Selasa, 08 Juli 2008

Beras sebagai Gaya Hidup Rakyat Korea

SEPULUH tahun jangka waktu yang diberikan WTO untuk membuka pasar beras seakan tak cukup bagi rakyat Korea. Habisnya moratorium ini menjadi hal yang dilematis bagi pemerintah Korea. Di satu sisi Korea Selatan harus melindungi petaninya, namun di sisi lain harus memberlakukan kebijakan internasional dengan membuka impor berasnya untuk menjaga kredibilitasnya di mata dunia.

Para petani Korea pun frustasi. Beberapa pekan lalu para petani Korea Selatan melakukan unjuk rasa besar-besaran untuk menentang upaya pembukaan pasar beras oleh pemerintahnya. Mereka melakukan aksi penentangan dengan cara membuang gabah, membakar gabah, membakar tanaman padi di sawah, bahkan aksi bunuh diri pun tidak segan mereka lakukan.

Presiden Liga Buruh Tani Korea Selatan Moon Kyeong-sik menegaskan, beras tidak bisa diperlakukan seperti mainan. Negara harus menggunakan produk dalam negeri sejauh mana bisa diproduksi di dalam negeri. Impor hanya dilakukan apabila produk itu tidak bisa diproduksi di dalam negeri. Untuk itulah para petani di sana mati-matian menolak impor beras.

Mengapa sektor pertanian khususnya beras di Korea Selatan diproteksi begitu ketat oleh pemerintahnya, hingga mengulur-ngulur waktu untuk membuka serbuan impor beras dari negara lain. Begitu pentingkah dan menentukan komoditi yang satu ini bagi perekonomian negara ginseng ini?

Bagi petani Korsel, beras bukan hanya sebatas komoditi yang dihitung-hitung secara ekonomi saja. Mereka menyebut beras, yang dalam bahasa Korsel bap, sebagai identitas. Tak heran jika di antara mereka ada yang berani mati karena beras telah mendefinisikan, siapakah sebenarnya mereka.

Sebuah identitas yang mungkin tidak mudah untuk dipahami bagi mereka yang berada di luar usaha tani padi. Akan tetapi, petani Korsel menyadari sepenuhnya, meski sekarang mereka telah menjadi negara industri yang maju, nenek moyang mereka dan masa lalu mereka adalah negara agraris yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Mereka sadar pertanian padi adalah akar mereka.

Kalau dilihat dari struktur sosial, Republik Korea terdiri dari kota dan desa. Kira-kira 30 tahun lalu, lebih dari 70% populasi rakyat Korea tinggal di pedesaan dan bekerja sebagai petani. Di tahun 1995 tinggal 22% (sekitar 9 juta) populasi yang tinggal di kawasan pedesaan, dan pertanian membentuk sekitar 80% dari populasi pedesaan.

Pertanian tetap menduduki bagian yang penting dalam politik dan masyarakat Korea walaupun kontribusinya pada GDP kurang dari 5%. Beras merupakan sumber utama pendapatan dari pertanian. Para petani di Korea Selatan memiliki income nonpertanian yang sangat rendah, dan beras tercatat sekitar 45% dari total pendapatan.

Untuk melindungi para petani kecil, pemerintah Korea membatasi luas lahan pertanian 3 ha per rumah tangga serta menjalankan ìsistem harga ganda untuk berasî. Lewat sistem ini pemerintah Korea membeli beras dengan harga tinggi dari para petani di saat panen, dan menjual dengan harga rendah pada konsumen.

Area penanaman padi di Korsel meningkat dari tahun 1970 hingga 1990 dan kemudian menurun menjadi 1.052.000 hektar di tahun 1997. Namun demikian, ada peningkatan dalam hasil per hektar, produksi beras secara rata-rata tidak menurun. Di 1996 dan 1997, ada panen padi yang bagus dengan rekor hasil tinggi. Produksi padi per hektar menyentuh 5,18 ton di tahun 1997.

Dari berbagai perundingan, secara gradual Korsel akan melipatgandakan persentase beras impor yang boleh masuk ke pasar dalam negerinya. Perhitungannya, saat ini kuantitas beras yang boleh diimpor adalah empat persen dari total konsumsi tahunan. Tahun berikutnya kuantitas itu menjadi delapan persen hingga pada 2014 pasar beras negara itu benar-benar dibuka. Pada tahun 2014 itu pasar benar-benar dibuka dan petani hanya dilindungi oleh bea masuk yang besarnya diperkenankan oleh WTO.

Bandingkan langkah Korsel ini dengan langkah Pemerintah Indonesia. Langkah Korsel tergolong cerdas, jauh berbeda dengan kebijakan Pemerintah Indonesia yang langsung meliberalisasi pasar beras ketika ikut menjadi anggota WTO. Indonesia tidak mengajukan pasal-pasal keberatan sedikit pun ketika WTO berdiri, sedangkan Korsel mengajukan moratorium itu. Kasus Korsel menjadi pelajaran berharga bagi para juru runding kita di arena perdagangan internasional.

Mekanisasi Pertanian

Di Indonesia, ''Revolusi Hijau'' sudah dimulai pada 1970-an, di Korsel baru pada 1980-an. Tapi kini pertanian di Korsel telah maju demikian pesat meninggalkan Indonesia. Di Korea, lebih dari 70% sawah-sawah telah memiliki sistem irigasi yang stabil, dan sisanya masih tadah hujan.

Para petani Korea banyak belajar dari Jepang dan AS, tapi kini justru telah mengekspor ke dua negara tersebut. Mereka pun telah melakukan mekanisasi pertanian, sebagai contoh penggunaan mesin panen padi. Dengan alat ini hanya butuh waktu 15 menit untuk memanen padi seluas satu hektar.

Untuk meningkatkan persaingan industri beras, beberapa kelompok peneliti di Korea telah mengembangkan teknologi pasca panen padi dan teknologi untuk produksi dan distribusi padi kualitas tinggi; mengembangkan sistem grading tepung beras, dan bahan-bahan mentah dari beras; serta menyaring komponen-komponen fungsional dalam beras dan aplikasinya.

Tak pelak lagi, impor beras ke negeri ini akan menyebabkan beberapa akibat yang signifikan, dan efeknya berhubungan langsung dengan ekonomi dan budaya Korea Selatan

Menurut laporan Samsung Economy Institute, impor beras tsb akan menurunkan GDP Korea 4 miliar US$ dan produksi padi Korea sebesar 2 juta ton (sekitar 41%).

Impor beras akan menghancurkan basis dari pertanian di Korea. Lebih dari setengah petani di Korea menggantungkan hidupnya pada pertanian padi, dengan demikian sekitar 400.000 petani akan kehilangan pekerjaannya setelah pembukaan pasar beras.

Aspek kultur juga menjadi isu signifikan dari impor beras ke Korea. Beras telah menjadi hal penting dalam konsumsi dan gaya hidup bagi bangsa Korea secara turun temurun. Dalam istilah tradisi Korea, beras tidak sekadar biji-bijian sebagai makanan pokok tapi juga simbol dari kehidupan. Karena keadaan geografis dan iklim, bangsa Korea harus bergantung pada pertanian padi untuk mempertahankan hidupnya. Ekonomi tsb harus secara total dikendalikan oleh hasil pertanian karena Korea merupakan negara agraris sepanjang sejarahnya.

Keadaan telah membuat bangsa Korea untuk berpikir ìpetani adalah basisnya duniaî. Ketika pemerintah Korea mulai membangun ekonominya, pertanian menjadi tenaga pendorong; maka, ekonominya berhasil membuat orang Korea yakin bahwa pertanian harus menjadi basis masyarakatnya meskipun kini menduduki bagian kecil dari ekonomi nasional.

Semenanjung Korea memiliki pola cuaca kontinental dengan suhu ekstrem lebih dari 40 derajat C di musim kemarau dan -40 derajat C di musim dingin. Karena iklim panas dan lembab dalam musim kemarau, beras telah menjadi chief article bagi rakyat Korea sejak sekitar tiga ribu tahun yl. Beras telah melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Korea. Contohnya, kebanyakan makanan orang Korea harus disajikan dengan nasi (beras yang dikukus) yang merupakan makanan pokok. Juga, beras memikiki arti khusus untuk beberapa perayaan. Beras dan kue beras digunakan pada acara pernikahan atau kematian di beberapa kawasan. Pada pernikahan, beras penting untuk permohonan fecudity, dan beras, menurut mereka, berpengaruh pada hantu-hantu di kuburan. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar