Minggu, 29 Juni 2008

Mani Chamba, "Beras Ajaib" dari India


"BELUM makan kalau tidak melahap nasi." Ungkapan ini bukanlah sekadar canda, bagi umumnya rakyat Indonesia --yang notabene makanan pokok sehari-harinya-- meninggalkan kebiasaan makan nasi adalah sesuatu yang mustahil. Namun, apa daya bila mengidap penyakit tertentu, seperti diabetes mellitus, mau tidak mau harus mengurangi porsi makan nasi atau bahkan tidak boleh sama sekali.

Diet, menurut para ahli kesehatan, merupakan tonggak perawatan kesehatan yang menyeluruh bagi penderita diabetes mellitus (DM). Dengan diet yang baik, mampu menekan parahnya penyakit serta menghindari komplikasi akibat penyakit ini. Kalau si penderita sendiri mampu mempertahankan gula darahnya, mampu mengendalikan kadar kolesterol, trigliserida, dan kelainan lainnya, maka penyakit ini bisa dikendalikan dengan baik.

Diet nasi bagi penderita DM sebenarnya tidaklah perlu. Pasalnya kini ada beras herbal ponni taj mahal atau mani chamba yang disebut-sebut mampu mengontrol dan menstabilkan gula darah. Inilah kabar baik bagi penderita DM yang kerap menghindari nasi, yang mereka anggap biang keladi timbulnya penyakit kencing manis ini.

Dibanding dengan beras biasa, beras herbal ponni memiliki sejumlah keistimewaan, yaitu tidak berkanji, rendah glukosa, dan rendah lemak. Selain itu, beras varietas mani chamba ini mengandung serat larut, protein, dan kalsium yang tinggi. Juga kaya akan vitamin dan mineral, seperti vitamin A, B1, C, D, fosfor, dan seng. Sementara kandungan natriumnya sangat kecil, yakni 63% lebih rendah dari beras biasa, sehingga aman bagi penderita darah tinggi.

Data klinis International Diabetes Institute Australia (IDIA), menunjukkan beras tersebut mengandung 24,2% amylose dan 75,8% amylopectin. Semakin tinggi kadar amylose berarti glycemic index-nya lebih rendah. Pada umumya pangan dengan glycemic index rendah, mengandung glukosa dan lemak yang rendah pula.

Hasil penelitian laboratorium di sejumlah negara, seperti Malaysia, Singapura, dan Australia menunjukkan beras ini memiliki kandungan karbohidrat 70 persen lebih rendah dari beras pada umumnya, mengandung kalsium tinggi dan memiliki serat empat kali lebih banyak dibandingkan dengan beras biasa. Apabila telah diolah menjadi beras, karena kadar karbohidratnya sangat rendah, padi ini aman dikonsumsi penderita diabetes, hipertensi, atau osteoporosis.

Disebut "beras herbal" karena beras ini memiliki khasiat bagi kesehatan. Adapun istilah "ponni" mengacu pada ukurannya yang mungil, panjang bulir rata-rata hanya 3 mm. Bandingkan dengan panjang beras biasa yang umumnya 5 - 8 mm.

Padi mani chamba tumbuh baik di dataran berkapur Bangalore, India Selatan. Telah dikonsumsi masyarakat setempat sejak ratusan tahun lalu. Bahkan, mereka mengenalnya sebagai salah satu obat tradisional. Beras ini pun tumbuh alami, dan sama sekali tidak memakai obat-obatan, sehingga bisa digolongkan sebagai padi organik.

Dengan glycemix index atau kandungan karbohidrat yang rendah, beras ini memang cocok bagi penderita DM yang biasanya harus berhati-hati dengan pola makan. Dengan mengkonsumsi beras ini, karbohidrat yang ada di dalamnya langsung dicerna jadi tenaga, tidak mengendap menjadi gula (glukosa) dalam darah.

Sedangkan seratnya yang empat kali lebih banyak dari beras pada umumnya, membantu menyerap kelebihan gula darah serta lemak yang dibuang lewat proses buang air besar. Beras yang juga dijuluki 'the magic rice' atau beras ajaib ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 2002. Selain aman dikonsumsi bagi penderita diabetes, beras ini juga cocok bagi mereka yang menderita hipertensi dan osteoporosis.

Cara menyajikan beras mini ini agak berbeda dari beras umumnya, beras ponni dimasak dengan perbandingan air lebih banyak; 1 gelas beras herbal ponni, harus dimasak dengan 3 gelas air, karena beras ini menyerap air lebih tinggi dari beras biasa. Beras ini pun mengembang 2 kali lebih banyak dari beras biasa. Kadar pengembangannya bisa 3 hingga 5 kali dari ukuran asalnya.

Nasi memang sudah menjadi makanan pokok bagi hampir setengah populasi dunia, kebiasaan yang sangat sulit untuk dilepaskan. Bagi mereka yang harus membatasi asupan karbohidratnya seperti para penderita diabetes, hipertensi, dan obesitas, beras endemik Bangalore ini bisa menjadi solusi yang aman. Beras herbal ponni memang bukan obat, namun paling tidak bisa membuat mereka menjalani kehidupan yang lebih baik. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Dua Tahun Tiga Kali Panen

BERAS ponni memang unik, paling tidak ini ditegaskan Prof Dr Kannaiyan, ahli pertanian dan mikrobiologi dari Tamil Nadu, India Selatan. Keunikannya sudah tampak ketika ia masih tumbuh di area persawahan. Beras kesehatan ini pernah dicoba ditanam di tempat lain, namun setelah diteliti ternyata khasiatnya tidak sama seperti ditanam di tempat asalnya, Davangere, Bangalore, India Selatan.

Mulai masa tanam hingga panen tiba, padi mani chamba membutuhkan waktu delapan bulan. Atau dalam dua tahun, hanya tiga kali panen. Satu hektar padi mani chamba rata-rata menghasilkan enam ton gabah kering. Walaupun tidak memerlukan pupuk apapun, varietas mani chamba tinggi produksi bijinya. Bulir-bulir berasnya tahan disimpan lama hingga dua tahun, bahkan konon semakin lama disimpan, khasiatnya semakin baik.

Tanaman padi varietas mani chamba sesungguhnya telah dikenal ribuan tahun yang lalu oleh orang India, khususnya yang tinggal di India selatan dan barat daya. Mereka secara turun-temurun gemar menanam padi mani chamba karena mengetahui bahwa jenis padi tersebut memang bagus untuk kesehatan, bahkan dianggap memiliki keajaiban. Tak berlebihan kalau orang India menyebutnya si raja beras.

Mencuatnya pamor padi mani chamba tak lepas dari jasa besar Sri Agastyar, seorang mahaguru yoga, pertapa, pujangga, filsuf, dan ahli pengobatan yang hidup sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi. Sri Agastyar membuat catatan tentang aneka tanaman yang berkhasiat untuk kesehatan, termasuk padi mani chamba. Catatan yang sangat berharga itu kemudian diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1860.

Selain faktor alam yang sangat mendukung tumbuh suburnya padi mani chamba, tak kalah pentingnya adalah proses pengolahan pasca-panen. Setelah dipanen, gabah mani chamba dikeringkan selama satu hari. Kemudian gabah diuapkan (di-steam) dalam ketel raksasa selama 5-10 menit pada temperatur 20 hingga 140 derajat Celcius. Perlakuan ini bertujuan mempertahankan kandungan vitamin dan mineral pada kulit ari agar terserap ke dalam biji beras.

Setelah di-steam, gabah kembali dikeringkan selama dua hari. Setelah benar-benar kering, gabah digiling. Tidak berhenti sampai di sini, setelah sekam gabah terkelupas, butir-butir beras masih harus dipoles dan dibersihkan hingga 3 kali. Namun, kandungan nutrisi beras herbal ponni ini tetap kekal.

Setelah dikemas dengan baik, beras herbal ponni diimpor ke Singapura, Malaysia, Hongkong, Taiwan, Brunei Darussalam, Australia, Selandia Baru, dan juga Indonesia. Di Australia, beras ini dikenal dengan sebutan "pearl grain herbal rice". Sementara di Tanah Air dikenal dengan nama herbal ponni taj mahal. (DS/dari berbagai sumber)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar