Rabu, 25 Juni 2008

Bercocok Tanam Tak Selalu di Tanah


BERCOCOK tanam secara konvensional, melalui media tanah, memang begitu simpel karena telah mengandung zat-zat makanan, tanah merupakan tempat dimana akar-akar tanaman hidup dan mampu menyokong struktur tanaman. Namun dengan media tanah, juga terbukti mengandung banyak permasalahan; melibatkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit dalam mempersiapkan lahan, mengatur irigasi, pemeliharaan tanaman, pemupukan, pembasmian hama dsb. Bukan hal yang aneh bila ternyata hasil panen yang didapat tidak sebanding dengan segala pengorbanan itu. Lebih celakanya bila panen gagal, maka seluruh waktu, tenaga dan biaya akan terbuang percuma. Petani pun akan gigit jari.

Teknologi hidroponik, menawarkan cara bercocok tanam yang lebih baik dan cerdas. Teknik berkebun yang lebih mudah dan murah, bahkan di lahan sempit sekalipun. Tanaman hidroponik bersifat portabel, mudah dipindah-pindah, mudah diaplikasikan, dan hampir bebas perawatan. Kebanyakan bertani secara hidroponik sedikit menggunakan air dan produksinya lebih cepat, dengan hasil yang besar, tentunya dalam lingkungan yang bebas hama. Segalanya dikerjakan menggunakan bahan portabel yang mudah dirakit.

Secara etimologi, kata hidroponik (hydroponics) diturunkan dari kata Yunani hudor yang berarti air, dan ponos yang berarti pekerjaan, jadi arti hidroponik adalah bekerja dengan air. Teknik hidroponik telah digunakan hampir 300 tahun lalu oleh orang yang bernama John Woodward. Di tahun 1944 pemerintah AS mulai menggunakan teknik hidroponik untuk ransum pasukannya ketika berkecamuk Perang Pasifik. Bayangkan, 0,6 acre menyediakan cukup sayuran untuk 400 orang setiap harinya.

Hidroponik artinya bekerja dengan air. Dalam praktiknya hidroponik adalah menumbuhkan tanaman di dalam larutan nutrisi tanpa media tanah. Ditinjau dari segi sains, hidroponik telah membuktikan bahwa tanah tidak diperlukan untuk menumbuhkan tanaman kecuali unsur-unsur, mineral dan zat-zat makanan seperti dalam tanah. Dengan mengeliminasi tanah, berarti mengeliminasi hama/penyakit, tanaman pengganggu yang berasal dari tanah, dan mengurangi pengendalian secara teliti nutrisi tanaman. Dalam larutan hidroponik, sudah tersedia zat-zat makanan yang tepat untuk tumbuhan dengan perbandingan yang benar sehingga dapat mengurangi stres pada tanaman, lebih cepat matang dan, panen pun dimungkinkan dengan kualitas yang lebih bagus.

Ada banyak variasi bercocok tanam secara hidroponik ini, bisa disebutkan di antaranya metode tetesan (drip), sistem NFT (nutrient film technique), sistem float, flood and drain, aquaponik, aeroponik dan sistem pasif. Dalam skala komersial, yang paling banyak diadopsi adalah metode tetes dan NFT.

Sistem tetes atau substrat bisa digunakan untuk budidaya tanaman berumur panjang seperti tomat, mentimun dan cabai. Dalam sistem ini, nutrisi atau zat-zat makanan diantarkan ke tumbuhan lewat tetesan dalam jangka waktu tertentu. Alat penetes biasanya diatur agar menetes sekitar 10 menit setiap jam tergantung pada tahap berkembangnya tanaman dan banyaknya cahaya. Daur tetes menyiram media tanam, untuk menyediakan nutrisi segar, air dan oksigen bagi tanaman.

Dalam sistem tetes komersial, akar-akar tanaman biasanya tumbuh di dalam media batu perlit atau rockwool. Variabel utama sistem drip ada pada media tanam dan wadahnya. Sebagai contoh adalah sistem ember yang berisi perlit. Setiap ember berisi batu perlit dan satu atau dua tanaman. Dalam metode ini, parit atau lubang dibuat pada wadah untuk mengalirkan larutan nutrisi yang berlebih. Saluran di bawah ember akan menampung kelebihan tersebut.

Dalam teknik NFT atau teknik lapisan tipis, tanaman ditumbuhkan pada saluran (pipa) yang mana larutan nutrisi dipompa untuk melewatinya. Akar-akar tanaman dijaga agar tetap basah dengan selapis tipis larutan nutrisi yang melewatinya

Biasanya saluran NFT dialiri nutrisi terus menerus pada kecepatan sekitar 1 liter per menit. Di kebanyakan sistem NFT, larutan nutrisi dicampur pada penampung utama (reservoir), berputar melewati saluran dan kembali ke penampung. Dengan beberapa pengembangan, reservoir nutrisi bisa diatur secara otomatis, begitu juga aerasi dan pengaturan pH-nya.

NFT ideal untuk lettuce, sayuran daun, herba, dan semua tanaman berumur pendek. Untuk sayuran berumur panjang, saluran NFT bisa dibuat lebih besar. (Dede Suhaya/www.aquaponics.com)***

Cara Gampang Ber-Hidroponik

SAYURAN daun, semi-head lettuce dan tanaman berumur pendek lainnya bisa dibudidaya dengan teknik hidroponik sederhana dan murah, tak perlu pasokan listrik ataupun pompa. Peralatan murah ini bisa dipersiapkan dalam waktu sekitar 10 menit, dan sedikit perhatian untuk 5-6 minggu selanjutnya, pada saat tanaman dipanen. Tak perlu tambahan pupuk atau air—sistem hidroponik botol plastik ini sudah mengandung cukup zat-zat makanan dan air untuk tanaman berumur pendek hingga panen. Namun perlu diingat, metode ini tidak cocok untuk tanaman berumur panjang seperti mentimun dan tomat, yang memerlukan banyak air.

Pekebun bisa menggunakan metode ini untuk budidaya di lahan terbatas seperti halaman rumah, serambi, atau di bawah atap bangunan. Metode ini juga cocok bagi para guru dalam menerangkan konsep pertumbuhan tanaman pada murid-muridnya. Bahkan para peneliti dan petani bisa memanfaatkan kit hidroponik ini untuk studi nutrisi, tes pestisida, dan produksi benih.

Bahan-bahan yang diperlukan cukup sederhana, sediakan botol plastik bekas jus atau botol lain yang berukuran tinggi lk. 3 inchi dengan bukaan botol 1,5 inch; 1 sendok teh pupuk hidroponik (misalnya Chem-Gro, More Grow atau yang sama, bisa dibeli di toko-toko hidroponik atau pertanian); 1 pot keranjang (net pot) berdiameter 1,5 inch, tinggi 3 inchi; media tanam (peat, perlite, vermiculite, atau coir); dan benih tanaman berumur pendek (seperti lettuce atau pekchoy).

Net pot bisa didapatkan di toko-toko hidroponik atau toko pertanian. Bisa juga dipakai tabung plastik yang berukuran sama kemudian diberi lubang-lubang.

Pot keranjang ini digunakan sebagai tempat media tanam, ditenggelamkan pada saat penanaman agar media basah, dan lubang-lubangnya pas untuk menerobosnya perakaran mencapai dasar botol.

Sebelum digunakan bilas botol plastik dengan air sampai bersih. Masukkan pupuk hidroponik sebanyak satu sendok teh ke dalam botol. Tambahkan air sekitar seperempatnya ke dalam botol dan kocek hingga pupuk melarut. Kemudian tambahkan air sekitar 1,5 inchi dari atas. Sekarang isi pot keranjang dengan media tanam, usahakan agak longgar jangan terlalu padat.

Letakkan pot keranjang yang sudah berisi media tanam ke dalam botol yang sudah berisi larutan nutrisi. Pot ini harus pas di lubang botol dan tak ada celah. Media tanam akan menyerap larutan nutrisi melalui daya kapilernya. Jika media tanam masih ada yang kering, tambahkan 1 atau 2 sendok teh air ke dalam media.

Buat lubang sedalam seperempat inchi di media tanam basah ini. Tanamkan 1 - 2 benih lettuce atau pakchoy. Tutup benih secara perlahan. Benih ini akan berkecambah selama 2-4 hari.

Tempatkan botol berisi benih ini di tempat yang banyak menerima cahaya namun lindungi dari angin dan hujan. Lokasi yang baik bisa di bawah atap rumah, serambi, atau di rumah kaca. Alangkah baiknya bila botol dicat atau tempatkan di dalam kantong supaya cahaya tidak masuk ke botol yang bening. Karena alga hijau bisa tumbuh di botol dan akan memperlambat pertumbuhan tanaman.

Biarkan botol hidroponik ini selama 5-6 minggu. Jangan menarik net pot dari botolnya—perakaran bisa rusak. Juga jangan lagi menambah air atau pupuk.

Setelah tanaman dipanen, keluarkan bekas-bekas akar dari media tanam. Cuci botol. Dan Anda siap untuk mulai menanam lagi. (DS/www2.ctahr.hawaii.edu)

2 komentar:

  1. thanks buat infonya. tanaman apa saja yang bisa ditanam dengan hidroponik?

    BalasHapus
  2. apakah penanaman dengan hidroponik bisa terserang hama dan penyakit nggak?

    BalasHapus