanaman.

Sayangnya, ketika produk kimia beredar luas di pasaran, cara bijak itu pun dikesampingkan. Memang pestisida sintetis ini memiliki keunggulan dalam hal kecepatan dan efektivitasnya, namun efeknya yang bisa meracuni lingkungan mengembalikan kesadaran kita untuk memanfaatkan unsur-unsur dari alam dalam membasmi organisme pengganggu tanaman (OPT) tersebut.

Sejauh ini pemakaian pestisida nabati aman bagi manusia, hewan, dan lingkungan. Inilah keunggulan pestisida nabati yang sifatnya hit and run (pukul dan lari), yaitu bila diaplikasikan akan membunuh hama pada saat itu juga dan setelah itu residunya akan cepat menghilang/terurai di alam. Karena sifatnya yang mudah terdegradasi ini pestisida nabati harus sering disemprotkan pada tanaman.

Alam memang telah menyediakan bahan-bahan pestisida tersebut. Berbagai penelitian membuktikan beberapa tanaman mampu membasmi atau mengusir hama dan penyakit tanaman, bahan-bahan alamiah tersebut hadir dalam jaringan tumbuhan seperti daun, bunga, buah, kulit dan kayunya.

Tercatat ada 2.400 jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam 234 famili dilaporkan mengandung bahan pestisida (Ir. Agus Kardinan, MS, Pestisida Nabati, Ramuan & Aplikasi, 1999). Tumbuh-tumbuhan ini dikelompokkan ke dalam: tumbuhan insektisida nabati, tumbuhan atraktan, tumbuhan rodentia nabati, tumbuhan moluskisida nabati dan tumbuhan pestisida serba guna.

Tumbuhan insektisida nabati adalah pengendali hama serangga. Contoh tumbuhan ini di antaranya piretrum (krisan), babadotan, bengkuang, bitung, jeringau, saga, serai, sirsak dan srikaya. Kemudian tumbuhan antraktan (pemikat) yang mampu menghasilkan bahan kimia menyerupai feromon. Di antara jenis tumbuhan ini adalah daun wangi (Melaleuca bracteata L.) serta selasih.

Sementara tumbuhan yang bisa digunakan sebagai pengendali roden (tikus, babi dll) adalah gadung KB dan gadung racun. Untuk jenis tumbuhan moluskisida nabati atau pembasmi moluska bisa dipakai tefrosia, tuba, dan sembung. Sementara pestisida serba guna (insektisida, fungisida, bakterisida, moluskisida, nematisida, dll) bisa diwakili oleh jambu mete, lada, nimba, mindi, tembakau, dan cengkih.

Untuk menghasilkan bahan pestisida nabati siap pakai dapat dilakukan secara sederhana. Pertama, dengan teknik penggerusan, penumbukan, pembakaran, atau pengepresan untuk menghasilkan produk berupa tepung, abu, atau pasta. Kedua, dengan teknik rendaman untuk menghasilkan produk ekstrak. Ketiga, dengan cara ekstraksi menggunakan bahan kimia.

Pestisida nabati dapat dibuat secara sederhana dan mudah dengan biaya murah sehingga dapat menekan biaya produksi pertanian. Dari pengalaman beberapa petani, pemakaian pestisida nabati bisa menekan ongkos produksi sampai 40%.

Mengapa beberapa tumbuhan bisa bersifat pestisida? Ini terletak pada zat aktif yang dikandung tanaman tersebut. Sebagai gambaran adalah tanaman nimba (Azadirachta indica). Tanaman ini mengandung bahan aktif azadirachtin, meliantriol, salannin, dan nimbi. Kombinasi bahan aktif ini disinyalir mampu mengurangi serangan ulat tanah Agrotis epsilon, belalang, aphids, dan ulat grayak Spodopthera exigua. Nimba mempengaruhi reproduksi, penolak, penarik, antimakan, dan menghambat perkembangan hama serangga. Total ada sekitar 40 jenis serangga yang bisa ditanggulangi nimba ini.

Di balik kecantikan bunga krisan (Chrysantemum cinerariaefolium) ada potensi untuk mengganyang hama lalat. Rahasianya terletak pada zat piretrin yang bersifat racun. Sebanyak 25 g serbuk krisan yang dilarutkan dalam 10 l air, kemudian dicampur dengan 10 cc deterjen cair atau sabun colek. Setelah diendapkan semalam dan disaring kain halus, semprotan larutan ini mampu membunuh hama kubis dalam 24 jam.

Zat aktif piretrinnya mampu merusak sistem saraf hama. Zat itu bekerja sangat cepat (rapid in action) dan menimbulkan gejala kelumpuhan yang mematikan.
Semprotan air perasan daun picung, suren, dan biji nimba bisa menjadi alternatif dalam mengusir wereng.

Menurut literatur, picung (Pangium edule) mengandung minyak atsiri beracun yang digunakan sebagai insektisida nabati. Sementara suren (Toona sureni) kaya akan kandungan surenon, surenin, dan surenolakton yang berperan sebagai penghambat pertumbuhan, insektisida, dan antifeedant (penghambat daya makan) terhadap larva serangga. Bahan ini juga terbukti sebagai repellant (pengusir) nyamuk.

Nimba, bunga krisan, picung, dan suren hanya sebagian dari jajaran "si pembasmi kejahatan" itu. Tentunya masih banyak lagi dan tidak akan cukup untuk diuraikan dalam tulisan pendek ini, sebagai pengetahuan beberapa tumbuhan itu didaftar di bawah ini. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Si Penebar Maut Itu


DAUN brotowali bisa mengatasi lalat buah, bila ditambah kecubung wulung dapat mengendalikan ulat grayak atau hama penggerek batang.

Nimba pembasmi ulat tanah Agrotis sp, belalang, aphids, dan ulat grayak

Daun mimba dan sirih mengatasi antraknosa pada cabe merah

Larutan/parutan jahe, cengkeh untuk mengusir serangga, mengatasi Plutella xylostella pada kubis

Umbi bawang putih dan bawang merah bisa mengendalikan serangan ngengat dan kupu-kupu, Alternaria porii, dan layu fusarium.

Daun mindi mengatasi ulat grayak Spodoptera sp. dan ulat daun Plutella xylostella

Daun cocor bebek menanggulangi larva ulat daun Plutella xylostella

Daun dan biji suren bisa membasmi walangsangit, hama daun Eurema sp

Akar dan daun serai wangi ampuh terhadap aphids dan tungau

Daun babadotan membasmi ulat

Daun cengkih sebagai fungisida

Umbi gadung memberantas aphids, tikus

Buah maja untuk mengusir walangsangit

Buah mengkudu sebagai larvasida

Kulit batang pasak bumi musuhnya lalat buah

Daun tembakau ampuh terhadap aphids

Teh basi untuk mengusir semut.

(DS/berbagai sumber)***

Friday, 20 June 2008

Segudang Manfaat Beras Merah



KAPAN terakhir kali anda makan nasi merah? Mungkin sudah lupa tuh, atau kalau ingat pernah ketika masih anak-anak, atau sewaktu masih bayi umur 6 bulan. Kini yang pasti, menurut pengamatan, beras merah sudah jarang ditemui atau diperdagangkan di pasaran, apalagi dikonsumsi. Apa penyebabnya? Tidak diketahui secara pasti, mungkin saja karena tidak ada yang mau membudidayakannya atau karena sedikit peminatnya.

Ibu-ibu rumah tangga yang setiap hari menyajikan nasi putih untuk keluarganya, mungkin sudah lupa dengan beras merah, begitupun warung-warung nasi dan restoran tak pernah menghidangkan menu dengan nasi merah. Anak-anak sekarang mungkin hanya mengenal nasi yang berwarna putih (dan mungkin ’kuning’), mereka tidak mengenal ada beras merah (sebenarnya berwarna coklat), karena setiap hari disodori nasi putih oleh orangtuanya.

Kalau anda ingin mencicipi beras merah, mungkin anda harus menjadi bayi dulu karena sekarang ada makanan instan bayi terbuat dari beras merah, atau anda mesti disihir dulu menjadi unggas, baru bisa menikmati rasa beras yang kini banyak dijual sebagai pakan burung.

Sayang sekali, santapan yang begitu menyehatkan itu harus hilang dari peredaran. Bila dibandingkan dengan beras putih yang kita konsumsi sehari-hari, beras merah atau dalam bahasa Inggrisnya brown rice, jauh lebih bermanfaat bagi kesehatan, orang awam sekalipun tahu akan kelebihan oryza sativa yang satu ini.

Perbedaan antara beras merah dan beras putih tidak sekadar soal warna. Sebutir beras memiliki beberapa lapisan. Hanya lapisan paling luar, yaitu kulit padi atau sekam, yang dihilangkan dalam memproduksi beras merah. Sekali proses penggilingan ini menghasilkan yang namanya beras merah pecah kulit. Komoditas inilah yang biasa digunakan sebagai campuran makanan instan bayi atau dijual sebagai pakan burung. Proses ini sedikit merusak nilai nutrisi beras.

Bila beras merah selanjutnya digiling beberapa kali, akan menghilangkan dedak dan lapisan lembaga, hasilnya adalah beras putih, sebagai beras yang telah kehilangan banyak zat gizinya. Penggosokan (digiling dan dicuci berkali-kali) akan menghilangkan lapisan aleurone butir beras – suatu lapisan yang mengandung lemak-lemak esensial yang berguna bagi kesehatan. Bila lemak ini bersentuhan dengan udara pada proses pembersihan, akan sangat sensitif sehingga terjadi oksidasi. Pembersihan lapisan ini biasanya dilakukan untuk meningkatkan ketahanan simpan komoditas ini. Hasilnya berupa beras putih yang tak ada bedanya dengan tepung yang dimurnikan, yang terbuang sebagian besar gizi aslinya.

Dalam setiap 50 gram sajian beras merah, mengandung 4 gr protein, 55 mg magnesium. Ia juga memiliki 1 mg lemak dan serat plus sejumlah mineral lainnya minus sodium, selebihnya adalah karbohidrat. Bila dilakukan penggilingan dan pencucian berkali-kali pada beras merah hingga menjadi putih, terbukti bisa merusak 67% vitamin B3, 80% vitamin B1, 90% vitamin B6, setengahnya mangan, setengahnya fosfor, 60% besi, dan menghilangkan serat serta asam lemak esensialnya. Untuk menggantikan zat gizi yang hilang dalam proses penggilingan dan penggosokan ini, biasanya dilakukan “pengayaan” dengan vitamin B1, B3 dan besi. Namun upaya ini tidak memulihkan sepenuhnya, sekurangnya 11 zat gizi hilang dan tidak dapat digantikan dengan proses ”pengayaan” ini.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa dengan mengkonsumsi beras merah secara teratur, ada banyak manfaat penting bagi kesehatan tubuh.

Dalam peringkat makanan, beras merah menduduki ranking pertama sebagai sumber mangan, selain sumber mineral selenium dan magnesium. Cukup secangkir beras merah mampu menyediakan 88% mangan setiap harinya. Mineral ini membantu menghasilkan energi dari protein dan karbohidrat, mineral ini pun memegang peran utama dalam sintesa asam-asam lemak yang penting untuk kesehatan sistem saraf, dan dalam produksi kolesterol, yang digunakan tubuh dalam menghasilkan hormon-hormon seks. Mangan juga komponen yang penting bagi enzim antioksidan penting yang disebut superoxide dismutase yang memberi perlindungan akibat radikal bebas selama proses metabolisme dalam tubuh.

Bagi orang-orang yang khawatir akan risiko kanker usus, beras merah memiliki dua fungsi, selain sumber serat yang perlu untuk meminimalisir lamanya zat-zat penyebab kanker kontak dengan sel-sel usus, selain juga menjadi sumber selenium, mineral yang justru mereduksi risiko kanker usus.

Walaupun butiran beras ini mengandung minyak, namun kolesterolnya sangat rendah, bahkan dalam suatu studi di Universitas Negara Bagian Louisiana, AS, menemukan bahwa minyak dedak beras ini bisa menurunkan kolesterol jahat (LDL) pada tubuh manusia.

Manfaat kesehatan dari beras merah adalah seratnya, secangkir beras merah mampu menyediakan 14% serat setiap harinya. Serat ini telah terbukti menurunkan kolesterol tinggi, juga menghambat aterosklerosis. Serat beras merah pun berperan dalam mengontrol tingkat gula darah, sehingga menjadi pilihan terbaik bagi penderirta diabetes.

Menurut riset Dr. Rui Hai Liu dari Universitas Cornell, seperti halnya buah-buahan dan sayuran, beras merah juga mengandung fenolik, salahsatu zat antioksidan yang mampu menghambat radikal bebas pemicu kanker. Angka aktivitas antioksidan beras merah menurut hasil riset tsb adalah 56, sementara brokoli 80, bayam 81, apel 98, pisang 65, jagung 181, dan gandum 77.

Magnesium, yang terkandung dalam beras merah, menurut beberapa studi mampu menurunkan keakutan asma, menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan frekuensi migrain, dan menurunkan risiko serangan jantung serta struk. Magnesium membantu mengatur irama saraf dan otot dengan menyeimbangkan aksi kalsium. Magnesium juga perlu untuk kesehatan tulang. Sekitar dua pertiga magnesium di dalam tubuh manusia ditemukan dalam tulang. Secangkir beras merah akan memberi anda 21% keperluan sehari-hari akan magnesium.

Itulah ’sebagian kecil’ dari segudang manfaat mengkonsumsi beras merah, tak akan cukup membahasnya dalam forum terbatas ini. Banyak pakar menyebutkan, beras merah merupakan salahsatu pakan paling menyehatkan di dunia. Jadi, mengapa kita tidak mencoba mempopulerkan lagi makanan pokok berkhasiat ini. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***


Tips Memilih dan Menyimpan Beras Merah

BERAS biasanya dijual dalam bentuk karungan, dibungkus dengan kemasan dengan mencantumkan harga, dan eceran atau curah. Bila membeli beras merah dalam bentuk kemasan, periksa tanggal kedaluarsanya, berhubung dengan minyak-minyak alamiah yang terkandung, beras merah berpotensi menjadi tengik bila disimpan terlalu lama di udara terbuka.

Untuk menghindari zat-zat pencemar yang malah merugikan tubuh, usahakan memilih beras merah yang ditanam petani secara organik. Beras dari padi yang dibudidaya secara konvensional berpotensi mengandung residu pestisida atau pupuk kimia.

Bila membeli beras dalam jumlah banyak, yakinkan wadah yang berisi beras itu ditutup dan toko tersebut memiliki penggantian produk (turnover) yang baik untuk meyakinkan kesegaran produk yang maksimal. Dimanapun membeli beras dalam jumlah banyak atau dalam kemasan paket, yakinkan tidak terdapatnya uap air.

Karena beras merah masih mengandung lembaga yang kaya minyak, ia sangat sensitif menjadi tengik dibanding beras putih, dan sebaiknya disimpan dalam lemari pendingin. Sebelumnya dibungkus dengan wadah kedap udara, beras merah akan tetap segar disimpan dalam jangka waktu sekitar enam bulan.

Sementara varietas beras putih juga sebaiknya disimpan dalam wadah kedap udara, juga bisa disimpan di tempat sejuk dan kering. Disimpan dengan benar, beras putih akan tahan hingga satu tahun.

Penyimpanan nasi atau beras yang sudah ditanak merupakan kontroversi. Beberapa organisasi merekomendasi 4-7 hari penyimpanan di dalam lemari pendingin, namun beberapa pakar tidak menyarankan menyimpannya terlalu lama. Sebaiknya satu kali menanak nasi langsung dikonsumsi jangan disisakan. Nasi yang disimpan terlalu lama pada suhu tertentu apalagi hadirnya uap air, spora bakteri, atau jamur, berpotensi mengandung toksin. (DS/berbagai sumber)***

Saturday, 14 June 2008

"Vertikultur", Bertanam di Lahan Terbatas


HOBI berkebun banyak sekali manfaatnya, selain terciptanya lingkungan yang sejuk dan menyehatkan, juga dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sayuran, rempah-rempah dan buah-buahan yang segar bisa dipasok dari kebun sendiri, sehingga dapat mengurangi biaya rumah tangga, bahkan tidak menutup kemungkinan hasil kebun bisa dijual untuk menambah pendapatan.

Namun, bisakah kegiatan berkebun diwujudkan di daerah perkotaan, dimana hampir setiap rumah hanya memiliki lahan yang sangat sempit dan terbatas?

Jawabannya, bisa! Vertikultur adalah solusinya. Inilah cara bercocok tanam di lahan sempit, tanpa banyak mengeluarkan biaya, waktu dan tenaga. Jadi, hobi berkebun tetap bisa disalurkan walau terbentur sempitnya lahan.

Istilah vertikultur berasal dari bahasa Inggris, verticulture. Terdiri dari dua kata, vertical dan culture. Di dalam dunia pertanian, pengertian vertikultur adalah budidaya tanaman dengan cara bertingkat atau bersusun, memanfaatkan ruang ke arah atas.

Pada dasarnya jenis bertani semacam ini tidak jauh berbeda dengan bertani di kebun atau ladang. Sama-sama membutuhkan sinar matahari, air dan unsur-unsur hara untuk pertumbuhannya. Perbedaannya hanya terletak pada lahan yang digunakan. Dalam sistem pertanian konvensional, misalnya, satu meter persegi mungkin hanya bisa menanam lima pohon. Dengan vertikultur, lahan seluas itu bisa ditanami sampai 20 pohon.


Teknik pertanian bertingkat seperti ini biasanya untuk membudidayakan tanaman semusim atau berumur pendek, seperti sayuran. Aneka sayuran yang dapat ditanam antara lain seledri, selada, kangkung, bayam, kemangi, sawi, caisim atau kailan. Pohon cabai, tomat, atau terong, juga mudah sekali tumbuh dengan cara ini. Jenis tanaman obat-obatan atau tanaman hias pun layak untuk dicoba.

Sistem pertanian vertikultur sangat cocok diterapkan di kota-kota besar, sanggup pula dikembangkan di daerah rawan banjir. Pasalnya, kebun mini ini sifatnya portable alias dapat dipindah-pindahkan dengan mudah. Menurut para pengamat pertanian, vertikultur merupakan solusi pertanian masa depan, hemat lahan dan ramah lingkungan.

Karena pengertian pertanian vertikal, sistem yang dipakai adalah bersusun ke atas dengan membuat rak-rak untuk menaruh tanaman. Rak tersebut dapat dibuat dari kayu atau bumbu. Bila ingin lebih kuat dapat menggunakan kerangka dari besi. Tapi ongkos pembuatannya akan lebih mahal.


Mengenai bentuk dan ukuran rak, terserah kreativitas masing-masing, yang penting sanggup menopang atau diisi banyak tanaman, kuat dan mudah dipindah-pindahkan. Tipe yang umum dipakai berbentuk persegi panjang, segitiga, atau mirip anak tangga, lengkap dengan undak-undakannya. Dapat pula dibuat dengan sistem gantung ke langit-langit atau atap. Karena bertanam di lahan terbatas, yang diperlukan adalah wadah atau pot tempat menanam tanaman. Wadah atau pot bisa memanfaatkan barang-barang bekas seperti kaleng cat, kaleng biskuit, ember, botol air mineral atau kantung plastik polybag. Sejumlah pot tersebut disusun di atas rak bertingkat. Talang PVC juga bisa dimanfaatkan sebagai pot tanaman.

Perlu ditekankan, kunci keberhasilan bercocok tanam dalam pot terletak pada media tanamnya, untuk itu perlu perhatian ekstra. Media tanam bisa dibuat sendiri. Beberapa praktisi menyarankan, bahan media tanam berupa campuran tanah liat, pasir, sekam, dan pupuk kandang, dengan perbandingan 10:5:1:2.


Mengenai bibit tanaman, petani vertikultur juga dapat menyemainya sendiri. Dengan penyemaian sederhana yang diambil dari pohon yang telah mampu menghasilkan bibit. Caranya yaitu dengan membiarkan buah matang atau setengah kering di pohon. Lalu bijinya dikeringkan dengan cara dijemur. Untuk benih tanaman semusim, pilih yang bentuknya bagus dan tidak cacat, serta tenggelam bila direndam air. Sebelum disemaikan benih direndam dulu dalam air hangat selama satu jam, agar benih lebih cepat berkecambah. Setelah 3 minggu biasanya bibit siap dipindahtanamkan ke dalam wadah penanaman. Kotak kayu, plastik persegi empat atau polybag kecil sangat baik sebagai tempat persemaian. Untuk pengadaan bibit tanaman lain dapat diperoleh dari hasil stek atau cangkokan.


Dalam budidaya sistem vertikal ini yang perlu juga diperhatikan adalah perletakan jenis tanaman. Sayuran yang banyak membutuhkan sinar matahari seperti cabai, selada atau sawi sebaiknya diletakkan pada bagian paling atas. Sedangkan tanaman jenis ginseng, seledri, serta kangkung bisa di bagian tengah atau bawah.

Perawatan pada tanaman adalah berupa penyiraman dan pemupukan. Pencegahan hama dan penyakit diusahakan seminimal mungkin, kalau tidak perlu jangan menggunakan pestisida. Satu minggu sekali diberi pupuk tambahan berupa 20 gram urea dan KCl yang dilarutkan dalam 10 liter air. Satu wadah penanaman butuh 2 liter larutan pupuk. Pemupukan diberikan sampai 7 kali. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***


Foto: sinarharapan.co.id

Memanfaatkan Pipa Pralon

SISTEM vertikultur di luar negeri sudah demikian maju, menjadi hobi yang begitu serius. Di sana pot-pot vertikal khusus vertikultur sudah banyak tersedia dengan berbagai bentuk yang menarik dan estetis. Anda tinggal memasukkan media tanam, masukkan benih, praktis deh.


Bagi pekebun yang kreatif, pot vertikal seperti itu bisa siasati menggunakan pipa pralon (PVC) berdiameter 16 cm dengan panjang 90 cm. Sekeliling tabung pralon diberi sejumlah lubang dengan diameter 2,5 cm. Jarak antar lubang 12 ñ 24 cm. Dalam satu tabung bisa dibuat 4 x 5 baris lubang, dan lubang pertama dan terakhir ambil jaraknya 7,5 cm dari tepi lubang tabung.

Bila tabung PVC sudah siap untuk digunakan, masukkanlah media tanam ke dalamnya. Kemudian tabung digantung dengan dasar tetap menempel ke tanah. Untuk menggantung tabung pralon bisa digunakan kawat. Langkah selanjutnya adalah menanam bibit ke setiap lubang.


Agar bibit segera pulih ketika dipindahkan serta meningkatkan produksi, media tanam sebaiknya disiram dulu dengan larutan pemacu. Starter solution ini bisa dibuat sendiri dengan cara mencampurkan 364 gram urea, 333 gram TSP dan 303 gram KCl dalam 8-9 liter air. Bila akan disiramkan larutankan 0,5 liter formula ini dengan 5 liter air.

Sebatang bambu dengan diameter minimal 10 cm bisa menggantikan peran tabung PVC seperti ini, namun sebelumnya harus melubangi sekat pada setiap ruasnya. Gerabah yang dibuat berlubang-lubang juga bisa dipakai, atau papan-papan yang dibentuk kotak memanjang pun bisa dimanfaatkan. (DS/sumber: Trubus)***