Kamis, 26 Juni 2008

”Si Rumput Ajaib” yang Multiguna



DALAM beberapa tahun terakhir ini proporsi penggunaan jagung oleh industri pakan telah mencapai 50% dari total kebutuhan nasional. Dalam 20 tahun ke depan, penggunaan jagung untuk makanan ternak ini diperkirakan terus meningkat mencapai 60% dari total kebutuhan nasional.

Ditinjau dari sumberdaya lahan dan ketersediaan teknologi, Indonesia memiliki peluang untuk berswasembada jagung dan bahkan bisa menjadi pemasok di pasar dunia, mengingat makin meningkatnya permintaan dan menipisnya volume jagung di pasar internasional.


Lain di Tanah Air lain pula di negara-negara industri, di sana jagung tidak melulu untuk bahan pangan dan pakan, tapi sudah merambah ke kawasan industri berteknologi tinggi. Jagung telah menjadi tanaman multiguna, sekurangnya ada 2.500 produk berbahan dasar Zea mays ini. Namun demikian, para produsen di seluruh dunia tak henti-hentinya mengeksplorasi nilai tambah dari “rumput ajaib” ini.

Di Amerika Serikat, misalnya, dalam keseharian warganya sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari produk-produk yang dihasilkan dari jagung. Mulai dari pemanis buatan hingga bahan bakar kendaraan. Dalam kenyataannya, di Negeri Paman Sam pemanfaatan jagung untuk konsumsi manusia, malah menempati persentase yang kecil dari seluruh penggunaan jagung.


Bahan Bakar Ethanol


Ethanol merupakan kisah sukses para pertani AS dalam mempersembahkan bahan bakar alternatif nan ramah lingkungan. Sebelas persen dari produksi jagung AS telah berubah menjadi ethanol, sementara sisanya diekspor. Di AS ethanol berbasis jagung memegang peranan utama dalam ekonomi negeri ini; selain menawarkan keamanan energi untuk menggantikan impor BBM-nya yang bernilai USD 2 miliar, juga menciptakan kesempatan berbisnis bagi petani dan komunitas jagung.

Di AS perluasan produksi ethanol meningkatkan permintaan substrat, dalam hal ini jagung, yang akan meningkatkan pendapatan petani AS $ 2,3 miliar antara tahun 2000 - 2004. Peningkatan aktivitas ekonomi akibat perluasan produksi ethanol pun meningkatkan pendapatan rumah tangga mencapai AS $ 2,5 miliar. Lebih dari 47.800 lapangan kerja baru tercipta. Bidang lain juga terkena imbas positif. Di sektor industri transportasi terbuka 2.300 lapangan kerja baru, di bidang konstruksi 1.300, di sektor
retail trade 3.200, dan lebih dari 11.000 lapangan kerja dalam industri jasa.

Bahan bakar campuran ethanol mengakomodasi 18 persen dari seluruh BBM otomotif di AS. Ethanol merupakan BBM berperforma tinggi karena memiliki angka oktan 113. Selain juga bahan bakar campuran ethanol tidak meninggalkan deposit, sehingga menjaga sistem bahan bakar mobil tetap bersih.


Ethanol diproduksi dengan memanfaatkan mikroorganisme seperti ragi (
Saccharomyces cerevisiae), Clostridium sp., dan Zymomonas mobilis. Mikroorganisme jenis ini sanggup memfermentasi karbohidrat (glukosa, fruktosa, atau sukrosa).

Salah satu produk turunan jagung yang sukses selain ethanol adalah plastik dari jagung yang lebih dikenal dengan sebutan plastik PLA (
polyactic acid). Polimer yang diturunkan dari jagung ini digunakan untuk membuat serat-serat sintetis dan plastik yang mudah terurai di alam. Plastik PLA di negara-negara maju sudah digunakan dalam kesehariannya, seperti untuk membungkus bunga potong, bungkus roti dan wadah makanan lainnya. Produk jagung juga bisa ditemukan juga dalam bentuk pakaian, tempat tidur dan karpet.

Menurut data Dinas Indagro, di Jawa Barat produksi jagung mencapai 400 ribu ton pipilan kering per tahun. Kendati jumlah ini masih relatif kecil bila dibandingkan provinsi lain, namun komoditi tersebut mempunyai nilai ekonomis strategis. Dari catatan Dinas Indagro Jabar, ada sebanyak 300 jenis makanan olahan dari jagung.

Inilah menjadi bahan pemikiran bersama. Khususnya di Jawa Barat, kemajuan pemanfaatan jagung di negara-negara maju mesti menjadi inspirasi untuk membangun dan mengembangkan industri penganekaragaman produk makanan olahan berbahan baku jagung ini. Dengan dibangunnya sistem industri pengolahannya, masyarakat diharapkan dapat memperoleh tambahan pendapatan yang cukup dan memadai. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

1 komentar:

  1. walaupun jagung telah berhasil menjadi makanan pengganti perlu diwaspadai jangan samapai munculnya boitipe baru terhadap jagung seperti kasusnya pada tanaman padi, adanya biotype 1-3.

    BalasHapus