Showing posts with label Ilmuwan. Show all posts
Showing posts with label Ilmuwan. Show all posts

Thursday, 26 March 2009

Mirza Ulugh Begh: Sultan, Astronom, dan Ahli Matematika

TAHUN 1908, di bawah reruntuhan kota kuno Afrasiyab, Samarkand, Vladimir Viyatkin, seorang arkeolog asal Rusia, terkesima menatap sebuah bentuk bangunan aneh menjulang di hadapannya. Dari hasil penggaliannya itu, akhirnya ia dapat mengenali bangunan itu sebagai sextant atau kuadran berukuran raksasa. Arkeolog amatir itu akhirnya sadar bahwa ia sedang berada di sebuah observatorium peninggalan abad ke-15.

Puing-puing sisa observatorium Islam paling awal ini, adalah salah satu bukti kecintaan seorang raja pada ilmu pengetahuan khususnya ilmu astronomi. Observatorium luar biasa ini dibangun pada tahun 1420 oleh seorang penguasa Timurid bernama Ulugh Begh.


Ulugh Begh, yang berarti ”Penguasa Agung”, pada masanya selain dikenal sebagai raja atau sultan penebar kasih dan perdamaian di Asia Tengah, ia pun menguasai ilmu astronomi dan matematika. Salah satu hasil karyanya yang brilian adalah ilmu trigonometri dan geometri bentuk bola.

Lahir di Sultaniyeh, Persia (kini Iran) pada tahun 1394, dengan nama Mirza Mohammad Taregh bin Shahrukh. Dia adalah cucu dari Amir Timur atau yang lebih dikenal sebagai Timur Leng, sang penakluk dan pendiri kekaisaran Timurid di Asia Tengah. Mirza Ulugh Begh adalah anak tertua dari Shah Rukh, mereka berasal dari suku Mongol Barlas dari Transoxiana (kini Uzbekistan). Sedangkan ibunya seorang bangsawan Goharshad dari Persia.

Semasa anak-anak, Mirza mengembara ke tempat-tempat penting di Timur Tengah dan India bersama kakeknya, Amir Timur, ketika memperluas kekuasaannya di wilayah tersebut. Sepeninggal kakeknya, Mirza kecil menetap di Samarkand yang pada waktu itu menjadi ibukota kerajaan Timurid.

Pada usia 16 tahun, Mirza Mohammad sudah menjadi gubernur di Samarkand (1409). Bahkan pada tahun 1411 ia menjadi penguasa penuh seluruh Mavarannahr (kini Uzbekistan, Tajikistan, dan sebagian Kazakhstan).

Sang penguasa berusia remaja ini berhasil mengubah kota Samarkand, menjadi sebuah pusat intelektual bagi kerajaan. Pada 1417-1420 ia pun membangun madrasah (universitas) yang hingga kini masih berdiri megah di Registan Square, Samarkand, Uzbekistan. Kala itu madrasah ini ramai dikunjungi para astronom dan matematikawan Islam untuk belajar. Salah seorang hasil didikan Ulugh Begh adalah Ghiyath al-Kashi, seorang ahli matematika terkemuka.

Selain matematika, astronomi adalah ilmu yang paling menarik minat sang sultan, dan kecintaannya dibuktikan pada tahun 1420, dengan mendirikan sebuah observatorium kolosal, yang ia namai Gurkhani Zij, sebuah observatorium mirip Uraniborg buatan Tycho Brahe. Gurkhani berbentuk busur seperempat lingkaran (kuadran) berukuran raksasa yang melengkung dari ruang bawah tanah hingga menonjol di permukaan tanah.

Walaupun observatorium itu tidak dilengkapi dengan teleskop, instrumennya mampu meningkatkan keakuratan dalam pengoperasiannya. Kuadran atau sextant raksasa ini memiliki jari-jari sekitar 36 m, sementara tingginya dari dasar mencapai 40 m. Berkat observatorium inilah pada 1437 Ulugh Begh berhasil menyusun katalog bintang ”Zij-i Sultani” yang memuat sebanyak 994 bintang, serta mengoreksi berbagai kesalahan yang yang ada pada katalog bintang sebelumnya.

