Selasa, 22 Juli 2008

"Tonggeret" Mampu Meningkatkan Produktivitas Padi

HARI menjelang sore di perkampungan terpencil di Kabupaten Bandung. Suara nyaring itu kembali memekakan telinga warganya. Itulah nyanyian tonggeret yang kerap memecah keheningan alam pedesaan yang damai ini. Suaranya yang monoton seakan mampu mempengaruhi suasana hati siapapun yang mendengarnya.

Bagi sebagian warga desa, lengkingan tonggeret menjelang magrib mampu mempengaruhi suasana hati dan emosi mereka, kadang membuatnya tidak betah tinggal di desanya sendiri. Sementara bagi perantau yang tinggal di kota-kota besar, suara tonggeret mampu menjadi obat penawar rindu akan kampung halamannya, dan mengembalikan kenangan indah sewaktu tinggal di desa.


Apapun pengaruhnya dari nyanyian itu, tonggeret hanyalah sejenis serangga bersayap yang mengeluarkan suara bukan bermaksud mempengaruhi suasana hati manusia, tetapi dengan suaranya yang khas itu mampu memikat hati pasangannya.


Di kalangan para ahli biologi, nyanyian tonggeret bukan sekadar untuk memikat serangga betinanya, di balik itu ada manfaat bagi lingkungan sekitarnya, terutama bagi tanaman.


Ir. Joko Wiryanto adalah salah seorang yang memikirkan fenomena tersebut, dan mewujudkannya menjadi sebuah alat yang berguna bagi dunia pertanian. Alat yang dimaksud adalah rangkaian elektronik yang bisa mengeluarkan suara meniru suara tonggeret yang mampu mempengaruhi tanaman di sekitarnya. Joko pun tak segan-segan menamai temuannya ini dengan nama "Tonggeret" untuk "menghormati" serangga yang sudah jarang kita dengar nyanyiannya ini.


Di mata para petani, Joko Wiryanto sudah tidak asing lagi berkat inovasinya yang beragam untuk memajukan dan mensejahterakan para petani binaannya. "Tonggeret" adalah salah satu inovasi cerdasnya yang kini tengah diuji coba untuk menjajal kemampuannya di lapangan.


Menurut pria lulusan tahun 1990 Teknik Industri Universitas Pasundan ini, alat yang mengeluarkan bunyi nyaring ini berfungsi untuk meningkatkan metabolisme tanaman dan membuka stomata secara maksimal sehingga kemampuan daya serap daun bisa maksimal. Dengan demikian tanaman tumbuh lebih baik dan mampu meningkatkan produktivitasnya.


Bagaimana alat ini bisa meningkatkan metabolisme tanaman, dipaparkan Joko pada penulis.


Seperti kita ketahui, setiap daun tanaman memiliki mulut-mulut daun yang disebut stomata, pada suhu dan kelembaban tertentu, biasanya pagi hari, mulut daun secara normal akan terbuka untuk menyerap zat-zat makanan dari embun yang mengalir di atasnya. Namun, menurutnya, cara alamiah ini terbatas pada waktu, suhu dan kelembaban tertentu, lagi pula pembukaan stomatanya tidaklah maksimal.


"Mengapa tidak, membuat alat bunyi yang mampu mempengaruhi pembukaan stomata daun dengan maksimal," ujar Ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Cimahi ini. Menurut Joko, bunyi yang dikeluarkan "Tonggeret" hasil ciptaannya mampu memaksa mulut-mulut daun terbuka secara maksimal. Dengan terbukanya mulut-mulut daun maka pemupukan pada daun jadi lebih efektif. Perpaduan aplikasi nutrisi via daun disertai pemberian gelombang suara frekuensi tinggi ini, menurutnya, akan mampu meningkatkan metabolisme tanaman.


Menilik dari cara kerja alat sederhana ini, banyak kemiripan dengan alat serupa hasil ciptaan Dan Carlson yang disebut Sonic Bloom, dengan komponen utama rangkaian elektronik yang menghasilkan gelombang suara frekuensi tinggi yang dikeluarkan lewat sebuah speaker.


Memang sedikit banyak tonggeret elektroniknya diilhami cara kerja Sonic Bloom ini, Joko pun tidak memungkirinya, namun hasil kreasinya memiliki beberapa kelebihan dibanding alat impor yang mahal ini. Di antaranya bunyi yang dikeluarkan "Tonggeret" tidak monoton seperti Sonic Bloom, tapi memiliki irama dengan hentakan-hentakan. Hal ini ada maksudnya, dengan frekuensi yang menghentak-hentak sebesar 2,5 kHz - 7 kHz, stomata daun akan terbuka dengan maksimal.


"Tonggeret" mampu mengcover lahan pertanaman seluas setengah hektare. Beroperasi pada catu daya 9 - 12 volt DC, pengoperasian alat seukuran 14,5 x 9,5 x 5 cm ini bisa dilakukan kapan saja, siang atau malam, asalkan 1 jam sebelum dan sesudah penyemprotan pupuk cair dilakukan. Pengaplikasian alat suara ini disarankan pada tanaman padi berusia 3 minggu, dan seterusnya selang 1 hingga 2 minggu. Agar penyerapan nutrisi lebih optimal, disarankan hasil semprotan membentuk kabut dengan cara mengatur nosel pada alat penyemprot.

Sebuah hamparan padi seluas 69 hektare milik kelompok tani Lumintung, Desa Kemamang Kecamatan Candi Puro Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sudah menjajal keandalan tonggeret elektronik ini. "Satu jam setelah diaplikasikan alat ini disertai penyemprotan pupuk cair organik, tak perlu menunggu keesokan harinya, sudah terjadi perubahan warna pada daun yang menghijau," ujar Balok Sunyoto salah seorang petani asal Jawa Timur.

Untuk hasil yang lebih optimal, Joko menyarankan, ketika diaplikasikan alat suara ini sebaiknya ditempatkan sejajar dengan ujung daun dan searah hembusan angin, dan dinyalakan 1 jam sebelum dan sesudah penyemprotan pupuk daun. Sementara jenis pupuk yang digunakan untuk mendampingi alat suara ini adalah jenis pupuk cair organik (POC) hasil racikan Joko Wiryanto sendiri. POC mengandung unsur hara NPK serta memiliki valensi sama dengan cairan sel dalam daun. Takaran yang disarankan sebanyak 1 cc POC per liter air. Untuk lahan 1 hektare, Joko menjamin cukup dengan POC sebanyak 500 cc.


Hasil peningkatan panen padi dengan mengaplikasikan "Tonggeret" serta penyemprotan pupuk POC, diprediksi Joko, minimal bisa mencapai 20%. "Bahkan bisa mencapai 300% - 500% bila petani rajin menyemprot dan membunyikan 'Tonggeretnya'," tambah petani intelek ini.


Saat diperkenalkan "Tonggeret" ini, respon para petani cukup antusias, seperti diceritakan Balok Sunyoto, walaupun alat suara yang digunakan di Lumajang masih prototipe, namun mereka memaksa untuk menggunakannya bahkan berani membelinya.

"Tonggeret" barulah tahap pertama, selanjutnya pria asal Salakopi, Kec, Cihampelas, Kab. Bandung Barat ini akan mengembangkan versi "Tonggeret" yang selain mampu membuka stomata daun sekaligus mengusir hama tanaman, seperti tikus dan burung dengan mengubah frekuensi alat tersebut. Ketika penulis berseloroh, apakah alat itu bisa mengusir "hama" manusia? Ia dengan serius bisa melakukannya, bahkan pernah menidurkan seseorang yang sedang stres dan kelelahan dengan memperdengarkan bunyi alatnya pada frekuensi tertentu. (Dede Suhaya)***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar