Jumat, 27 Juni 2008

Ketika Pasar Tak Lagi "Menyerap"

BAGI sebagian besar pekebun, kelebihan pasokan hasil pertanian akibat panen raya atau panen secara bersamaan tak ubahnya sebagai "bencana" yang tak dapat dihindari. Kita kerap mendengar petani tomat di Jawa Barat yang memilih tidak memanen buahnya, lantaran harga jual lebih kecil ketimbang biaya panen. Seorang pengepul cabe mesti gigit jari karena produknya gagal bongkar muat di pasar induk, karena pedagang di sana tak lagi mampu menampung karena pasokan melimpah.

Bila tiba bulan September - Desember, di beberapa sentra mangga sedang melimpah, pasar ekspor dan dalam negeri pun tak mampu lagi menyerap hasil produksi, setiap panen raya bisa sekitar 30% dari total produksi mangga tak terserap pasar. Akibatnya harga jual di tingkat pekebun melorot drastis. Bahkan di tingkat pedagang buah-buahan "banjir"nya produk musiman seperti mangga, rambutan, atau duku malah bisa memukul penjualan komoditi lain yang stabil misalnya pisang, harganya bisa "terjun" atau tidak ada yang beli sama sekali.

Melimpahnya buah-buahan di beberapa daerah di Indonesia boleh dikatakan upaya pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal. Para pengusaha yang bergerak di bidang agribisnis cenderung sekedar menjual buah-buahan tanpa usaha pengolahan lebih lanjut, menjadi sebuah produk makanan olahan. Misalnya dengan mengolah buah-buahan menjadi produk jenang atau dodol, manisan, selai, asinan, bubur (puree), jus atau mengolahnya menjadi kripik buah. Tampaknya masih sedikit pelaku agribisnis yang melakukan diversifikasi usaha pengolahan buah menjadi produk-produk olahan. Padahal dengan melakukan 'sedikit' upaya mengolah buah-buahan segar menjadi produk makanan, kita dapat memperoleh banyak keuntungan; produk buah-buahan menjadi tahan lama, harganya lebih mahal sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan pendapatan, dan tidak menutup kemungkinan untuk diekspor.

Sebagai gambaran, untuk produk kripik buah, misalnya. Di tingkat produsen lokal harga kripik nangka bisa mencapai Rp 45.000 hingga Rp 50.000 per kilogramnya. Atau tengok pengolahan mangga menjadi bubur mangga (puree), yang dilakukan seorang pengusaha di Cirebon, dari 1 kg puree ia bisa mengantongi laba bersih Rp 3.000 - Rp 4.000/kg. Di pasar swalayan puree mangga dijajakan seharga sekitar Rp 14.000/kg. Dengan pengolahan ini selain nilai tambah berlipat, pekebun juga tak perlu khawatir buahnya terbuang percuma.


Tak dipungkiri, banyak kendala untuk memulai bisnis makanan olahan berbasis buah-buahan ini. Di antaranya ada persepsi dari sebagian besar orang yang menganggap produksi buah olahan membutuhkan investasi yang tinggi terutama dalam pengadaan mesin dan peralatan lainnya, prosesnya yang panjang dan lama, serta ada anggapan menjalankan usaha seperti ini harus memiliki skill tinggi untuk menjalankan alat atau mesin pengolah buah-buahan.


Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Untuk menghasilkan produk buah olahan tidak perlu waktu yang lama. Prosesnya cukup sederhana tak perlu keterampilan tinggi. Pada dasarnya semua orang dapat melakukannya. Proses pembuatan kripik buah, misalnya, bisa dimulai dengan memilih buah yang berkualitas, seperti kondisi fisik yang bagus serta kadar gulanya tinggi. Kemudian, buah dikupas kulitnya dan dicuci sampai bersih. Baru setelah itu, buah dipotong-potong dengan ukuran yang dikehendaki. Sampai di sini proses pengerjaan sepenuhnya dilakukan tenaga manusia.


Selanjutnya tahap pengolahan menggunakan mesin. Buah-buahan yang telah dipotong-potong (atau dibiarkan bentuk aslinya seperti nangka) dimasukkan ke dalam mesin penggoreng hampa atau terkenal dengan sebutan vacuum fryer. Waktu yang diperlukan mulai dari proses sortasi buah hingga pengemasan tidak lebih dari dua jam. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber
)***

Vacuum Fryer, Penghasil Kripik Buah


UNTUK menggoreng buah-buahan yang akan dijadikan kripik, lebih praktis menggunakan mesin yang dinamakan vacuum fryer atau mesin penggoreng hampa. Kita tidak mungkin menghasilkan produk buah olahan berupa kripik menggunakan alat penggoreng biasa. Hampir semua komoditi buah-buahan memiliki kandungan gula (glukosa) yang cukup tinggi.

Karenanya, bila kita menggoreng menggunakan alat penggoreng biasa, keinginan untuk mengubah buah menjadi kripik tidak akan tercapai, justru buah yang kita goreng malah meleleh seperti jelly. Kalaupun kering buahnya menjadi gosong dan tidak layak untuk dikonsumsi apalagi dijual.

Dengan teknologi terapan mesin penggoreng sistem vakum, kita bisa menurunkan titik didih minyak goreng sehingga buah-buahan berkadar air tinggi yang diolah menjadi keripik tidak mudah hangus. Untuk menggoreng buah-buahan, seperti nangka atau mangga, paling tidak diperlukan minyak panas bersuhu antara 175 hingga 200 derajat celcius. Dengan temperatur setinggi itu air yang terkandung dalam buah-buahan akan diuapkan dan struktur daging buah pun mengering.


Teknologi mesin vacuum fryer kini berkembang dengan pesat. Banyak perusahaan memproduksi jenis mesin ini dengan pilihan kapasitas produksi 1,5 hingga 40 kg, memanfaatkan sistem vakum pompa maupun water jet, lama proses bisa 60 - 90 menit, dengan kontrol suhu secara otomatis, daya listrik 1.300 watt - 2.000 watt, alat yang sepenuhnya stainless steel ini harga per unitnya Rp 11 juta - Rp 59 juta (tergantung kapasitas input).


Dengan vacuum frying tekanan udara luar sebesar 1 cmHg dapat ditekan hingga -76 cmHg. Alhasil, titik didih minyak goreng dapat diturunkan dari 175-200 derajat celcius menjadi 90 derajat celcius. Konsekuensinya, waktu penggorengan jadi lebih lama bila dibandingkan dengan cara menggoreng biasa. Jika kita mengunakan penggoreng biasa kita hanya membutuhkan waktu 5-10 menit untuk bisa menghasilkan keripik, dengan menggunakan mesin vakum ini bisa memakan waktu sekitar 1 jam. Namun demikian, kita akan mendapatkan banyak kelebihan. Hasil produk menjadi lebih bagus. Kripik tidak gosong, tetap cerah seperti warna aslinya. kecil kemungkinan terjadi oksidasi pada produk buah olahan yang dihasilkan. Serta kandungan vitamin dari buah olahan tidak rusak.


Kelebihan lainnya adalah, dengan turunnya titik didih menjadikan minyak memiliki umur pakai lebih lama. Dengan menggunakan mesin penggorengan hampa, minyak goreng yang dipakai dapat digunakan hingga 60 kali penggorengan. Selain itu, mesin penggorengan tidak mudah terkena korosi, sebab uap air yang dihasilkan dari penggorengan dikondensasikan dan disedot keluar lewat pipa kapiler. Dengan mekanisme semacam ini secara otomatis membuat mesin menjadi lebih awet.


Mengoperasikan mesin vacuum fryer tidaklah terlalu sulit. Yang kita lakukan 'hanya' memasukkan minyak goreng ke dalam mesin dengan jumlah tertentu, tanpa bahan pengawet, tanpa bahan kimia tambahan, kemudian memasukkan buah yang telah diiris-iris ke dalam mesin, lalu kita tunggu sampai matang, antara 55 hingga 75 menit.


Berkat mesin yang efektif dan efisien ini kita bisa segera menjagi pengusaha berbagai aneka kripik buah dan sayuran. Satu mesin bisa dipakai untuk membuat kripik nangka, kripik nanas, kripik mangga, kripik melon, kripik pepaya, kripik salak, kripik apel, dll. Kripik yang dihasilkan sangat memuaskan, karena tidak mengubah warna aslinya, rasanya renyah, tampilan menarik, rasanya enak, dan disukai konsumen.


Patut dicoba bisnis produk buah olahan ini. Selain nilai investasi yang harus ditanamkan tidaklah terlalu tinggi, income yang anda dapatkan pun cukup menggiurkan. (DS/dari berbagai sumber)***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar