Jumat, 10 Oktober 2008

Berkat "Cai Dukun" Panen Meningkat

TELEPON seluler Ir. Joko Wiryanto tiba-tiba berdering, dan percakapan jarak jauh pun tampak begitu bersemangat. "Itu tadi telefon dari seorang petani di Riau yang mengabarkan bahwa hasil panennya meningkat," ujarnya. Tiba-tiba ponsel itu berdering lagi, kali ini ia menerima telefon dari seorang petani Sumedang yang melaporkan ada peningkatan pada panen padinya. Wajah Ir. Joko pun tampak sumringah, betapa tidak, satu lagi lahan uji coba yang mengaplikasikan teknologi temuannya telah membuahkan hasil.

Apa sebenarnya yang dilakukan pria lulusan Universitas Pasundan jurusan teknik industri ini, sehingga semua demplotnya nyaris tak ada yang gagal. Bahkan hampir seluruh daerah di Indonesia telah ia datangi dengan satu tujuan, menjajal teknologi temuannya itu.

Tak banyak orang yang tahu, bahkan liputan pers pun hampir tak menyentuhnya. Orang Cimahi yang satu ini betul-betul ingin mengabdikan seluruh hidupnya untuk kesejahteraan petani. Sekian lama ayah tiga putra ini menjadi peneliti, sudah banyak temuannya berhasil diwujudkan, sebagian besar akan dan telah dipersembahkan pada bidang pertanian, disiplin ilmu yang sangat ia cintai.

Adalah H. Sulaeman (57), seorang petani dari Kelurahan Solokan Jeruk, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta yang berkesempatan menikmati temuan Ir. Joko ini. Baru-baru ini, tepatnya 18 April lalu, H. Sulaeman seakan tak percaya, pada panen kali ini ia mampu meningkatkan produksinya hingga 12,5 ton. Padahal tanpa mengaplikasikan temuan Mas Joko ini, produksi dari lahan seluas setengah hektare yang dimilikinya tidak pernah beranjak dari angka 4 ton.

Lantas temuan apa yang telah diaplikasikan pada lahan persawahan milik H. Sulaeman (dan lahan-lahan uji coba lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia)? Ir. Joko menamakannya sebagai F1 Embio, suatu isolat atau kumpulan mikroba dan fungi yang telah diseleksi menjadi bentuk yang bermanfaat bagi sistem ekologi tanah. F1 Embio ini ia formulasikan dari azotobacter sp, azaoss pirilliriza, MVA (modified vaccine ankara), mikoriza, perombak selulosa dan mikroorganisme efektif lainnya.

Menurut alumni Unpas lulusan tahun 1990 ini, Embio hanyalah satu dari beberapa temuannya yang telah diuji coba puluhan kali, memiliki kemampuan mengikat unsur nitrogen (N) dari udara, melarutkan unsur fosfat (P), menguraikan selulosa, dan merombak sisa-sisa bahan organik tanah. Sehingga inokulan ini cocok untuk lahan garapan yang tidak produktif lagi akibat penggunaan pupuk anorganik dan pestisida yang berlebihan.

Untuk diaplikasikan pada lahan sawah, F1 Embio dapat diperbanyak satu kali. Ia mencontohkan, dalam 1 botol (500 ml) dapat ditambahkan air sebanyak 50-60 liter, tambahkan 1 kg gula pasir atau molase ke dalamnya, tambahkan pula humus/tanah dari lokasi sebanyak 1 genggam. Eramkan campuran ini selama 12 - 18 jam, hindari dari sinar matahari.

Inilah uniknya campuran ini, sangatlah irit, "satu liter cairan ini bisa dipergunakan untuk lahan seluas satu hektare," katanya. Syaratnya, air harus tersedia secara kontinyu, namun tidak sampai menggenang.

"Bila larutan ini sudah 'matang', tinggal disemprotkan atau dipercik-percikkan secara merata pada lahan yang telah dipersiapkan," jelasnya.

Karena caranya yang hanya dipercik-percikkan tersebut, seorang petani Sumedang bernama Priatna mempopulerkan Embio sebagai "cai dukun" atau "air dukun." Berkat "air dukun" ini pula Priatna bisa menangguk keuntungan sebesar 25% hasil panennya, itu pun tanpa perlakuan apa-apa lagi, artinya ditinggalkan begitu saja.

Setelah pemercikan, benih padi bisa langsung ditanam dengan kedalaman lebih kurang 3 cm. Setelah ditanam, taburkan kompos atau NPK kompos atau pupuk anorganik seperti urea 50 kg/ha ditambah NPK anorganik 25 kg/ha. Namun, tanpa penambahan pupuk ini pun, padi tetap akan tumbuh dengan baik, yang penting tanah tidak kekeringan, idealnya keadaan air macak-macak.

Perbedaan padi yang mengaplikasikan Embio mudah diamati. Menurut Balok Sunyoto, seorang petani dari Jawa Timur yang mendampingi Joko Wiryanto, Embio akan membentuk daun padi berwarna hijau tua, warna daun ini terus bertahan ketika bulir-bulir padi sudah menguning. Ciri lain adalah bulir-bulir padi akan bernas, dan pH atau keasaman tanah otomatis akan berada pada kisaran 6,8.

"Ini merupakan cara biologis dalam mengembalikan kualitas tanah hingga menjadi subur," kata Joko. Cara ini telah diakui beberapa petani di seluruh Indonesia. Selain mudah penggunaannya, praktis, hemat biaya dan mampu mengurangi kebutuhan pupuk. Cara ini lebih efisien karena sekali dipupuk sudah cukup untuk memberikan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman, hasilnya pun terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanaman.

Lebih jauh Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Cimahi ini menjelaskan, "Alangkah baiknya bila bercocok tanam padi ini melibatkan teknologi lainnya yang telah saya kembangkan, inilah sebuah 'paket teknologi', selain penggunaan 'air dukun', juga bisa diikutsertakan teknologi 'Tonggeret', sebuah alat mirip 'sonic bloom' yang fungsinya untuk membuka stomata daun agar pemupukan pada daun lebih optimal." Bahkan ia juga berhasil mengembangkan sebuah alat pendeteksi hama dan penyakit pada tanaman.

"Dengan mengaplikasikan paket teknologi ini, Insya Allah peningkatan produksi padi akan lebih spektakuler," ujar mantan atlet nasional ini.

Namun demikian, seperti ia contohkan di beberapa daerah uji cobanya. Banyak petani yang hanya melakukan penyemprotan dengan F1 Embio, lantas ditinggalkan begitu saja. Alhamdulillah hasilnya tetap saja ada peningkatan dibandingkan dengan sistem tanam padi konvensional (melibatkan bahan-bahan kimia). "Bahkan tak sedikit sukses pun dialami para petani pemula," tambahnya.

Untuk mewadahi sepak terjang serta agar kegiatannya lebih terarah, suami dari Dewi Yulianingsih ini merasa perlu membentuk sebuah wadah yang ia namakan Tim Pelaksana Nasional Gerakan Revolusi Lahan Melalui Reklamasi dan Rehabilitasi Lahan. Tim Laknas ini diketuai Ir. Joko sendiri dan berkantor pusat di Kota Cimahi, di bawah pembinaan KTNA nasional.

Gerakan nirlaba ini telah dicanangkan sejak 13 November 2006 di Ciawi, Bogor. Misi pembentukan tim ini, menurutnya, antara lain untuk melakukan rehabilitasi dan reklamasi lahan; menerapkan teknologi ramah lingkungan; menekan penggunaan pupuk kimia dan pestisida; menekan biaya produksi, dan meningkatkan produksi petani.

Khusus di Jawa Barat, tim bentukan Joko ini telah melakukan demplot (demo plot) di Ciamis, Tasikmalaya, Karawang, Kabupaten Bandung, dan Sumedang. Dari hasil pantauannya, seluruh demplot praktis tidak mengalami kegagalan, malah sebaliknya hasil panen meningkat dengan kisaran 20 - 67%. "Namun peningkatan hasil produksi bukanlah misi utama kami. Tujuan utama kami adalah menekan biaya produksi pertanian," ujar Joko menjelaskan.

Ditanya mengenai kerja sama dengan pihak lain, pria yang senang disebut petani ini terbuka untuk menerimanya, "kami sudah siap dengan teknologinya, on-farm maupun off-farm, asalkan tidak menjadikan petani sebagai sasaran bisnis mereka. Kami hanya ingin mengangkatkan harkat derajat dan memberikan posisi tawar bagi para petani, itu saja." (Dede Suhaya)***

Tulisan ini juga muncul di situs http://jokowiryanto.blogspot.com

1 komentar:

  1. Myths, legends and stories are the signposts previous generations have left us so we don’t have to figure out our own personal journey in solitude!
    Obat kencing nanah di apotik

    BalasHapus