Showing posts with label teknologi pertanian. Show all posts
Showing posts with label teknologi pertanian. Show all posts

Friday, 31 October 2008

Kulkas Sederhana Cara Afrika

HAWA Usman adalah seorang petani dari Darfur, Sudan. Wanita ini rajin berkebun tomat, okra, wortel, dan lettuce, dan juga memiliki kebun kecil yang ditumbuhi pohon-pohon jambu.

Dalam panasnya cuaca Darfur, Hawa harus rela kehilangan setengah dari hasil panennya yang dijual setiap hari di pasar Al Fashir, sebuah kota besar di Darfur Utara, karena tidak cukupnya fasilitas penyimpanan (tak ada listrik apalagi kulkas) di kantin kecilnya, sebuah jongko yang terbuat dari kayu beratap daun palm tempat ibu tiga anak ini menggelar barang dagangannya.

Namun hari-hari terakhir ini ia bisa menjual hasil panennya lebih segar dan bisa menuai keuntungan lebih besar. Ini semua berkat sebuah alat sederhana nan cerdik --pot zeer-- hasil temuan seorang guru asal Nigeria, Mohammad Bah Abba yang diperkenalkan ke Darfur dua tahun lalu.

Pot zeer atau kulkas pot-in-pot adalah sebuah pot besar yang diisi dengan pot yang lebih kecil. Ruang di antara dua pot tanah liat tersebut diisi dengan pasir, menciptakan sebuah lapisan isolasi yang mengelilingi pot bagian dalam. Pasir kemudian dibuat tetap basah dengan cara menambahkan air secara berkala, umumnya dua kali per hari.

Sistem "kulkas padang pasir" ini berdasarkan pada prinsip fisika sederhana; air yang terkandung dalam pasir akan menguap menuju permukaan luar pot besar dimana udara kering bersirkulasi. Dengan memanfaatkan hukum termodinamika, proses penguapan ini secara otomatis menyebabkan turunnya suhu beberapa derajat, mendinginkan wadah/pot bagian dalam untuk mempertahankan kesegaran bahan makanan yang ada di dalamnya.

Setiap unit pendingin pot ini bisa muat 12 kg sayuran, sementara biaya pembuatannya per unit kurang dari US$2.

Dari hasil eksperimen untuk menguji kemampuannya meningkatkan ketahanan pangan, memperlihatkan bahwa tomat dan jambu dapat tahan selama 20 hari, dibandingkan dengan tanpa alat ini hanya tahan dua hari. Bahkan lettuce, yang biasanya layu dalam sehari, dapat bertahan hingga lima hari.

Aminah Abas, seorang penjual pot kulkas di pasar Al Fashir, mengaku mengalami permintaan yang tinggi pada pot ini, karena hampir setiap keluarga mengakomodasi sebuah keluarga pengungsi yang menghindari pertempuran di daerah ini.

"Sebagai hasilnya, ada kebutuhan zeer untuk menyimpan air, sayuran dan buah-buahan untuk keperluan keluarga penampung dan keluarga pengungsi," ujarnya.

Hawa beruntung karena menjadi orang pertama yang menggunakan teknologi zeer di kantinnya. Selembar label informasi ditempelkan pada pot pendinginnya yang memberitahu berapa lama beberapa produk bisa tahan.

Sebelum mendapatkan pot "ajaib" ini, setiap hari Hawa harus membawa pulang sebagian hasil panennya yang tidak terjual. Perjalanan enam jam dengan berjalan kaki ke pasar, membuat sayurannya cepat layu dan busuk akibat teriknya panas gurun pasir di sana.

Sistem penyimpanan merupakan kunci utama keamanan makanan di daerah beriklim tak bersahabat di kawasan padang pasir Afrika ini. Panen yang bagus sesuatu yang jarang terjadi di Darfur Utara; bahkan ketika para petani dan produsen skala kecil menghasilkan panen yang kuat dan tahan, mereka tetap berhadapan dengan masalah penyimpanan buah dan sayuran.

Panas yang kering dan debu mampu menurunkan "masa hidup" komoditas seperti tomat, okra dan wortel hingga dua atau tiga hari saja, sehingga penting bagi mereka mengirim hasil panennya secepat mungkin agar produknya berkualitas baik. Dan faktanya makanan harus cepat dikonsumsi, ini berarti pemborosan menjadi tinggi.

Sejak diperkenalkan bulan November 2002, sebanyak 110 keluarga di Darfur telah menikmati kulkas pot made in Bah Abba ini. Rata-rata, dua unit pot digunakan di rumah-rumah, sementara para wanita di pasar bisa memiliki tiga hingga empat unit.

"Alat ini begitu simpel dan teknologinya cocok bagi saya, karena petani selalu berusaha menjaga produknya tetap segar dan dalam kondisi baik," ujar Hawa. "Saya dapat memahami dan menggunakannya dalam waktu seminggu, teknologi ini secara cepat telah menjadi 'roti dan mentega' bagi saya."

Hawa sehari-hari harus mengurus diri sendiri bersama tiga orang anaknya. "Teknologi ini telah membantu saya mendapatkan penghasilan yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya sehari-hari. Ini merupakan titik balik yang sangat positif dalam hidup saya, saya bisa mencukupi diri sendiri."

Lebih jauhnya, produsen maupun konsumen diuntungkan dengan hadirnya teknologi tepat guna ini. Bagi petani,
zeer dapat meningkatkan penjualan hasil panennya, di sisi lain konsumen menikmati pasokan sayuran dan buah-buahan meningkat di pasaran.

Zeer adalah kreasi cemerlang dari Mohammad Bah Abba. Bah Abba memberikan gagasannya ke Intermediate Technology Development Group (ITDG), dengan bantuan para peneliti di Universitas Al Fashir, ia berhasil melakukan berbagai eksperimen untuk mengukur keandalan temuannya untuk menjaga content makanan dan meningkatkan shelf life sayuran.

Berkah lainnya, Asosiasi Wanita Pembuat Peralatan dari Tanah Liat di Darfur, dengan dukungan ITDG, kini bisa memproduksi dan menjual zeer untuk menyimpan makanan di wilayah Al Fashir.

Iman Mohamad Ibrahim dari ITDG mengatakan wanita yang menggunakan zeer untuk menyimpan sayuran mereka di pasar dan dapat menambah 25 hingga 30 persen keuntungan penghasilan bagi mereka.

Ia menegaskan, alat ini memiliki banyak kegunaan. "Ia dapat digunakan untuk menyimpan sorghum dan millet untuk waktu yang lama, karena ia melindungi dari kelembaban ketika kering, menghindari berkembangnya jamur."

Pot-in-pot ini juga bisa menjaga suhu air sekitar 15 derajat Celsius. "Di dalam tenda, alat ini digunakan sebagai pot air, untuk menyimpan berbagai item, bahkan sebagai lemari pakaian," ujarnya.

Ada juga manfaat kesehatannya. Menurut Mahmud Ali, petugas kesehatan di Pemerintahan Kota Al Fashir, zeer ini membantu menjaga vitamin dan nutrisi dari sayuran, dan mencegah penyakit yang dibawa lalat.

"Sebelum teknologi ini hadir, sayuran yang dipajang menarik lalat-lalat, menyebabkan penyakit perut seperti disentri," ungkapnya. "Kini sayuran tersebu dapat dijaga tetap segar lebih lama dan jauh dari lalat, ada penurunan yang luar biasa dalam beberapa kasus." (Dede Suhaya/ SciDev.Net)***

Foto:Flickr

Friday, 10 October 2008

Berkat "Cai Dukun" Panen Meningkat

TELEPON seluler Ir. Joko Wiryanto tiba-tiba berdering, dan percakapan jarak jauh pun tampak begitu bersemangat. "Itu tadi telefon dari seorang petani di Riau yang mengabarkan bahwa hasil panennya meningkat," ujarnya. Tiba-tiba ponsel itu berdering lagi, kali ini ia menerima telefon dari seorang petani Sumedang yang melaporkan ada peningkatan pada panen padinya. Wajah Ir. Joko pun tampak sumringah, betapa tidak, satu lagi lahan uji coba yang mengaplikasikan teknologi temuannya telah membuahkan hasil.

Apa sebenarnya yang dilakukan pria lulusan Universitas Pasundan jurusan teknik industri ini, sehingga semua demplotnya nyaris tak ada yang gagal. Bahkan hampir seluruh daerah di Indonesia telah ia datangi dengan satu tujuan, menjajal teknologi temuannya itu.

Tak banyak orang yang tahu, bahkan liputan pers pun hampir tak menyentuhnya. Orang Cimahi yang satu ini betul-betul ingin mengabdikan seluruh hidupnya untuk kesejahteraan petani. Sekian lama ayah tiga putra ini menjadi peneliti, sudah banyak temuannya berhasil diwujudkan, sebagian besar akan dan telah dipersembahkan pada bidang pertanian, disiplin ilmu yang sangat ia cintai.

Adalah H. Sulaeman (57), seorang petani dari Kelurahan Solokan Jeruk, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta yang berkesempatan menikmati temuan Ir. Joko ini. Baru-baru ini, tepatnya 18 April lalu, H. Sulaeman seakan tak percaya, pada panen kali ini ia mampu meningkatkan produksinya hingga 12,5 ton. Padahal tanpa mengaplikasikan temuan Mas Joko ini, produksi dari lahan seluas setengah hektare yang dimilikinya tidak pernah beranjak dari angka 4 ton.

Lantas temuan apa yang telah diaplikasikan pada lahan persawahan milik H. Sulaeman (dan lahan-lahan uji coba lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia)? Ir. Joko menamakannya sebagai F1 Embio, suatu isolat atau kumpulan mikroba dan fungi yang telah diseleksi menjadi bentuk yang bermanfaat bagi sistem ekologi tanah. F1 Embio ini ia formulasikan dari azotobacter sp, azaoss pirilliriza, MVA (modified vaccine ankara), mikoriza, perombak selulosa dan mikroorganisme efektif lainnya.

Menurut alumni Unpas lulusan tahun 1990 ini, Embio hanyalah satu dari beberapa temuannya yang telah diuji coba puluhan kali, memiliki kemampuan mengikat unsur nitrogen (N) dari udara, melarutkan unsur fosfat (P), menguraikan selulosa, dan merombak sisa-sisa bahan organik tanah. Sehingga inokulan ini cocok untuk lahan garapan yang tidak produktif lagi akibat penggunaan pupuk anorganik dan pestisida yang berlebihan.

Untuk diaplikasikan pada lahan sawah, F1 Embio dapat diperbanyak satu kali. Ia mencontohkan, dalam 1 botol (500 ml) dapat ditambahkan air sebanyak 50-60 liter, tambahkan 1 kg gula pasir atau molase ke dalamnya, tambahkan pula humus/tanah dari lokasi sebanyak 1 genggam. Eramkan campuran ini selama 12 - 18 jam, hindari dari sinar matahari.

Inilah uniknya campuran ini, sangatlah irit, "satu liter cairan ini bisa dipergunakan untuk lahan seluas satu hektare," katanya. Syaratnya, air harus tersedia secara kontinyu, namun tidak sampai menggenang.

"Bila larutan ini sudah 'matang', tinggal disemprotkan atau dipercik-percikkan secara merata pada lahan yang telah dipersiapkan," jelasnya.

Karena caranya yang hanya dipercik-percikkan tersebut, seorang petani Sumedang bernama Priatna mempopulerkan Embio sebagai "cai dukun" atau "air dukun." Berkat "air dukun" ini pula Priatna bisa menangguk keuntungan sebesar 25% hasil panennya, itu pun tanpa perlakuan apa-apa lagi, artinya ditinggalkan begitu saja.

Setelah pemercikan, benih padi bisa langsung ditanam dengan kedalaman lebih kurang 3 cm. Setelah ditanam, taburkan kompos atau NPK kompos atau pupuk anorganik seperti urea 50 kg/ha ditambah NPK anorganik 25 kg/ha. Namun, tanpa penambahan pupuk ini pun, padi tetap akan tumbuh dengan baik, yang penting tanah tidak kekeringan, idealnya keadaan air macak-macak.

Perbedaan padi yang mengaplikasikan Embio mudah diamati. Menurut Balok Sunyoto, seorang petani dari Jawa Timur yang mendampingi Joko Wiryanto, Embio akan membentuk daun padi berwarna hijau tua, warna daun ini terus bertahan ketika bulir-bulir padi sudah menguning. Ciri lain adalah bulir-bulir padi akan bernas, dan pH atau keasaman tanah otomatis akan berada pada kisaran 6,8.

"Ini merupakan cara biologis dalam mengembalikan kualitas tanah hingga menjadi subur," kata Joko. Cara ini telah diakui beberapa petani di seluruh Indonesia. Selain mudah penggunaannya, praktis, hemat biaya dan mampu mengurangi kebutuhan pupuk. Cara ini lebih efisien karena sekali dipupuk sudah cukup untuk memberikan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman, hasilnya pun terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanaman.

Lebih jauh Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Cimahi ini menjelaskan, "Alangkah baiknya bila bercocok tanam padi ini melibatkan teknologi lainnya yang telah saya kembangkan, inilah sebuah 'paket teknologi', selain penggunaan 'air dukun', juga bisa diikutsertakan teknologi 'Tonggeret', sebuah alat mirip 'sonic bloom' yang fungsinya untuk membuka stomata daun agar pemupukan pada daun lebih optimal." Bahkan ia juga berhasil mengembangkan sebuah alat pendeteksi hama dan penyakit pada tanaman.

"Dengan mengaplikasikan paket teknologi ini, Insya Allah peningkatan produksi padi akan lebih spektakuler," ujar mantan atlet nasional ini.

Namun demikian, seperti ia contohkan di beberapa daerah uji cobanya. Banyak petani yang hanya melakukan penyemprotan dengan F1 Embio, lantas ditinggalkan begitu saja. Alhamdulillah hasilnya tetap saja ada peningkatan dibandingkan dengan sistem tanam padi konvensional (melibatkan bahan-bahan kimia). "Bahkan tak sedikit sukses pun dialami para petani pemula," tambahnya.

Untuk mewadahi sepak terjang serta agar kegiatannya lebih terarah, suami dari Dewi Yulianingsih ini merasa perlu membentuk sebuah wadah yang ia namakan Tim Pelaksana Nasional Gerakan Revolusi Lahan Melalui Reklamasi dan Rehabilitasi Lahan. Tim Laknas ini diketuai Ir. Joko sendiri dan berkantor pusat di Kota Cimahi, di bawah pembinaan KTNA nasional.

Gerakan nirlaba ini telah dicanangkan sejak 13 November 2006 di Ciawi, Bogor. Misi pembentukan tim ini, menurutnya, antara lain untuk melakukan rehabilitasi dan reklamasi lahan; menerapkan teknologi ramah lingkungan; menekan penggunaan pupuk kimia dan pestisida; menekan biaya produksi, dan meningkatkan produksi petani.

Khusus di Jawa Barat, tim bentukan Joko ini telah melakukan demplot (demo plot) di Ciamis, Tasikmalaya, Karawang, Kabupaten Bandung, dan Sumedang. Dari hasil pantauannya, seluruh demplot praktis tidak mengalami kegagalan, malah sebaliknya hasil panen meningkat dengan kisaran 20 - 67%. "Namun peningkatan hasil produksi bukanlah misi utama kami. Tujuan utama kami adalah menekan biaya produksi pertanian," ujar Joko menjelaskan.

Ditanya mengenai kerja sama dengan pihak lain, pria yang senang disebut petani ini terbuka untuk menerimanya, "kami sudah siap dengan teknologinya, on-farm maupun off-farm, asalkan tidak menjadikan petani sebagai sasaran bisnis mereka. Kami hanya ingin mengangkatkan harkat derajat dan memberikan posisi tawar bagi para petani, itu saja." (Dede Suhaya)***

Tulisan ini juga muncul di situs http://jokowiryanto.blogspot.com

Thursday, 28 August 2008

Pompa Air tanpa Mesin

BERCOCOK tanam padi tak terpisahkan dengan tersedianya pengairan yang mencukupi. Di musim hujan pemeliharaan padi memang tidak masalah, air malah berlimpah. Namun bila kemarau tiba air menjadi barang berharga dan menjadi rebutan walaupun masih ada sungai, sayang letaknya lebih rendah dari lahan pertanian.

Mengandalkan pada pompa untuk menaikkan air akan terlalu banyak biaya yang diperlukan; apalagi pompa air butuh energi listrik atau bahan bakar minyak. Padahal harga BBM dan listrik terus naik.

Tapi jangan putus asa, masalah itu bisa diatasi. Mengapa tidak mencoba pompa air tanpa mesin (PATM)? Teknologi ini sudah banyak diaplikasikan di beberapa daerah di Tanah Air, seperti di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, Sulawesi, NTB, dan di Provinsi Bali. Pompa air ini lebih dikenal dengan sebutan hidram (hydraulic ram). Jenis pompa air yang betul-betul tidak memerlukan BBM maupun listrik sehingga bisa menghemat biaya operasional.

Kalau tanpa BBM atau listrik, lalu dari mana sumber energinya. PATM atau hidram memanfaatkan tekanan dinamik atau gaya air yang timbul karena perbedaan ketinggian dari sumber air ke pompa. Gaya tersebut dipergunakan untuk menggerakkan katup sehingga diperoleh gaya yang lebih besar untuk mendorong air ke atas.

Cara kerja ram hidrolik ini dimulai dari sumber air yang masuk pipa pemasukan (drive pipe) dan keluar melalui katup pembuangan (waster valve). Gaya dorong air yang masuk ke dalam pompa akan mendorong katup pembuangan ke atas sehingga menutup dan menyetop aliran air dengan sendirinya. Ini berakibat timbulnya daya tekan dalam pipa pemasukan dan memaksa air naik ke pipa pengantar atau pipa pengeluaran (outlet). Kemudian air yang keluar ditampung di bak penampungan. Dari sini selanjutnya bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan-lahan pertanian atau keperluan lainnya.

Tekanan tinggi dalam pompa juga akan mengatasi tekanan dalam ruang udara pada katup pengantar, sehingga katup akan terbuka dan air dari sumber mengalir lagi melalui pipa pemasukan. Siklus ini terjadi berulang-ulang dengan frekuensi yang sangat cepat.

Sebagai gambaran dalam pemasangan; pompa dipasang pada jarak 18 - 24 meter dari sumber air dengan posii lebih rendah, minimal 2 meter dan maksimal 5 meter. Jumlah pompa yang diperlukan juga tergantung pada ketinggian tempat dan luas lahan yang akan diairi. Sebagai pedoman untuk menjangkau ketinggian lebih dari 150 meter dari posisi pompa, sedikitnya dibutuhkan 5 unit pompa.

Hidrolik ram hanya memiliki dua bagian yang bergerak, pegas atau katup "limbah" dan katup cek "pengantar", membuatnya murah untuk dibuat, mudah dirawat, dan sangat handal. Ditambah pipa penghubung untuk pasokan air dari sumber, dan pipa pengantar untuk keluarnya air.

Karena tidak mengonsumsi bensin, solar atau listrik, maka biaya operasionalnya menjadi hemat, dan biaya pemeliharaan pun jadi lebih murah, kalau dihitung-hitung hanya habis sekitar Rp 50.000 per tahunnya, sementara pompa tanpa motor ini bisa beroperasi terus menerus selama 24 jam setiap harinya. Lagi pula dengan masa operasi 10 - 20 tahun hidram bisa dibilang awet. Pompa yang ditemukan pada tahun 1796 oleh orang Prancis bernama Joseph Michel Montgolfier ini pengoperasiannya sangat mudah, petani biasa pun bisa melakukannya karena dijalankan secara manual, walaupun kerja pompa ini otomatis. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Biaya Operasional Hampir Tidak Ada

POMPA air tanpa motor ini cocok untuk irigasi dan pengadaan air baku. Efisiensinya sangat tinggi karena pompa ini tidak tergantung kepada bahan bakar minyak, listrik ataupun oli mesin, hingga dapat beroperasi 24 jam terus menerus.

Walaupun sumber air atau sungai banjir sehingga pompa terendam air, pompa tidak akan rusak. Kelebihan pompa air umurnya ekonomis, sangat tahan lama, bisa mencapai 20 tahun bila dipakai 24 jam terus menerus tanpa henti.

Dapat mengangkat air hingga ketinggian 100 meter arah vertikal, arah horizontal tidak terbatas, debit air yang dipompakan cukup besar dan cocok untuk pertanian dan desa kecil.

Biaya operasionalnya bisa dikatakan hampir tidak ada, dan perawatan dan perbaikan sangat mudah, tidak memerlukan tenaga ahli khusus.

Hanya persyaratan untuk dapat dipasang pompa ini adalah sungai dengan debit air minimal 5 liter/detik. (DS/dari berbagai sumber)***


Cara pembuatan pompa (update), klik di sini.

Photo Source: flickr/wobblyturkey

Wednesday, 27 August 2008

Teknik Pembesaran Lobster Air Tawar

HIDANGAN lobster laut di restoran seporsinya bisa dihargai Rp 500.000 hingga Rp 1 juta, sementara lobster air tawar paling murah Rp 50.000 per porsinya. Terbentuknya harga yang tinggi ini, sudah pasti karena demand yang tinggi sementara supply-nya seret. Tak pelak lagi lobster menjadi hidangan yang mewah, mahal, dan eksklusif. Siapapun pasti tertarik terjun di bisnis ini?

Secara umum, lobster laut maupun lobster air tawar sama saja, lagi pula asalnya sama-sama dari laut. Hanya saja lobster air tawar lebih rendah kadar kolesterolnya dan kandungan Omega3-nya lebih tinggi. Keistimewaan lainnya, lobster air tawar gampang beradaptasi sehingga lebih mudah dibudidayakan. Bisa dipelihara di akuarium, di kolam, bak mandi, bahkan di kolam-kolam.

Dibandingkan dengan beternak gurame, lele, atau ikan mas, menurut beberapa praktisi, beternak lobster air tawar dianggap sangat menguntungkan. Laba yang diraup bisa jauh lebih besar. Bandingkan saja, bila membesarkan gurame butuh waktu 1 - 1,5 tahun untuk bisa dijual seharga Rp 18.000-Rp 20.000 per kg. Sedangkan lobster air tawar dengan waktu pembesaran yang sama dapat dijual dengan harga Rp 250.000 per kg.

Pertumbuhan lobster air tawar bisa diatur sesuai keinginan peternak, juga dapat dibesarkan dalam waktu relatif lebih singkat dibandingkan pembesaran secara alamiah. Beberapa teknik pembesaran lobster air tawar banyak dikembangkan para peternak dalam maupun luar negeri. Dengan teknik-teknik ini, waktu pembesaran bisa dipacu lebih singkat lagi hingga 4,5 bulan.

Sekadar pengetahuan, beberapa teknik pembesaran lobster diuraikan secara singkat di bawah ini (untuk ukuran kolam besar).

Untuk pembesaran lobster, seleksi benih sangatlah penting. Calon benih harus bongsor. Cirinya tubuh agak kekar dan sedikit lebih panjang. Hanya saja benih seperti itu sulit didapat. Dari setiap betina bertelur, hanya 10% saja yang terlihat bongsor setelah mencapai ukuran 5 cm.

Pilihlah spesies lobster yang mudah dipelihara dan cepat pertumbuhannya, misalnya yang sedang tren adalah jenis lobster Australia (Cherax quadricarinatus) yang terkenal dengan sebutan "si capit merah" (redclaw).

Pembesaran lobster akan optimum bila dilakukan pada kolam tanah berukuran besar di atas 200 m2. Struktur tanah yang baik adalah campuran lempung dan sedikit berlumpur. Tanah berpasir tidak disarankan, karena air mudah menyerap. Sementara tanah liat menghambat proses penyerapan kotoran secara alami. Pemadatan tanah di awal pembangunan kolam mutlak dilakukan. Dinding kolam bisa dilapisi potongan bambu. Kolam bisa dipupuk dahulu agar sumber pakan alami melimpah.

Kualitas air perlu dijaga dengan cara filterisasi. Sebenarnya memanfaatkan arus deras, bisa memajukan waktu panen hingga 30 hari. Sayangnya perlu sumber air dengan debit yang cukup besar. Pembesaran lobster dapat dilakukan di daerah bersuhu sekitar 24 - 26 derajat C. Dataran menengah di atas 600 m dpl berpotensi menghasilkan ukuran konsumsi lebih cepat.

Ketersediaan oksigen terlarut bisa diperbesar dengan pemakaian kincir air. Untuk tempat berlindung lobster, beberapa petani di Australia memanfaatkan ban-ban bekas yang ditumpuk atau dibiarkan berserakan di dasar kolam.

Jenis pakan juga sangat mempengaruhi cepat-lambatnya pertumbuhan lobster. Pemberian pakan pelet secara terus menerus membuat si capit merah akan tumbuh memanjang. Sebaliknya pemberian pakan alami membuat udang menjadi bongsor. Pelet dan pakan alami seperti cacing tanah dan keong mas bisa diberikan bergantian. Dosis pakan ini jumlahnya hingga 5% dari bobot tubuh/hari.

Pertumbuhan lobster dari ukuran tebar 2 inci selama 2 bulan pertama akan mencapai sekitar 8 cm. Tiga bulan berikutnya panjang tubuh redclaw ini 15 cm. Bobot rata-rata akan mencapai 100 - 110 gram/ekor. Bila ruang gerak cukup, lobster akan lebih cepat besar, sehingga padat penebaran diatur pada 8 - 10 ekor/m2. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Lobster Lembut Bersuara Jangkrik

TIDAK seperti kebanyakan lobster yang memiliki cangkang dengan permukaan kasar serta berduri, lobster yang satu ini justru memiliki kulit yang lembut seperti kain wol bila diraba. Dan yang lebih menakjubkan lagi crustacea ini bisa mengeluarkan suara nyaring mirip jangkrik.

Untuk pertama kalinya secara tidak sengaja, lobster langka ini tertangkap pancing kapal pukat komersial di perairan utara Queensland, Australia dari kedalaman 270 m. Untung saja ia ditemukan dalam keadaan hidup dan sehat. Kini hewan laut ini dipertontonkan di akuarium Reef HQ Townsville, yang dikelola Great Barrier Reef Marine Park Authority.

Karena tidak biasanya ini, dengan cangkang seperti kain dan kemampuan untuk mencicit, para ilmuwan telah menempatkan pada genus tersendiri. Hewan ini nyaris hilang dalam khasanah ilmu pengetahuan.

"Sungguh menyenangkan, karena biasanya bila anda mendapat spesies atau genus baru, mereka akan ditempatkan di musium atau diawetkan di dalam botol berisi alkohol," ujar general manager Reef HQ Patrick Filmer-Sankey, yang menggambarkan lobster ini sebagai 'binatang asing' seukuran kelinci."

"Udang besar ini bisa mengeluarkan bunyi seperti jangkrik dengan cara menggesek-gesekkan bagian anatomi tertentu secara bersamaan, kemungkinan kaki-kaki bagian belakang," ungkapnya.

Tidak jelas alasan lobster ini mengeluarkan suara, tetapi para ilmuwan memperkirakan sebagai tanda untuk kawin atau mempertahankan daerah kekuasaannya. Para ilmuwan kini memprediksi ada banyak makhluk mirip lobster ini di perairan Australia dan Pasifik.

Suatu saat bisa spesies langka ini berhasil dibudidayakan, bisnis ikan hias akan semakin marak dengan munculnya jenis anyar ini, bahkan bukan tidak mungkin bakal muncul berbagai kontes lobster "berkicau" di kalangan peternak atau hobiis. (DS/sumber: www.abc.net.au)***

Photo source: flickr/febyfarm

Tuesday, 26 August 2008

Beternak Lebah Madu Cara Australia

MANUSIA telah memelihara lebah untuk diambil madunya sejak 4000 tahun sebelum masehi. Dari zaman dahulu masyarakat sudah percaya bahwa madu sangatlah penting, terutama untuk keperluan pengobatan. Madu juga dipercaya sebagai aprodisiak dan antibakteri.

Secara kimiawi madu adalah campuran komplek dari gula fruktosa dan glukosa dengan air, asam-asam organik, dan mineral dan vitamin, ditambah pigmen-pigmen tanaman.

Madu dihasilkan oleh lebah-lebah dari nektar bunga-bunga sejumlah spesies tumbuhan. Bunga yang berbeda akan menghasilkan jumlah, kualitas, warna, konsistensi dan rasa nektar yang berbeda pula. Variasi dalam nektar bertanggung jawab atas banyaknya perbedaan jenis madu. Sebagai contoh madu yang diproduksi di AS berasal dari cengkih dan alfalfa, yang menghasilkan madu berwarna terang dengan rasa yang lezat, bila dihasilkian dari tanaman buckwheat, warna madu akan lebih gelap dan rasanya lebih tajam. Kebanyakan produk komersial adalah campuran dari beberapa madu.

Lebah penghasil madu, yang biasa dipelihara adalah spesies-spesies Apis mellifera, Apis florea, Apis cerana dan Apis dorsata. Lebah-lebah ini mengumpulkan nektar dari bunga-bunga dan membawanya ke sarangnya, dimana mereka mengubahnya menjadi madu dengan mengeringkannya untuk menurunkan kadar air hingga 17%, dan dengan menambahkan enzim dari air liurnya mengubah sukrosa dalam nektar menjadi glukosa dan fruktosa kemudian disimpan di dalam sel-sel sarang yang berbentuk heksagonal, setelah penuh sel-sel itu akan ditutup dengan lilin. Untuk menghasilkan satu kilogram madu, lebih dari 550 lebah harus mengunjungi lebih dari 2,5 juta bunga-bunga.

Saat ini, madu diproduksi hampir di setiap negara di dunia. Negara-negara utama penghasil madu adalah China, Amerika Serikat, Asia Tengah, dan Australia. Madu Australia memiliki reputasi di pasar dunia sebagai produk berkualitas premium. Madu Australia sepenuhnya bebas dari bahan-bahan kimia seperti pestisida, antibiotika dan penyakit.

Australia memproduksi sekitar 31.000 ton madu per tahun dengan perkiraan nilai produksi kasar sekitar 51 juta dolar Australia. Konsumsi domestik mendekati 15.000 ton per tahun dan sisanya diekspor dalam pra paket dan bentuk besar, membuat Australia sebagai pengekspor madu terbesar keempat di dunia.

Ada sekitar 1.500 apiaris (peternak lebah) komersial di Australia dan beberapa ribuan apiaris paruh waktu serta hobiis. Total ada sekitar 20.000 peternak lebah. Periode produksi utama terjadi pada bulan Oktober dan Maret. Tujuhpuluh hingga delapanpuluh persen produksi madu adalah dari tumbuhan setempat, khususnya eukaliptus yang banyak tumbuh di lahan publik, milik pribadi, dan yang disewakan. Tujuhpuluh persen madu Australia diproduksi di hutan-hutan eucaliptus.

Seluruh madu diklasifikasikan secara internasional menurut warnanya, biasanya harga meningkat dengan menurunnya warna; dari warna amber gelap hingga putih. Namun sistem grading juga dilakukan dengan mengevaluasi penampilan, kadar air, rasa dan bebasnya dari pencemar.

Karena Australia memiliki empat musim, penggembaan lebah di sana harus berpindah-pindah sesuai dengan lokasi yang ada bunganya. Stup-stup digerakkan dari satu tempat ke tempat lain mengikuti pembungaan tumbuhan. Karena kebanyakan tumbuhan hanya berbunga beberapa bulan setiap tahunnya, peternak lebah harus memindahkan lebah-lebahnya antara 4 hingga 6 kali setiap tahunnya. Pada periode ini, bunga-bunga menghasilkan banyak nektar yang diperlukan lebah untuk mengisi sarangnya. Contohnya, selama 8 ñ 10 minggu dalam setahun dari bunga-bunga leatherwood (Eucryphia lucida), rata-rata sarang akan memproduksi sekitar 90 ñ 100 kg madu.

Untuk melepaskan madu dari sarangnya, tutup lilin pada sarang harus dibuka. Ekstrasi madu dilakukan dengan memasukkan frame-frame ke dalam Radial Extractor, sehingga madu tersebut dapat diputar untuk memisahkan madu dari lilin dan pencemar lainnya.

Sebagai diversifikasi usaha non madu, ada sejumlah produk lain yang secara komersial sangat berprospek di Australia, di antaranya pollen (tepung sari), brood, propolis (lem lebah), royal jelly (susu lebah), sengat dan lilin lebah (malam).

Penjualan ratu-ratu lebah dan lebah yang dipaket juga sangat menguntungkan di sana. Ratu-ratu lebah di sana juga diperdagangkan dengan sifat-sifat genetik yang menguntungkan misalnya sifat tahan penyakit. Mereka digunakan untuk mengganti ratu suatu koloni, atau menambah jumlah koloni lebah.

Riset lebah madu di Australia dikembangkan secara progresif. Program riset dan pengembangan ini didukung proyek-proyek riset dan pengembangan yang inovatif dan difokuskan pada produktivitas, kelangsungan, dan keuntungan dari industri peternakan lebah Australia.

Industri peternakan lebah Australia secara progresif dimekanisasi. Peternakan yang berpindah-pindah akan lebih efisien dengan truk-truk yang dilengkapi dengan berbagai peralatan, seperti alat ekstraksi portabel. Para peternakpun diberi pengetahuan mengenai prinsip-prinsip penangkaran lebah dengan iklim dan vegetasi sekeliling mereka. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***


Bagaimana Menentukan Madu Asli?

MENCARI madu ternyata gampang-gampang sulit. Madu sangat mudah diperoleh, banyak dijual di toko, pasar, supermarket hingga pedagang madu keliling. Namun, untuk mendapatkan madu yang benar-benar berkualitas sangatlah sulit. Apalagi pengetahuan kita soal madu masih sangat minim. Akibatnya, berkembang anggapan-anggapan yang salah mengenai madu. Contohnya anggapan bahwa ada madu yang asli dan ada yang palsu. Menurut pakar perlebahan, tak ada istilah asli atau palsu dalam madu. Semua madu itu asli, karena tak ada yang mampu membuat madu selain lebah. Yang ada adalah madu yang berkualitas tinggi atau rendah.

Memang hanya dengan melihat, sangat sulit menentukan apakah madu yang kita beli berkualitas tinggi atau rendah. Semua itu harus diperiksa di laboratorium. Namun, jangan khawatir. Agar Anda tak tertipu membeli madu, ada beberapa ciri yang menentukan berkualitas atau tidaknya sebotol madu.

-Madu yang berkualitas tinggi biasanya memiliki kekentalan yang sangat pekat. Sehingga, disarankan untuk membeli madu yang tidak encer. Selain itu, pilihlah madu yang tidak berbuih. Buih adalah pertanda madu telah mengalami fermentasi. Sehingga kualitasnya sangat rendah.

-Ada anggapan di masyarakat bahwa bila madu dimasukkan ke dalam botol tertutup dan meletup adalah pertanda madu asli. Sebenarnya madu yang meletup itu telah mengalami fermentasi, karena banyak mengandung gas karbondioksida.

-Ada juga kepercayaan di masyarakat untuk mengukur madu berkualitas tinggi dengan memakai korek api. Namun bisa saja korek api yang dicelupkan ke dalam madu bisa cepat terbakar, karena madu tersebut telah mengandung alkohol.

-Mengukur madu dengan semut pun tak bisa jadi jaminan. Madu yang rasanya sudah asam, tak akan didatangi semut.

-Untuk mendapatkan madu yang berkualitas tinggi, Anda perlu mencicipinya. Bila rasa madu tersebut sudah masam, maka kualitasnya sangat rendah. Selain telah mengalami fermentasi, madu tersebut juga telah menjadi asam cuka.

-Kualitas madu ditentukan oleh kadar air, gula serta hidroksimetilfulfurat (HMF). Berdasarkan, Standar Nasional Indonesia (SNI), kadar air yang dikandung madu maksimal 22 persen. Sementara standar FAO (organisasi pangan dan pertanian PBB) adalah 20 persen.

Madu bersifat hidroskopik, sangat mudah menyerap air. Jika madu dibiarkan terbuka, maka madu akan mengambil air dari udara. Sehingga, madu harus disimpan ditempat tertutup. Dengan begitu, madu tidak akan cepat rusak. Madu yang berkualitas tinggi juga harus mengandung gula sukrosa yang tak terlalu tinggi. Kadar sukrosa pada madu berdasarkan standar SNI, tak boleh lebih dari 10 persen. (DS/sumber: Republika Online)***


Wednesday, 13 August 2008

Cara Praktis Membuat Kolam Taman


LEPAS dari situasi yang penuh tekanan, kemacetan lalu-lintas, bekerja seharian, memikirkan berbagai beban hidup, adalah hal yang kini banyak dicari oleh setiap orang. Ketika frustrasi mencapai puncaknya, orang butuh relaksasi dalam suasana alam yang damai. Gemercik air, liukan ikan, suara katak di kolam taman, merupakan obat mujarab untuk meredakan stres sekaligus menjadi hiburan untuk sejenak melupakan berbagai masalah dalam kehidupan modern. Dengan sedikit perencanaan serta penggalian di akhir pekan, anda bisa mewujudkan keinginan untuk menikmati suasana alam yang damai.

Dengan kemajuan teknologi, membangun sebuah kolam taman bukan lagi hal yang cukup merepotkan yang harus ditangani ahlinya. Sesibuk apapun anda, masih bisa meluangkan waktu untuk membangun sebuah kolam taman di sekitar rumah anda.

Tahap pertama dalam membuat kolam taman adalah merencanakan lokasi. Pilih tempat yang sesuai dengan interior rumah, sehingga kolam taman bisa terlihat, bahkan terdengar, dari dalam rumah, membawa suasana alamiah ke dalam rumah. Perhatikan juga, ketersediaan sinar matahari bagi tumbuhan air. Aksesibilitas pada pasokan air dan listrik juga merupakan faktor yang penting bila kolam Anda memerlukan pompa, lampu dan aksesoris lainnya.

Ada tiga metode untuk membangun kolam taman. Kolam terbuat dari beton akan tahan lama bila dipasang secara layak. Namun, bila tidak tepat dalam mencampur adukan beton bisa-bisa malah retak sebelum dipakai, metode ini hanya dikerjakan oleh ahlinya. Metode yang populer adalah menggunakan lapisan plastik fleksibel (pond liner) sebagai dasar kolam. Bahannya terbuat dari karet atau plastik, ringan dan bisa dibentuk sesuai keinginan. Metode ketiga adalah yang lebih praktis dan mudah pemasangannya lagi pula tahan lama, yaitu kolam 'jadi siap pakai' berbahan fiberglas, polyethylen, atau plastik PVC yang dikenal sebagai preformed liner.

Sedikit aksesoris bisa ditambahkan pada kolam anda, seperti pompa, selang, filter, zat aditif air dan air mancur, jangan lupa ikan dan tumbuhan airnya. Pompa seharusnya dipilih berdasarkan pada kapasitas air dalam galon dari kolam anda.

Untuk memudahkan pekerjaan, biasana ada toko yang menjual kit-kit kolam taman lengkap dengan aksesorisnya, jadi anda tinggal memasangnya sesuai buku petunjuk yang disertakan. Suatu proyek yang menyenangkan dan bisa dilakukan sendiri.

Rancang bentuk yang diinginkan kolam Anda dengan selang taman atau tali. Konsultasi pada klub taman kolam yang ada di sekitarmu atau ahli lansekap untuk merekomendasikan ukuran dan kedalaman daerah kamu.

Untuk kesempatan kali ini, penulis hanya memberi gambaran mengenai pemasangan "kolam jadi" yang sudah dibentuk. Kelebihan preformed liner ini, tidak merepotkan dalam pemasangannya, tahan lama, dilengkapi dengan "rak-rak" untuk menanam tumbuhan air. Yang menarik dari "kolam jadi" ini menawarkan aneka miniatur dari berbagai danau terkenal di dunia seperti danau Laut Aral, atau Danau Victoria yang ada di Amrik.

"Kolam jadi" sangat mudah untuk dipasang dan ada banyak macamnya dengan ukuran dan volume yang bisa disesuaikan dengan lokasi taman yang Anda pilih.

Untuk memulai pekerjaan, rancang bentuk kolam yang diinginkan dengan bantuan selang taman atau tali. Tak ada salahnya bila anda konsultasi pada asosiasi taman atau ahli lansekap untuk merekomendasikan kolam yang terbaik.

Prosedur pemasangan kolam jadi dimulai dengan merancang perimeter (batas terluar) kolam dengan selang atau tali, kalau perlu beri patok agar bentuk lebih sesuai. Buat perimeter selebar 2 inchi pada setiap arah dari kolam jadi.

Selanjutnya, ukur dimensi bentuk kolam. Kemudian gali lubang yang sesuai dengan dimensi kolam jadi, tambah 2 inchi kedalaman galian untuk lapisan bantalan pasir. Ikuti kontur kolam jadi. Bersihkan galian dari batu atau objek tajam dan yakinkan tanah kompak dan lembut. Lapisi lubang tersebut dengan 2 inchi pasir yang dipadatkan.

Sebelum dipasang, bersihkan kolam jadi ini dengan air, kemudian turunkan ke dalam lubang. Bentuk kolam harus pas dengan lubang di tanam, yakinkan tiap sisinya pas. Ukur ketinggian kolam pada beberap arah. Sisi-sisi kolam seharusnya agak terangkat sedikit dari tanah sehingga kotoran tidak masuk ke dalam kolam.

Dengan "kolam jadi" di tempatnya, isi dengan pasir atau tanah antara kolam dan penggalian. Setelah pengisian hampir mendekati setengah tinggi kolam, secara perlahan isi kolam dengan air. Ketika level air menaik, terus jejali dinding luar kolam dengan pasir sampai bisa menyokong kolam.

Ketika sudah penuh air, pekerjaan selanjutnya adalah menyamarkan setiap sisi kolam dengan batuan. Agar lebih bagus dan natural, biarkan batu-batu menonjol ke arah kolam yang juga bermanfaat untuk naungan ikan-ikan.

Langkah selanjutnya adalah menempatkan berbagai aksesoris yang diperlukan bagi kolam taman anda, seperti penempatan pompa air beserta pasokan listriknya, filter kolam, atau lampu kolam.

Sebelum menanam tumbuhan dan menebar ikan di dalam kolam, anda harus menghilangkan klorin dari air bila dari air PDAM. Biarkan filter biologis (lihat tulisan kedua) Anda beroperasi tiga hingga empat hari setelah pengisian kolam untuk membangun bakteri kesehatan yang diperlukan untuk memurnikan air kolam.

Gunakan termometer apung untuk meyakinkan suhu kolam pada tingkat aman sebelum ikan dimasukkan. Umumnya, kebanyakan ikan koki dan koi bisa tahan pada suhu sekitar 50 derajat Fahrenheit, namun konsultasikan dengan penyedia ikan menurut prosedur aklimatisasi. (Dede Suhaya/sumber: www.extremehowto.com)***


Filter Alamiah

MENJAGA sebuah kolam taman relatif lebih mudah daripada memelihara ikan dalam akuarium. Anda bisa memanfaatkan filtrasi biologis yang baik dan alamiah, guna menyeimbangkan ekosistem kolam.

Tumbuhan air membentuk banyak fungsi dalam kolam. Tidak hanya menambah keindahan, tumbuhan air juga membantu menstabilkan keseimbangan ekologis dengan menjaga air tetap bersih -- terutama bila kolam anda diisi ikan. Beberapa pehobi kolam taman lebih suka menanam tanaman lotus atau teratai, yang bisa membantu menaungi kolam, menjaga sinar matahari dan menurunkan suhu air. Lotus-lotus juga membantu meminimalisir alga dan mendaur ulang limbah ikan menjadi pupuk. Plus, oksigen yang dikeluarkan tumbuhan bermanfaat bagi ikan.

Selain sistem penyaringan alamiah, banyak juga diperdagangkan sistem penyaringan biologis yang berkerja sendiri yang secara konstan digerakkan air secara fisik, untuk menghilangkan kotoran, dan lewat koloni bakteri untuk merawat sifat-sifat air yang diinginkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup ikan dan tumbuhan.

Suatu sistem penyaring biologis akan menyediakan kebutuhan akan bakteri yang menjaga air tetap aman bagi kehidupan tumbuhan dan ikan. Dasarnya melibatkan pompa yang mensirkulasi air lewat filter yang diciptakan dari beberapa bentuk media bakteri. Salah satunya yang bermerek dagang Bio Ball pilihan populer untuk media bakterial; bola plastik mirip sarang lebah dengan banyak area permukaan, meningkatkan pertumbuhan bakteri. Namun batu lava juga bisa pakai dengan efek yang sama.

Sistem penyaringan bisa dikonfigurasi dalam sejumlah cara, mulai dari ditenggelamkan di dasar kolam, hingga secara strategis menempatkannya pada akses yang mudah dan secara estetis tempat yang logis dalam tata letak. (DS/sumber: www.extremehowto.com)***

Sumber foto: flickr.com/cyntroux




Hydrogel, Media Tanam Unik untuk Hidroponik

TEKNIK pertanian modern seperti hidroponik sudah menjadi kebutuhan yang mendesak, menyusul semakin berkurangnya ketersediaan lahan untuk bercocok tanam. Berkurangnya lahan pertanian ini antara lain karena pertambahan penduduk yang cepat akibat faktor kelahiran, perpindahan penduduk, dan urbanisasi.

Cara budidaya tanaman dengan teknik hidroponik dinilai praktis, bersih dan hemat tenaga. Cara ini juga banyak disuka hobiis tanaman hias. Hasilnya, tak kalah dengan budidaya dalam pot biasa. Malah lebih aman dari serangan hama ketimbang memakai media tanah. Hampir semua jenis tanaman hias bisa dibudidayakan dan dipajang dengan teknik hidroponik. Terutama untuk tanaman in door.

Bicara soal hidroponik, tak bisa lepas dengan yang namanya media tanam. Betapa tidak, media tanam memegang peranan sangat penting untuk suksesnya bercocok tanam sistem hidr
oponik. Media tanam untuk hidroponik biasanya menggunakan batu perlit atau vermiculit. Batu perlit merupakan batu dari letusan gunung berapi, bentuknya dibuat bulat-bulat, poros, dan ringan.

Namun bila perlit dan vermikulit sukar didapat dan mahal harganya, banyak alternatif lainnya, seperti batu apung, pecahan batu bata atau genteng, pasir, arang kayu, arang sekam, pakis, sabut kelapa, ijuk, spon, peat moss (gambut), rock wool, zeolit. Juga kerikil sintesis Lecaton dan Blahton yang banyak dijual di nursery atau toko-toko tanaman hias. Prinsipnya, media tersebut harus bersifat porous (berongga) untuk sirkulasi udara, mudah menyerap air, tidak cepat lapuk, akar mudah menempel, dapat menyimpan zat hara, dan tidak mudah menjadi sumber penyakit.


Pada dasarnya sistem hidroponik adalah upaya memberikan bahan makanan dalam larutan mineral atau nutrisi yang diperlukan tanaman dengan cara disiram atau diteteskan. Pekerjaan menyiram atau mengairi media tanam inilah menjadi persoalan. Sistem pengairan hidroponik bila dilakukan secara manual akan sangat merepotkan, sementara bila dilakukan secara otomatis butuh energi dan bahan yang tidak sedikit; perlu pompa, listrik, selang, pen
gatur waktu, dsb. Hingga ditemukan solusi yang cukup unik yaitu dengan menggunakan media tanam yang dinamakan hydrogel.

Hydrogel adalah penemuan terbaru yang menarik untuk mempermudah sistem pertanian hidroponik. Kristal-kristal polimer ini bisa dijadikan media tanam yang praktis karena sifatnya yang mampu menyerap air, sehingga pekebun akan dibebaskan dari rutinitas menyiram tanaman, selain itu dengan keanekaragaman warnanya bisa memperbaiki penampilan tanaman secara keseluruhan, karena bisa disesuaikan dengan selera dan diselaraskan dengan warna tanaman. Hal ini dapat menciptakan keindahan dan keasrian tanaman hias yang ditempatkan di ruang tamu atau di ruang kantor.


Kelebihan hidrogel, selain tampilannya indah berwarna-warni, juga praktis, dapat disiram sebulan sekali, terhindar dari hama tanah, cocok untuk tanaman di dalam ruangan seperti ruang tamu atau meja kerja.


Selain sebagai media tanam bagi tanaman hias, hidrogel juga cocok un
tuk perkebunan dan hutan tanaman industri. Hidrogel digunakan sebagai campuran untuk menyempurnakan tanah. Jeli dari hidrogel lazim pula digunakan untuk budidaya jamur shiitake. Selain itu gel ini berguna bagi pertanian di kota-kota besar yang lahannya sempit serta kualitas tanahnya jelek. Sedikit tanah, diberi campuran hidrogel dan pupuk, bisa menjadi media yang baik untuk berkebun.

Menurut ensiklopedia Wikipedia, hydrogel adalah suatu jaringan rantai-rantai polimer yang mudah menyerap air, hidrogel adalah polimer penyerap super (superabsorbent), ia dapat mengandung air hingga 99%. Hidrogel adalah kristal-kristal pengisap air, mampu menyerap air 600 kali dari bobotnya. Kristal-kristal ini tampak seperti butiran-butiran kecil kwarsa sebelum jenuh dengan air, dan mirip cabikan jeli jernih bila air ditambahkan.

Bahan-bahan pembentuk hydrogel biasanya terdiri dari polyvinyl alcohol, natrium polyacrylate, polimer-polimer acrylate lai
nnya dan ko-polimer dengan kelompok hydrophilic (pengikat air) yang melimpah.

Pada awalnya hidrogel digunakan untuk diaper sekali pakai dimana ia dapat "menangkap" urin, untuk handuk-handuk kesehatan, lensa-lensa kontak (hidrogel silikon, polyacrylamides), elektroda-elektroda medis (polyethylene oxide, polyAMPS dan polyvinylpyrrolidone). Juga digunakan untuk operasi payudara, pembalut luka bakar, wadah obat-obat ionis, dan butiran untuk mempertahankan kandungan air tanah di kawasan tandus.


Salah satu kehebatan hidrogel hadir dalam merek dagang Osmogro, yang menciptakan teknologi pengairan mandiri --tumbuhan mampu mengairi dirinya sendiri. Teknologi pengairan Osmogro yang unik ini, bisa mengantarkan air dari penampung eksternal ke dalam pot tumbuhan dengan cara osmosis dan difusi menggunakan membran hidr
ogel. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***


Meningkatkan
Pertumbuhan Tanaman


HIDROGEL atau dikenal juga sebagai polimer penyerap super (super-absorbing polymer --SAP) juga terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Produk hi
drogel terbaru ini dikembangkan oleh seorang insinyur polimer dari Universitas Waseda, Jepang, Prof. Yuichi Mori. SAP jenis baru ini dinamakan 'Sky Gel', dan secara meluas telah digunakan untuk taman-taman atap, rehabilitasi hutan, kultur jaringan, hidroponik dan aeroponik.

"Sky Gel
memiliki sifat menahan air yang sempurna, dan dalam eksperimen dengan tanaman radish dan mentimun menunjukkan gel ini secara terus menerus meningkatkan ujung tumbuh dan perakaran. Ketika Sky Gel diaplikasikan pada zona akar, zat ini mampu menahan kadar air dan secara lambat melepaskannya ke tanaman yang sedang tumbuh. Sky Gel berada di balik keberhasilan proyek stabilisasi kemiringan bukit-bukit di Gunung Fuji, dan mampu menghentikan lajunya gurun pasir. Mampu menahan erosi angin dan menstabilkan bukit-bukit pasir," terang Prof. Mori.

SAP konvensional (jalinan silang sodium polyacrylate) memiliki kemampuan menyerap air dengan sempurna (hingga 200 ml air
per gram SAP), dan sangat dipercaya dalam menjaga tumbuhan dalam penyerapan airnya. "Kunci Sky Gel ada pada sifat pertukaran ionnya - yaitu penyerapan ion kalsium, yang penting untuk tanaman tumbuh serta pelepasan ion natrium, yang berbahaya bagi tumbuhan," tegas Prof. Mori. Bila SAP ditambahkan di atas konsentrasi kritis (di atas 0,1 volume persen) pada tanah, tumbuhan bisa kekurangan perkecambahan dan hambatan untuk tumbuh.

"Kami mensintesa Sky Gel dengan secara parsial menggantikan kelompok natrium acrylate SAP dengan kalsium acrylate dan kelompok asam acrylic.
Kemampuan menyerap air dari kalsium pada Sky Gel secara signifikan sama tingginya dengan SAP konvensional," jelas Prof. Mori.

Produksi Sky Gel di Jepang dilakukan dengan memanfaatkan produksi SAP konvensional. "Ongkos produksinya akan sangat mendekati SAP bila permintaan Sky Gel meningkat setinggi SAP, yang produksinya sekitar 100 juta ton per tahun," ujar Prof. Mori. Saat ini, harga Sky Gel sekitar sepuluh kali SAP konvensional. (DS/berbagai sumber)***


Photo Source: flickr.com/eknima

Friday, 1 August 2008

Gelombang Suara, Mampu Tingkatkan Produktivitas Tanaman

HASIL penelitian para ahli membuktikan, seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik, terutama musik klasik, akan lebih berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya, selain juga mampu secara optimal meningkatkan performa kerja seseorang. Itu pengaruh musik atau suara-suara beraturan pada manusia yang notabene merupakan makhluk hidup pada tingkatan yang sudah kompleks.

Pada tingkatan makhluk hidup yang lebih rendah pun tak ada bedanya, dalam hal ini tumbuh-tumbuhan, secara nyata sudah terbukti gelombang suara atau bunyi yang menenangkan mampu meningkatkan pertumbuhannya.

Penerapan teknologi gelombang suara pada tanam-tanaman atau lebih dikenal sebagai Sonic Bloom ternyata sudah lama diterapkan. Khususnya di Indonesia, teknologi Sonic Bloom pertama kali diperkenalkan pada tahun 1997, namun konsepsi teknik pendekatannya belum banyak dipahami para penggunanya.

Menurut Didiek Hadjar Goenadi, Ahli Peneliti Utama bidang Tanah dan Pemupukan Departemen Pertanianóseperti ditulis Kompas.comópada prinsipnya teknologi ini berupa pemupukan daun yang diinduksi dengan aplikasi gelombang suara dari sumber bunyi yang memancarkan gelombang dengan frekuensi antara 3.500 dan 5.000 Hertz. Sebuah kisaran gelombang suara yang masih dapat didengar telinga normal manusia.

Akan halnya pupuk daun yang diberikan mengandung senyawa nutrisi berbentuk ikatan organik. Cara pelaksanaannya didahului dengan pemancaran gelombang suara, sehingga diharapkan pupuk yang diberikan lewat daun (di samping yang diberikan lewat tanah) bisa diserap oleh tanaman melalui mulut daun (stomata).

Dengan meningkatnya penetrasi dan translokasi nutrisi ke dalam daun, metabolisme tanaman akan meningkat dan pada gilirannya pertumbuhan dan produksi meningkat pula. Mekanisme peningkatan serapan nutrisi via stomata diyakini oleh penemunya, Dan Carlson dari Amerika Serkat, akibat dari meningkatnya jumlah stomata yang membuka dan atau membesarnya ukuran stomata yang terbuka.

Keyakinan ini sulit dipahami berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang disajikan. Secara teoretis, menurut Didiek, mulut daun ini hanya membuka dan menutup oleh perintah satu organ yang disebut guard cell. Perintah ini muncul sebagai respons terhadap kelembaban, suhu, dan atau cahaya.

Di lain pihak, gelombang suara merupakan gerakan mekanis yang mampu menggetarkan semua materi yang dilaluinya dengan frekuensi yang sama, peristiwa ini dalam ilmu fisika disebut resonansi. Resonansi yang terjadi inilah, tegas Didiek, yang akan menggetarkan molekul nutrisi di permukaan daun, sehingga mengintensifkan penetrasinya melalui stomata atau mulut daun.

Untuk memudahkan penerapan di lapangan, sistem Sonic Bloom yang dijual di pasaran biasanya sudah dalam bentuk kit atau paket siap pakai. Sebagai gambaran, di sonicbloom.com sebuah paket Commercial Kit untuk luas lahan lebih dari 60 acre dihargai US$2.950 sudah termasuk 7 unit sound (speaker) yang dipasang pada empat arah, dilengkapi CD atau kaset yang berisi musik klasik, suara biola atau suara cengkerik/burung, plus 10 galon konsentrat pupuk daun. Ada juga yang dilengkapi dengan sensor cahaya sehingga bisa mati sendiri bila malam tiba.

Di Indonesia, Provinsi Jawa Tengah merupakan wilayah yang sangat intensif mensosialisasikan teknologi Sonic Bloom ini. Dari berbagai hasil pengujian pada beberapa komoditi pertanian penting bisa disimpulkan aplikasi teknologi ini menguntungkan. "Penggunaan Sonic Bloom mampu meningkatkan produktivitas, kualitas hasil tanaman, dan memperpendek masa panen pada berbagai komoditas tanaman," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jateng, Sukarno seperti dikutip www.pikiran-rakyat.co.id.

Ia mengatakan, aplikasi Sonic Bloom dapat meningkatkan produktivitas padi dari 6,614 ton gabah kering panen (GKP)/ha menjadi 8,314 ton GKP/ha (25,4 persen). Demikian pula tanaman bawang merah dari 11,880 ton umbi/ha menjadi 14,050 ton umbi/ha (18,3 persen), dan kentang dari 15,102 ton/ha menjadi 18,843 ton/ha.

Keuntungan bersih pada padi dapat meningkat hingga Rp 800.000/ha/MT, sedang pada bawang merah dan tebu masing-masing meningkat Rp 4,5 juta/ha/MT dan Rp 6 juta/ha/MT. Peningkatan keuntungan ini merupakan akibat langsung dari peningkatan produksi karena penerapan teknologi ini.

Apabila hasil-hasil ini konsisten, keberhasilan pengembangan aplikasi teknologi Sonic Bloom di berbagai komoditi pertanian akan membawa dampak positif bagi kalangan petani dan masyarakat. Inilah jawaban bagi upaya pencapaian ketahanan pangan yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintahan. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Sama dengan Frekuensi Suara Burung

DAN Carlson adalah sosok di balik penemuan teknologi Sonic Bloom ini. Apa yang menjadi motivasi Carlson, berawal dari peristiwa mengerikan yang dia saksikan di awal tahun 1960-an. Ketika bertugas sebagai tentara di zona demarkasi Korea Utara dan Selatan, ia menyaksikan seorang ibu kelaparan yang melindaskan kaki anaknya pada ban belakang sebuah truk tentara, demi mendapatkan hak bantuan makanan.

Sepulang bertugas dari daerah konflik tersebut, Carlson meluangkan waktu untuk studi fisiologi tumbuhan di Universitas Minnesota. Dipicu oleh gagasan bahwa frekuensi suara bisa membantu tumbuhan ëbernafasí lebih baik serta menyerap lebih banyak zat makanan, ia mulai bereksperimen dengan bermacam-macam frekuensi sampai akhirnya, dengan bantuan seorang insinyur audio, ia menemukan suatu kisaran frekuensi suara yang serupa dengan siulan burung di pagi hari, yang membantu membuka stomata (pori-pori daun) tanaman lebih lebar.

Di setiap daun ada ribuan pori-pori kecil ini. Setiap stomaóyang lebarnya kurang dari 1/1.000 inchiómemungkinkan oksigen dan air memasuki daun (transpirasi), sementara gas-gas lainnya, terutama CO2, juga melalui jalan ini untuk berlangsungnya proses fotosintesis menghasilkan zat makanan bagi tumbuhan. Selama kondisi kering, stomata ini akan tertutup untuk mencegah layunya tumbuhan akibat kekeringan.

Dari tayangan fotomikrograf memperlihatkan, stomata pada daun membuka lebih besar akibat frekuensi suara yang digunakan Carlson. Sementara lewat mikroskop elektron menunjukkan secara nyata kerapatan stomata lebih tinggi pada daun yang diperlakukan dengan sistem akustik ini.

Karena secara normal stomata menyerap embun di pagi hari, maka pemberian ëminumí nutrien dalam bentuk unsur-unsur yang mengalir bebas tentunya bisa dilakukan. Carlson kemudian mengembangkan semprotan organik khusus untuk diaplikasikan pada daun-daun tumbuhan bersama dengan bantuan suara yang akan mempengaruhi terbukanya stomata. Untuk mengembangkan larutan zat-zat makanan yang efektif, Carlson melakukan trial and error selama 15 tahun. Ia tidak hanya mencari unsur-unsur yang membuat tumbuhan berkembang, tapi juga menemukan keseimbangan yang cocok di antara unsur-unsur tersebut. Untuk menemukan perbandingan yang cocok Carlson melakukan pengujian dengan bantuan isotop radioaktif dan pencacah Geiger untuk menjejak perjalanan unsur-unsur tersebut dari daun ke batang ke pucuk hingga ke akar. (DS/sumber: www.sonicbloom.com)***




Tuesday, 22 July 2008

"Tonggeret" Mampu Meningkatkan Produktivitas Padi

HARI menjelang sore di perkampungan terpencil di Kabupaten Bandung. Suara nyaring itu kembali memekakan telinga warganya. Itulah nyanyian tonggeret yang kerap memecah keheningan alam pedesaan yang damai ini. Suaranya yang monoton seakan mampu mempengaruhi suasana hati siapapun yang mendengarnya.

Bagi sebagian warga desa, lengkingan tonggeret menjelang magrib mampu mempengaruhi suasana hati dan emosi mereka, kadang membuatnya tidak betah tinggal di desanya sendiri. Sementara bagi perantau yang tinggal di kota-kota besar, suara tonggeret mampu menjadi obat penawar rindu akan kampung halamannya, dan mengembalikan kenangan indah sewaktu tinggal di desa.


Apapun pengaruhnya dari nyanyian itu, tonggeret hanyalah sejenis serangga bersayap yang mengeluarkan suara bukan bermaksud mempengaruhi suasana hati manusia, tetapi dengan suaranya yang khas itu mampu memikat hati pasangannya.


Di kalangan para ahli biologi, nyanyian tonggeret bukan sekadar untuk memikat serangga betinanya, di balik itu ada manfaat bagi lingkungan sekitarnya, terutama bagi tanaman.


Ir. Joko Wiryanto adalah salah seorang yang memikirkan fenomena tersebut, dan mewujudkannya menjadi sebuah alat yang berguna bagi dunia pertanian. Alat yang dimaksud adalah rangkaian elektronik yang bisa mengeluarkan suara meniru suara tonggeret yang mampu mempengaruhi tanaman di sekitarnya. Joko pun tak segan-segan menamai temuannya ini dengan nama "Tonggeret" untuk "menghormati" serangga yang sudah jarang kita dengar nyanyiannya ini.


Di mata para petani, Joko Wiryanto sudah tidak asing lagi berkat inovasinya yang beragam untuk memajukan dan mensejahterakan para petani binaannya. "Tonggeret" adalah salah satu inovasi cerdasnya yang kini tengah diuji coba untuk menjajal kemampuannya di lapangan.


Menurut pria lulusan tahun 1990 Teknik Industri Universitas Pasundan ini, alat yang mengeluarkan bunyi nyaring ini berfungsi untuk meningkatkan metabolisme tanaman dan membuka stomata secara maksimal sehingga kemampuan daya serap daun bisa maksimal. Dengan demikian tanaman tumbuh lebih baik dan mampu meningkatkan produktivitasnya.


Bagaimana alat ini bisa meningkatkan metabolisme tanaman, dipaparkan Joko pada penulis.


Seperti kita ketahui, setiap daun tanaman memiliki mulut-mulut daun yang disebut stomata, pada suhu dan kelembaban tertentu, biasanya pagi hari, mulut daun secara normal akan terbuka untuk menyerap zat-zat makanan dari embun yang mengalir di atasnya. Namun, menurutnya, cara alamiah ini terbatas pada waktu, suhu dan kelembaban tertentu, lagi pula pembukaan stomatanya tidaklah maksimal.


"Mengapa tidak, membuat alat bunyi yang mampu mempengaruhi pembukaan stomata daun dengan maksimal," ujar Ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Cimahi ini. Menurut Joko, bunyi yang dikeluarkan "Tonggeret" hasil ciptaannya mampu memaksa mulut-mulut daun terbuka secara maksimal. Dengan terbukanya mulut-mulut daun maka pemupukan pada daun jadi lebih efektif. Perpaduan aplikasi nutrisi via daun disertai pemberian gelombang suara frekuensi tinggi ini, menurutnya, akan mampu meningkatkan metabolisme tanaman.


Menilik dari cara kerja alat sederhana ini, banyak kemiripan dengan alat serupa hasil ciptaan Dan Carlson yang disebut Sonic Bloom, dengan komponen utama rangkaian elektronik yang menghasilkan gelombang suara frekuensi tinggi yang dikeluarkan lewat sebuah speaker.


Memang sedikit banyak tonggeret elektroniknya diilhami cara kerja Sonic Bloom ini, Joko pun tidak memungkirinya, namun hasil kreasinya memiliki beberapa kelebihan dibanding alat impor yang mahal ini. Di antaranya bunyi yang dikeluarkan "Tonggeret" tidak monoton seperti Sonic Bloom, tapi memiliki irama dengan hentakan-hentakan. Hal ini ada maksudnya, dengan frekuensi yang menghentak-hentak sebesar 2,5 kHz - 7 kHz, stomata daun akan terbuka dengan maksimal.


"Tonggeret" mampu mengcover lahan pertanaman seluas setengah hektare. Beroperasi pada catu daya 9 - 12 volt DC, pengoperasian alat seukuran 14,5 x 9,5 x 5 cm ini bisa dilakukan kapan saja, siang atau malam, asalkan 1 jam sebelum dan sesudah penyemprotan pupuk cair dilakukan. Pengaplikasian alat suara ini disarankan pada tanaman padi berusia 3 minggu, dan seterusnya selang 1 hingga 2 minggu. Agar penyerapan nutrisi lebih optimal, disarankan hasil semprotan membentuk kabut dengan cara mengatur nosel pada alat penyemprot.

Sebuah hamparan padi seluas 69 hektare milik kelompok tani Lumintung, Desa Kemamang Kecamatan Candi Puro Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sudah menjajal keandalan tonggeret elektronik ini. "Satu jam setelah diaplikasikan alat ini disertai penyemprotan pupuk cair organik, tak perlu menunggu keesokan harinya, sudah terjadi perubahan warna pada daun yang menghijau," ujar Balok Sunyoto salah seorang petani asal Jawa Timur.

Untuk hasil yang lebih optimal, Joko menyarankan, ketika diaplikasikan alat suara ini sebaiknya ditempatkan sejajar dengan ujung daun dan searah hembusan angin, dan dinyalakan 1 jam sebelum dan sesudah penyemprotan pupuk daun. Sementara jenis pupuk yang digunakan untuk mendampingi alat suara ini adalah jenis pupuk cair organik (POC) hasil racikan Joko Wiryanto sendiri. POC mengandung unsur hara NPK serta memiliki valensi sama dengan cairan sel dalam daun. Takaran yang disarankan sebanyak 1 cc POC per liter air. Untuk lahan 1 hektare, Joko menjamin cukup dengan POC sebanyak 500 cc.


Hasil peningkatan panen padi dengan mengaplikasikan "Tonggeret" serta penyemprotan pupuk POC, diprediksi Joko, minimal bisa mencapai 20%. "Bahkan bisa mencapai 300% - 500% bila petani rajin menyemprot dan membunyikan 'Tonggeretnya'," tambah petani intelek ini.


Saat diperkenalkan "Tonggeret" ini, respon para petani cukup antusias, seperti diceritakan Balok Sunyoto, walaupun alat suara yang digunakan di Lumajang masih prototipe, namun mereka memaksa untuk menggunakannya bahkan berani membelinya.

"Tonggeret" barulah tahap pertama, selanjutnya pria asal Salakopi, Kec, Cihampelas, Kab. Bandung Barat ini akan mengembangkan versi "Tonggeret" yang selain mampu membuka stomata daun sekaligus mengusir hama tanaman, seperti tikus dan burung dengan mengubah frekuensi alat tersebut. Ketika penulis berseloroh, apakah alat itu bisa mengusir "hama" manusia? Ia dengan serius bisa melakukannya, bahkan pernah menidurkan seseorang yang sedang stres dan kelelahan dengan memperdengarkan bunyi alatnya pada frekuensi tertentu. (Dede Suhaya)***

Friday, 11 July 2008

Spirulina, "Superfood" Berprotein Tinggi

KERAGAMAN pangan menjadi hal yang cukup urgen di negara-negara berkembang seperti halnya di Indonesia, yang penduduk miskinnya tak pernah berkurang. Beberapa kasus kekurangan makanan dan busung lapar di beberapa daerah sempat mengagetkan kita. Kasus-kasus ini menjadi bukti kemiskinan dan kelaparan masih bercokol di negara yang terkenal akan kesuburan dan kekayaan alamnya ini.

Bagaimana mengatasi kemiskinan, kekurangan makan dan kekurangan gizi merupakan problem yang cukup komplek, berbagai aspek perlu dilibatkan untuk mengatasinya. Rubrik Tekno kali ini tidak bermaksud membahas cara mengatasi kemiskinan. Di sini hanya akan membahas aspek kecil saja, yakni pangan yang berasal dari alam, yang sebenarnya melimpah di negara ini.


Pada kesempatan kali ini akan dibahas secara singkat mengenai sebuah komoditi "mungil" namun manfaatnya sangat besar, yaitu ganggang Spirulina. Selain berpotensi sebagai bahan pangan alami yang bermutu tinggi, spirulina juga memberikan harapan bagi keperluan lain, apalagi kesempatan bisnisnya yang menggiurkan. Yang nyata dan sudah dikembangkan dari spirulina adalah sebagai zat pewarna, industri farmasi dan pakan ikan.


Saat ini, budidaya plankton spirulina menjadi fenomena di seluruh dunia karena kualitas nutrisinya yang luar biasa. Spirulina merupakan sumber alamiah tunggal, "superfood" yang menyediakan dalam jumlah besar protein bagi manusia. Spirulina mengandung 71% protein. Protein yang terkandung dalam spirulina tiga kali dari kacang kedelai, lima kali daging, dan kualitas protein di antara yang terbaik.


Kalangan industri mancanegara telah lama mengembangkan ganggang renik ini. Jepang, Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Thailand, India, dan Vietnam adalah sebagian dari negara-negara yang mengandalkan produk ganggang ini. Bahkan produknya sudah lama masuk pasaran Indonesia.


Iklim tropis di Indonesia sangat cocok untuk pembudidayaan ganggang spirulina. Teknologinya pun relatif sederhana namun prospeknya cukup cerah. Bahkan ganggang ini bisa menjadi ladang baru komoditi ekspor non-migas. Kini beberapa contoh produk ganggang spirulina mampu merebut pangsa pasar dan produk ganggang ini cukup digemari.


Spirulina adalah sejenis alga atau ganggang biru-hijau yang banyak ditemukan di danau-danau dan kolam terutama yang kaya akan garam. Ganggang ini telah dikonsumsi sejak ribuah tahun oleh bangsa Meksiko (Aztec dan Maya), Afrika dan Asia. Spirulina dipercaya merupakan protein komplit karena lebih dari setengahnya terdiri dari asam-asam amino--blok bangunan protein. Tumbuhan air yang yang kaya akan vitamin B komplek, beta-karoten, vitamin E,
carotenoids, mangan, seng, tembaga, besi, selenium, gamma linolenic acid (suatu asam lemak esensial). Ganggang spirulina ini juga terbukti mampu menstimulasi sistem kekebalan, memiliki efek antivirus dan antikanker.

Dinding sel
micro algae ini berupa mukopolisakarida yang sangat lembek, tipis dan tingkat kecernaannya mencapai 95,10%, membuat ia sangat cocok bagi astronot yang perlu daya tahan tinggi.

Menariknya, spirulina telah digunakan di Rusia untuk merawat korban-korban, khususnya anak-anak, kecelakaan nuklir di Chernobyl. Pada anak-anak ini, yang sungsum tulangnya telah rusak akibar terpapar radiasi, spirulina tampaknya dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya.


Ganggang berbentuk spiral ini merupakan bagian dari 1.500 spesies tumbuhan air mikroskopik. Di antaranya adalah
Spirulina major, S. pricept, S. sustilissima, S. Cutra, S. caldria, S. spirulinoides. Namun spesies yang biasa dikonsumsi manusia adalah jenis Spirulina maxima dan Spirulina platensis.

Tumbuhan ini juga bisa dibudidaya di dalam wadah atau akuarium di dalam maupun di luar ruangan, khususnya untuk dipanen menjadi suplemen makanan. Untuk suplemen makanan, spirulina tersedia dalam bentuk serbuk, serpihan, kapsul, atau tablet, dengan kemasan menarik serta beragam merk dagang yang memenuhi pasaran.


Tidak ada efek samping yang pernah dilaporkan dengan mengonsumsi spirulina. Namun demikian, karena spirulina bisa mengakumulasi logam-logam berat dari air yang tercemar, maka konsumsi spirulina dari kawasan tersebut dapat meningkatkan kandungan tembaga, air raksa, dan kadmium dalam tubuh.


1001 Manfaat Spirulina


SUPLEMEN MAKANAN - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan spirulina menjadi makanan ideal untuk konsumsi manusia, begitu juga FDA (Food & Drugs Authority) dari Amerika Serikat mengizinkan spirulina untuk dijual sebagai suplemen makanan alamiah. Di Jepang dan AS, para eksekutif bisnis memanfaatkan tablet-tablet spirulina dalam memerangi stres. Sementara para atlet dan pelari mengonsumsi spirulina untuk mendapatkan energi secara cepat.

KESEHATAN & OBAT - meringankan diabetes, mengendalikan kolesterol, penambah vitamin A, mengatasi kekurangan gizi, membantu penderita kanker dalam menjalani kemoterapi, formulasi dengan produk alamiah lain sebagai suplemen kesehatan, mampu memperbaiki kerusakan liver, terapi luka bakar, pencangkokan kulit, mengontrol kegemukan, dan laktasi untuk ibu menyusui.


EKSTRAKSI - Beta-karoten untuk keperluan obat dan laboratorium, C-phycocyanin untuk pewarna makanan, kosmetik dsb. Chlorophyll untuk zat pewarna, asam amino esensial untuk mikrobiologi dan proses kimia.
PERIKANAN - Pakan khusus untuk ikan hias, memperkaya warna pada ikan koki dan koi, formulasi dengan pakan yang ada untuk menambah vitamin, pakan berprotein tinggi untuk ikan konsumsi (air tawar), juga pakan spesial untuk peternakan udang.

ENTOMOLOGY & SERICULTURE - Pakan untuk meningkatkan produksi murbei sebagai makanan ulat sutra, pakan khusus dalam pemeliharaan berbagai serangga untuk penelitian.

KOSMETIK- spirulina cocok untuk lotion jerawat, facial, minyak rambut, shampoo, mineral untuk mandi, pembersih kulit, dan pasta gigi. (DS/Sumber: NRDC)***

Thursday, 10 July 2008

Stroberi Israel "Digantung" di Udara

BAGI para petani stroberi di Tanah Air, tak asing lagi dengan yang namanya varietas kalifornia. Memang, tak bisa dipungkiri Amerika Serikat merupakan produsen stroberi terbesar di dunia, sementara sisanya ditempati negara-negara Eropa. Walaupun teknologi greenhouse juga diterapkan di sana, namun para petani stroberi di AS belum mengadopsi sepenuhnya teknik ini dalam meningkatkan produksi stroberinya. Hampir 100% produksi stroberi Negara Paman Sam dilakukan di ladang-ladang terbuka, menggunakan plastik mulsa dengan tanah yang disterilisasi menggunakan methyl bromida.

Luput dari perhatian, Israel negeri kecil yang lebih dari setengahnya berupa gurun pasir, merupakan negara produsen sekaligus eksportir stroberi yang patut diperhitungkan dengan produksinya yang terus meningkat, sehingga tidak heran bila beberapa petani stroberi di Indonesia mengenal salah satu varietasnya yaitu stroberi Israel, di samping varietas Selandia Baru, Australia dan Yates.

Stroberi merupakan tanaman herba famili Rosaceae, yang secara luas dikonsumsi di seluruh dunia. Bunga dari genus Fragaria ini bersifat biseksual dan mayoritas penyerbukannya dilakukan sendiri. Fragaria vesca ini tumbuh baik pada iklim dingin namun memerlukan cukup cahaya matahari.

Para petani di negara-negara Eropa telah mengadopsi berbagai metode "memaksa tumbuh" stroberinya selama musim dingin untuk meningkatkan harga pasar. Di Belanda dan Belgia, stroberi ditanam di dalam greenhouse menggunakan kantong-kantong dan pot yang diisi substrat berbasis peat. Stroberi juga "dipaksa" untuk tumbuh di lorong-lorong (tunnel) berbahan polyethylene seperti budidaya yang dilakukan di Spanyol, Italia, Prancis, Inggris dan Jerman.

Sementara di Israel dan sebagian daerah otoritas Palestina, stroberi tumbuh sebagai tanaman tahunan, dari September hingga Mei. Di Israel, stroberi ditanam di bawah tunnel polyethylene dan greenhouse menggunakan parit PVC serta wadah-wadah styrofoam yang diisi media nontanah seperti campuran sabut kelapa dan perlit. Varietas yang biasa ditanaman adalah "douglas" dan "tufts". Juga varietas hasil silangan lokal seperti nurit, rachel, dorit, dan ofra.

Salah satu penemuan paling sukses dalam budidaya stroberi di Israel adalah dengan cara "menggantung", yakni menanam stroberi pada media-media yang digantung di udara dalam greenhouse. Inovasi ini diharapkan bisa mengubah cara lama bercocok tanam yang kerap menuai masalah. Penanaman stroberi sering bermasalah bila ditanam pada tanah berpasir, kerap tercemar jamur yang tumbuh di tanah berpasir. Stroberi juga memperoleh reputasi buruk karena penggunaan pestisida. Pasar ekspor stroberi Israel ke Eropa sering terganjal karena residu pestisida ini.

Gagasan mengangkat stroberi dari tanah dan menumbuhkannya pada media lepas (kotak-kotak sepanjang 30 meter digantung di udara di dalam greenhouse) datang dari ahli agronomi Dr. Menachem Dinar, yang hingga kini berperan sebagai direktur divisi pengembangan sayuran dan perlindungan tanaman Kementerian Pertanian Israel.

Terbatasnya lahan pertanian, memacu para ilmuwan Israel untuk "mencaplok" lahan-lahan gurun pasir sebagai lahan bercocok tanam, dengan mengembangkan dan memperkenalkan varietas-varietas tanaman yang cocok dengan kondisi wilayah gersang tersebut dan didukung oleh sistem pengairan yang hemat seperti sistem irigasi tetes. Hasilnya, kini lebih dari 40 persen lahan sayuran dan buah-buahan muncul di gurun Negev dan Arava, bahkan 90 persen ekspor melon dihasilkan dari gurun pasir Arava ini. Meningkatnya ekspor ke Eropa baru-baru ini dalam bentuk komoditas hortikultura, buah-buahan maupun tanaman hias dari lembah-lembah panas di gurun Israel, menjadikan Israel sebagai "greenhouse"nya Eropa.

"Pengendus" Stroberi Masak

Dukungan teknologi bagi pengembangan pertanian tengah gencar dilakukan di Israel. Baru-baru ini para peneliti di Israel telah mengembangkan alat "pengendus" elektronik untuk menentukan kematangan dan kualitas stroberi. Seperti diketahui, setiap buah menjelang matang akan sering mengeluarkan sejumlah senyawa aromatik. Alat pengendus ini akan menangkap dan "merasakan" senyawa volatil (mudah menguap) tersebut. Hebatnya, pengendus ini hanya butuh kurang dari satu detik untuk merespon. Alat semikonduktor ini bermanfaat dalam proses sortasi, atau sampel kontrol kualitas buah stroberi. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***


Soal Pertanian, Bercerminlah pada Israel

INDONESIA dan Israel memang berbeda. Indonesia merupakan negara yang sangat luas, tidak sedikit lahan subur untuk pertanian. Namun teknologi sangat minim dukungannya pada pertanian, sehingga kemakmuran tak pernah dirasakan para petaninya. Di Israel malah sebaliknya, dengan lahan yang terbatas, sebagian besar padang pasir, tapi pertanian di sana didukung riset dan pengembangan yang serius. Dalam bidang pertanian, tak ada salahnya, Indonesia mencontoh negara Zionis ini.

Kelangkaan sumber air dan terbatasnya lahan bukanlah bencana bagi mereka, faktanya produksi pertanian di Israel terus tumbuh. Inilah fenomena yang cukup unik, hasil yang dicapai ini tak lain buah dari kerjasama yang "akrab" dan terus menerus di antara para peneliti, pekerja, petani serta layanan/industri yang berhubungan dengan pertanian.

Berkesinambungannya riset dan pengembangan yang berorientasi aplikasi telah dilakukan di negara yahudi ini sejak awal abad ini. Sektor pertanian saat ini seluruhnya hampir berbasis pada sains-teknologi, yang didukung agen-agen pemerintah, institusi akademis, industri dan badan-badan lainnya, mereka bekerjasama untuk mencari solusi suatu permasalahan

R&D (riset dan pengembangan) Israel telah mengembangkan teknologi-teknologi berbasis sains yang secara dramatis mampu meningkatkan jumlah dan mutu produk-produk negara. Kunci suksesnya terletak pada dua aliran informasi antara personel riset dan para petani.

Lewat jaringan layanan ekstensi (dan keterlibatan petani secara aktif dalam tahap R&D), masalah-masalah di lapangan dibawa langsung ke para peneliti untuk diambil pemecahannya, dan hasil-hasilnya secara cepat dikirimkan lagi ke lapangan untuk diujicoba, diadaptasikan dan kemudian diimplementasikan. (DS/sumber: Agrictech Israel Magazine)***