Ulugh Begh pun mampu menentukan lamanya tahun sideris (rotasi bumi terhadap bintang-bintang) yaitu sebesar 365,2570370... hari = 365 hari 6 jam 10 menit 8 detik. Nilai ini kemudian diperbaiki 28 detik pada tahun 1525 oleh Nicolaus Copernicus.

Dalam bidang matematika, Ulugh Begh berhasil menyusun secara akurat tabel trigonometri untuk nilai sinus dan tangen dengan ketepatan hingga 8 tempat desimal.

Namun, semangat dan keberanian Ulugh Begh menguasai sains tidaklah sepadan dengan kepiawaiannya dalam pemerintahan seperti halnya Timur Leng kakeknya atau Jengis Khan moyangnya, tentara Ulugh Begh mengalami banyak kekalahan dalam berbagai pertempuran melawan musuh-musuhnya. Bahkan raja pecinta ilmu pengetahuan itu pun harus mengakhiri hidupnya di tangan anaknya sendiri, Abdul Latif, ketika dalam perjalanan menuju Mekah. Observatorium kebanggaannya pun ikut dihancurkan, kecuali bagian yang berada di bawah tanah, sampai akhirnya ditemukan oleh arkeolog amatir yang juga seorang guru sekolah dasar pada 1908.

Nama Ulugh Begh kemudian direhabilitasi oleh saudaranya, Babur, seorang pendiri kerajaan Mogul di India, dan menempatkan sisa jasadnya di Makam Timur, Samarkand.

Untuk menghormati pencapaian sang sultan dalam astronomi, pada 1830 sebuah kawah di Bulan dinamai ìUlugh Beighî oleh astronom Jerman Johann Heinrich von Madler pada peta Bulan buatannya. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Foto: ANSWER.COM
Patung Mirza Ulugh Begh di Riga, Latvia.*

Tuesday, 12 August 2008

Stephen William Hawking, Pakar Fisika yang Cinta Antariksa


"SPACE, here I come!" ("antariksa, saya datang!"), itulah ucapan yang seakan terlontar dari mulutnya sendiri, dalam suatu kesempatan setelah penerbangan tanpa bobot yang telah ia jalani dalam pesawat G-Force One, 26 April lalu. Suatu ungkapan yang cukup menyiratkan akan kecintaan dan kerinduannya pada dunia antariksa. Ia mengaku seumur hidupnya selalu memendam keinginan terbang ke angkasa luar.

Itulah Stephen William Hawking (65 tahun), seorang pakar fisika teoritis yang dikenal luas di dunia karena teori-teorinya yang fenomenal terutama mengenai "lubang hitam" (black hole), kosmologi, dan gravitasi kuantum.

Ilmuwan Inggris yang lahir 8 Januari 1942 ini begitu menikmati petualangan barunya, seakan melupakan otot-ototnya yang lumpuh, juga melupakan kursi roda yang selama ini menopangnya. Profesor Hawking yang menderita kelumpuhan akibat penyakit otot itu sesaat bisa mengambang, melayang-layang bebas tanpa bantuan alat maupun orang lain. "Menakjubkan,'' komentarnya setelah mengakhiri penerbangan itu. ''Saya ingin menunjukkan pada khalayak bahwa siapa pun bisa berpartisipasi dalam pengalaman tanpa bobot ini.''

Stephen W. Hawking lahir di Oxford, Inggris dari rahim seorang ibu bernama Isobel. Ayahnya Frank Hawking dikenal sebagai peneliti dalam obat-obatan tropis. Sewaktu di bangku sekolah dasar St. Albans School, Oxford, kepintaran Hawking kecil biasa-biasa saja. Ia mendapati ilmu biologi dan obat-obatan yang dianjurkan ayahnya terlalu deskriptif dan kurang pasti. Namun bakatnya pada bidang ilmu pasti sangatlah menonjol.

Ketika melanjutkan studi ke Universitas Oxford, ia pun beralih mempelajari ilmu matematika dan fisika. Hawking akhirnya meraih gelar BA pada tahun 1962. Untuk meraih PhD, ia kemudian melanjutkan studinya dalam bidang astronomi dan kosmologi di Universitas Cambridge. Di sini ia mulai melakukan penelitian mengenai teori relativitas. Tahun 1979 ia menjadi Profesor Lucasian di bidang Matematika, suatu kedudukan yang sangat prestisius yang juga pernah disandang ilmuwan Sir Isaac Newton.

Pada 1962, Stephen Hawking didiagnosis menderita penyakit otot yang tak terobati. Penyakit amyotrophic lateral sclerosis (penyakit Lou Gehrig) telah menyerang sel-sel saraf di otak dan sum-sum tulang belakangnya, yang menimbulkan kelumpuhan, sejak itulah seluruh hidupnya berada di atas kursi roda. Penderitaan Hawking belum berakhir, tahun 1985 ia menderita pneumonia, yang membuatnya kesulitan bernafas dan akhirnya ia tak bisa bicara secara normal. Untuk keperluan berkomunikasi Hawking hanya bisa menggerakkan otot-otot pipinya ketika memilih kata-kata di komputernya, yang kemudian diverbalkan oleh sebuah synthesizer suara.

Karir ilmiahnya tidak lantas berhenti karena keterbatasan fisiknya, malahan terus berlanjut lebih dari empat puluh tahun. Dengan ketekunan dan keuletan, akhirnya berbuah temuan berupa teori kosmologi dan gravitasi kuantum, yang kini menjadi rujukan penelitian para ilmuwan. Salah satu hasil penemuannya yang paling fenomenal adalah hukum-hukum mekanisme lubang hitam, sebuah pengembangan dari teori Ledakan Besar (Big Bang) jagat raya.

Menurutnya, setelah terjadi ledakan besar terbentuklah apa yang disebut lubang hitam (black hole) di alam semesta. Dari sinilah ia mencetuskan pemikiran cemerlang tentang black hole tersebut. Topik itu ia bahas dalam buku terlarisnya, A Brief History of Time. ''Karya saya tentang lubang hitam dimulai dengan sebuah momen 'eureka' pada 1970, beberapa hari setelah kelahiran anak saya, Lucy,'' katanya dalam suatu kesempatan.

Melalui penerbangan tanpa bobot, Hawking menyimpan satu harapan bagi umat manusia. ''Saya rasa umat manusia tidak punya masa depan jika tidak ke angkasa luar,'' ujarnya. Untuk itulah, Hawking ingin memacu minat masyarakat pada dunia antariksa. ''Sebuah penerbangan tanpa gravitasi adalah langkah pertama menuju perjalanan angkasa.''

''Kita bisa meningkatkan akses pada sumber-sumber di ruang angkasa, dan menyebarkan kemanusiaan di luar Bumi,'' katanya. ''Cepat atau lambat, bencana bisa menghapus kehidupan di Bumi. Penyelamatan jangka panjang bagi umat manusia adalah hijrah ke angkasa luar.''

Sumbangsih besar Hawking bukan saja pada perkembangan ilmu pasti, teladannya untuk kemanusiaan tidaklah kecil. Hawking seorang ilmuwan yang tidak mau dikalahkan oleh penyakit yang menggerogotinya. Vonis yang menyatakan bahwa ia akan selamanya berada di kursi roda dan kehilangan suaranya, bukanlah akhir bagi dirinya. Ia terus menjalani sisa hidupnya dengan karya-karya brilian.

Lalu apa yang ia cari dari ketekunan dan keuletannya selama ini? Simaklah ungkapan Hawking yang sangat terkenal ini.

"Tujuan hidupku sederhana. Saya hanya ingin mengerti alam semesta. Bagaimana bisa seperti itu dan bagaimana semua itu ada." (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

Sumber foto: NASA


Wednesday, 6 August 2008

Ibnu Haytham, Ilmuwan Pertama di Dunia

SAINS adalah ilmu yang mempelajari dunia fisik, namun sains bukanlah sekadar sebuah topik, subjek, atau bidang yang diminati. Sains merupakan disiplin, suatu sistem penyelidikan yang harus berpegang pada suatu metodologi spesifik yang dinamai metode ilmiah. Dalam bentuk dasarnya, metode ilmiah terdiri atas 7 tahapan; 1) observasi, 2) pernyataan masalah atau pertanyaan, 3) formulasi hipotesis atau jawaban yang mungkin dari masalah atau pertanyaan, 4) menguji hipotesis dengan eksperimen, 5) analisis hasil-hasil eksperimen, 6) interpretasi data dan formulasi dari sebuah kesimpulan, dan 7) publikasi penemuan.

Seseorang bisa saja melakukan studi ilmiah tanpa berpegang pada metode ilmiah, namun tentu saja hasilnya bukanlah sains. Aristoteles, salah seorang pemikir terkemuka di zaman Yunani kuno yang mencoba menjelaskan fenomena alam tanpa menguji gagasannya melalui eksperimen. Aristoteles dan para pemikir sezamannya mendasarkan penemuannya pada logika semata sehingga hasilnya sering meleset ketika diuji dengan metode ilmiah.

Sebagai contoh, pada 1589, Galileo Galilei melakukan eksperimen untuk menguji gagasan Aristoteles mengenai benda jatuh. Ia menemukan bahwa klaim Aristoteles yang menyatakan benda yang lebih berat akan jatuh lebih cepat daripada benda ringan ternyata salah. Galileo bukanlah orang pertama yang melakukan eksperimen atau mengikuti metode ilmiah, para pemikir Eropa lainnya telah melakukan cara tersebut selama tiga ratus tahun, bahkan sejak rahib bernama Roger Bacon mempertahankan cara ini di abad ke-13. Salah satu buku Bacon, Perspectiva (Optics) menantang gagasan Yunani kuno mengenai penglihatan mata, termasuk beberapa eksperimen dengan cahaya.

Namun, Perspectiva Bacon bukanlah hasil kerja orisinal. Buku ini merupakan ringkasan dari De aspectibus (Optics). Perspectiva mengikuti organisasi De aspectibus dan mengulang eksperimennya tahap demi tahap.

De aspectibus merupakan terjemahan Latin dari buku berbahasa Arab berjudul Kitab al-Manazir (Book of Optics) yang ditulis sekitar tahun 1021. Kitab al-Manazir rupanya telah "dijarah" Roger Bacon selama 250 tahun. Penulis aslinya adalah seorang pemikir Muslim bernama Ibnu Haytham, di Barat dikenal sebagai Al-Hazen atau Al-Hacen.

Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Hasan Ibnu al-Haytham, lahir di Kota Basrah (sekarang Irak) pada tahun 965 ketika berkuasa Dinasti Buyid dari Persia. Mengenyam pendidikan pertamanya di masjid-masjid Basrah dan Bagdad, di sana ia belajar teologi dan sains. Sebagai Muslim yang taat, ia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengenal dan melayani Sang Khalik. Namun, ia menemukan dalam diri Aristoteles jalinan semangat dan persamaan dalam hal intelektualitasnya.

Abu Ali, demikian nama panggilan masa mudanya, sudah terkenal karena minat dan pengetahuannya pada ilmu fisika, yang membawanya ke Mesir untuk memenuhi tawaran penguasa Kekalifahan Fatimiyah, Al-Hakim, yang berambisi untuk mengatur aliran Sungai Nil dengan membuat bendungan. Ketika Abu Ali mencapai al-Janadil, ia menunjuk sebagai tempat ideal untuk sebuah bendungan. Walaupun ia gagal mewujudkan ambisi sang kalifah, namun sembilan ratus tahun kemudian pemerintah Mesir berhasil membendung Sungai Nil (Bendungan Aswan) persis di lokasi yang ditunjuk al-Haytham.

Selain bekerja di Mesir, Ibnu Haytham juga mengunjungi Andalusia (Spanyol). Di sini ia melakukan riset dalam bidang optik, matematika, fisika, pengobatan, dan mengembangkan metode ilmiah.

Bapak Optik modern ini telah menulis lebih dari 200 buku dengan subjek-subjek yang lebih luas. Dialah orang pertama yang mengaplikasikan ilmu aljabar ke dalam ilmu geometri, dan menemukan cabang matematika yang disebut geometri analitik.

Kitab al-Manazir yang ditulis antara tahun 1011 dan 1021, tak pelak lagi merupakan hasil karya yang sangat penting dan fenomenal. Di dalamnya, sang pemikir karismatik itu mengoreksi kesalahpahaman mengenai teori penglihatan dan cahaya, yang kadung dipercaya para pemikir selama berabad-abad.

Orang Yunani kuno percaya manusia mampu melihat karena mata mengeluarkan cahaya untuk mengindera objek-objek. Ibnu Haytham mengoreksinya, justru kebalikannya yang benar. Proses melihat terjadi ketika cahaya memasuki mata dan merangsang saraf optik. Inilah pertama kalinya dalam sejarah ada orang yang mampu menggambarkan mekanika penglihatan secara akurat.

Ibnu Haytham tak berhenti sampai di sini. Bangunan hasil kerja para pemikir awal seperti Aristoteles, Euclid, Ptolemeus, Theon dari Iskandariah, bahkan pakar sekelas Al-Kindi (Ya'qub Ibnu Ishaq as-Sabah al-Kindi) pun direvisi. Sebagai gantinya, ia menciptakan penyatuan berbagai teori cahaya. Hukum perambatan, pemantulan, dan pembiasan cahaya diperbaikinya. Kitab al-Manazir atau Book of Optics tetap menjadi sumber terkemuka pengetahuan tentang optik untuk 500 tahun kemudian. Terjemahan buku ini telah memengaruhi para ilmuwan dan matematikawan Eropa abad pertengahan mulai dari Bacon, Fermat, Da Vinci, hingga Kepler.

Dari sekian banyak penemuan, metode ilmiah adalah temuan yang paling berharga bagi kemajuan sains dan teknologi. Dengan menerapkan eksperimen dalam menguji suatu hipotesis, al-Haytham telah memapankan suatu sistem baru dalam penyelidikan ilmiah dan menempatkan dia dalam sejarah sebagai ilmuwan pertama di dunia.

Klaim ini tidaklah berlebihan, hal ini diperkuat oleh Bradley Steffens, seorang penulis nonfiksi yang banyak memperoleh penghargaan. Bradley memaparkan sepak terjang sang brilian dalam buku berjudul Ibn al-Haytam: First Scientist, sebuah biografi pertama di dunia mengenai filsuf-ilmuwan Muslim abad pertengahan ini.

Metode ilmiah atau eksperimen yang dipraktikkan Ibnu Haytham tidak lepas dari sikap skeptis dan keimanannya sebagai Muslim. Ia percaya bahwa manusia itu gudangnya kesalahan dan hanya Allah yang sempurna. Untuk menemukan kebenaran tentang alam, menurut dia, salah satunya harus membiarkan alam semesta berbicara sendiri. "Pencari kebenaran bukanlah seorang yang mempelajari tulisan-tulisan kuno dan mengikutinya," kata Ibnu Haytham seperti ia tulis dalam Doubts Concerning Ptolemy (Keraguan Mengenai Ptolemeus), namun orang yang mencurigai kepercayaannya pada mereka, serta orang yang tunduk pada argumen dan demonstrasi.

Untuk menguji hipotesis bahwa cahaya dan warna tidak bercampur di udara, sebagai contoh, Ibnu Haytham merancang kamera obscura pertama di dunia, meneliti apa yang terjadi bila cahaya saling memotong pada celah kamera tersebut dan mencatat hasilnya. Ini satu dari lusinan "demonstrasi kebenaran" yang terdapat dalam Kitab al-Manazir.

Kepakaran Ibnu Haytham juga melebar di luar sains, ia pernah ditunjuk sebagai menteri keuangan dan administratur penerimaan negara, sejarawan lain percaya dia juga menjadi insinyur sipil dalam projek-projek pekerjaan publik. Namun di bidang-bidang ini, dia tidak pernah merasa puas, dalam buku Bredley dikatakan, Ibnu Haytham berpura-pura gila untuk bisa lepas dari tugas dan jabatan di pemerintahan agar bisa kembali menekuni riset-riset ilmiah yang dicintainya. Hatinya telah terpaut pada matematika, optika, fisika, geometri, dan astronomi. (Dede Suhaya)***

Sunday, 20 July 2008

Jef Raskin, Perancang Komputer Macintosh dan Antarmuka Grafis

MACINTOSH, atau disingkat Mac, adalah jajaran komputer pribadi (PC) yang dirancang, dikembangkan, diproduksi, dan dipasarkan oleh Apple Corp., perusahaan yang didirikan Steve Jobs dan Steve Wozniak. Macintosh orsinil pertama diluncurkan pada 24 Januari 1984, disebut-sebut sebagai PC pertama yang sukses secara komersial menggunakan antarmuka grafis (graphical user interface, GUI) dan mouse, yang kini menjadi antarmuka standar pada komputer.

Menyebut kata Macintosh, seolah tidak bisa dilepaskan dari sosok Steve Jobs. Namun banyak orang yang tidak tahu bahwa pencetus gagasan, dan perancang yang sebenarnya adalah Jef Raskin, seorang pakar yang berwawasan ke depan.


Jef Raskin dilahirkan di Kota New York 9 Maret 1943. Menerima gelar sarjana dalam ilmu matematika dan filsafat pada tahun 1964 dan 1965 dari State University of New York. Kemudian menyandang gelar master dalam sains komputer darii Pennsylvania State University pada 1967.


Program komputer pertama yang ia buat adalah sebuah program musik, yang sekaligus menjadi bagian dari tesis masternya. Raskin kemudian mendaftar dalam program musik di University of California, San Diego, lalu bekerja sebagai asisten profesor dari 1970 hingga 1974. Kadang-kadang ia pun menulis untuk publikasi komputer dalam sebuah jurnal.


Pertama bertemu dengan Steve Jobs dan Steve Wozniak dari Apple Computer ketika mengikuti debut komputer Apple di First West Coast Computer Faire. Pada Januari 1978 Raskin bergabung dengan Apple sebagai manager publikasi. Untuk beberapa waktu dia pun pernah ditempatkan di bagian pengepakan.


Ketika Apple III tengah dikembangkan, Raskin melobi agar Apple menciptakan komputer yang berbeda secara radikal, yang dirancang agar mudah digunakan, berbiaya murah, dan diperuntukkan bagi konsumen rata-rata.


Mesin yang Jef rancang powernya mirip dengan Apple II, termasuk monitor hitam-putih berukuran 9 inci, dan dilengkapi floppy disk drive kecil. Sejumlah aplikasi dasar ditanamkan ke dalam mesin ini, salah satunya adalah penggunaan tombol-tombol fungsi. Mesin ini juga mengandung rangkaian logika yang akan memahami kehendak pengguna dan mengubah program-program.


Steve Jobs pernah beberapa kali mencoba membatalkan projek Macintosh ini, namun ia mulai tertarik pada projek gagasan Raskin ini, dan berniat mengawinkan Xerox PARC (yang menginpirasi graphic user interface, GUI) dengan appliance-computing Raskin yang terkenal dengan konsepnya "computers-by-the-millions".


Proyek Macintosh dimulai awal 1979, dan Jef ditunjuk sebagai kepala tim pengembangan. Dia dipercaya untuk mengimplementasikan rancangan user interface-nya, yang mana di awal 1980-an sebagian besar komputer masih berbasis teks dan perintah-perintah kompleks. Raskin meyakinkan Apple bahwa untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, Macintosh membutuhkan suatu antarmuka atau interface yang elegan dan mudah digunakan.


Macintosh, yang namanya diambil dari varietas apel McIntosh favoritnya, pertama dirancang memilki spesifikasi; memori RAM 64 kibibytes (KiB), menggunakan mikroprosesor Motorola 6809E, dan mampu mendukung tampilan hitam putih 256 pixel.


Raskin juga memiliki kontribusi dalam rancangan Mac, termasuk keputusan menggunakan mouse satu tombol sebagai bagian dari antarmuka Apple (berangkat dari standar Xerox PARC mouse tiga tombol). Raskin kemudian memutuskan untuk merancang ulang mouse yang ada dengan tombol-tombol berjumlah tiga dan diberi label: "Select", "Activate," dan "Grab”.


Dua tahun sebelum Macintosh dilempar ke pasaran, Raskin hengkang dari Apple (1982), namun ia terus menerus mempengaruhi komputer tersebut lewat tulisan-tulisan, kuliah, dan konsultasinya. Segera setelah meninggalkan perusahaan Apple ia mendirikan Information Appliance, dimana ia merancang komputer Canon Cat untuk Canon USA, sayangnya produk ini tidak sukses secara komersial.


Selain dikenal sebagai “Macintosh Creator”, Jef juga dipercaya sebagai penemu sistem click-and-drag, dan sejumlah penemuan penting lainnya. Perusahaan-perusahaan besar seperti Intel, Hewlett-Packard, dan IBM, kerap berkonsultasi soal komputasi dengannya. Pada 2000 ia mempublikasikan sebuah buku, "The Humane Interface," yang secara luas digunakan di berbagai universitas.


Projek Archy
Di awal milenium ini, Raskin membuat antarmuka komputer terbaru berdasarkan riset dan upayanya selama 30 tahun, ia sebut sebagai The Humane Environment, THE. Pada 1 Januari 2005, Jef menamainya Archy. Konsep Archy menggunakan perintah-perintah sederhana untuk operasi-operasi biasa dalam pemrosesan kata (word processing) dan e-mail, namun berbeda dengan yang ada sekarang. Inilah penjelmaan dari konsep humane interface, sebagaimana ia tulis dalam bukunya.

Ketertarikan Raskin tidak sebatas pada komputer, dia juga mencintai musik, terkenal sebagai pakar aerodinamik pesawat miniatur bahkan pernah mendirikan perusahaan yang merancang dan menjual pesawat miniatur yang dikendalikan radio.


Jef meninggal dengan damai di rumahnya di Kalifornia pada 26 Februari 2005 dikelilingi istri dan anak-anak yang mencintainya. Dia didiagnosa menderita kanker pankreas yang menggerogotinya sejak Desember 2004. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***


Foto: Wikimedia

Thursday, 19 June 2008

Subrahmanyan Chandrasekhar, Pemikir Alam Semesta Setelah Einstein

SEBUAH bintang dengan massa lebih besar 1,4 kali dari matahari mengakhiri hidupnya dengan runtuh ke dalam suatu objek yang memiliki kerapatan mahabesar, di antaranya membentuk objek-objek yang dinamakan lubang hitam (black hole).

Batasan di atas itu kini dikenal sebagai limit Chandrasekhar, suatu tetapan fundamental yang memegang peran penting dalam dunia astrofisika modern.

Chandrasekhar, sebuah nama bernuansa Timur muncul di belantara astronomi yang didominasi nama-nama Barat. Siapakah Chandrasekhar sehingga namanya begitu harum diabadikan dalam suatu tetapan ilmu pengetahuan?

Chandrasekhar adalah seorang ahli astrofisika Amerika Serikat kelahiran India. Salah seorang dari beberapa ilmuwan awal yang menggabungkan disiplin ilmu fisika dengan astronomi, dan berhasil meraih penghargaan bergengsi Hadiah Nobel bidang fisika tahun 1983 berkat studi teoretisnya mengenai proses fisik dari struktur dan evolusi bintang-bintang. Ia mengikuti jejak pamannya, Chandrasekhara Venkata Raman, seorang fisikawan peraih Hadiah Nobel tahun 1930, yang menemukan teori penghamburan Raman dan efek Raman.

Subrahmanyan Chandrasekhar lahir di Kota Lahore, India (kini Pakistan) pada 19 Oktober 1910. Ayahnya, Chandrasekhara Subrahmanyan Ayyar, seorang auditor pemerintah untuk perusahaan kereta api Northwest Railways. Sementara ibunya, Sitalaksmi Ayyar adalah wanita terpelajar yang berperan penting mengantarkan Chandrasekhar kecil menjadi seorang ilmuwan.

Chandra (demikian panggilan akrabnya) datang dari keluarga besar, memiliki dua kakak perempuan, tiga adik laki-laki dan empat adik perempuan. Pendidikan awalnya, hingga usia dua belas tahun, dilakukan di rumah dengan bimbingan orang tua dan guru privat. Pada 1918, ayahnya dipindahkan ke Madras. Di kota ini Chandra masuk SMA Hindu, Triplicane.

Pendidikan tingginya dijalani di Presidency College hingga menyabet gelar B.Sc. dalam ilmu fisika pada Juni 1930. Sebulan kemudian ia mendapat beasiswa dari Pemerintah India untuk studi di Cambridge, Inggris. Di universitas ternama ini ia menjadi mahasiswa riset di bawah pengawasan Professor Ralph Fowler hingga meraih gelar Ph.D. pada 1933.

Lalitha Doraiswamy, seorang mahasiswi juniornya selama kuliah di Presidency College telah memikat hatinya, dan dinikahinya pada 11 September 1936. Lalitha datang dari keluarga yang sangat peduli pada pendidikan, dialah yang selama 59 tahun dengan setia mendukung karier suaminya sebagai periset astrofisika terkemuka dunia.

Di tahun-tahun berikutnya Chandra bergabung menjadi staf di Universitas Chicago, tempat seluruh sisa waktunya dihabiskan, terutama di Observatorium Yerkes, bagian dari Universitas Chicago di Wiscounsin. Ia aktif sebagai asisten profesor astrofisika. Selama berkecamuk Perang Dunia II, Chandra bekerja di Laboratorium Riset Balistik di Aberdeen Proving Ground, Maryland. Dan setelah menunggu selama 15 tahun, keinginannya untuk menjadi warga negara AS akhirnya terkabul pada 1953.

Selama hampir 20 tahun (1952-1971) Chandrasekhar menjadi editor Astrophysical Journal. Sebuah jurnal yang semula merupakan media publikasi lokal Universitas Chicago, namun berkembang menjadi media publikasi nasional dari Masyarakat Astronomis, hingga kemudian menjadi jurnal terkemuka secara internasional.

Ilmuwan kelahiran India ini telah memublikasikan kurang lebih 400 paper dan sejumlah buku. Risetnya mengeksplorasi hampir seluruh cabang astrofisika teori, namun bisa dibagi ke dalam beberapa topik dan periode. Pertama ia mempelajari struktur bintang, termasuk teori katai putih (white dwarf) dari 1929-1939. Kemudian membahas dinamika bintang (1939-1943). Selanjutnya membangun teori transfer radiatif dan teori kuantum dari ion negatif hidrogen (1943-1950), menyusul stabilitas hidrodinamik dan hidromagnetik (1950-1961). Selama tahun 1960-an ia mempelajari kesetimbangan dan stabilitas bentuk elipsoidal namun selama periode itu ia juga mulai menggarap topik relativitas umum, proses reaksi radiasi, dan stabilitas bintang-bintang relativistik.

Periode 1971-1983, ia melakukan riset dalam teori matematis dari lubang hitam, di periode akhir dari hidupnya ia menyusun teori gelombang gravitasional tumbukan. Segenap hasil jerih payah Chandrasekhar di atas memegang peran sangat penting dalam ilmu astronomi.

Chandrasekhar adalah seorang ilmuwan muda India yang brilian, di awal kariernya ia mengajukan teori yang menjelaskan apa yang terjadi pada bintang-bintang ketika bahan bakar nuklirnya habis. Dari perhitungannya yang cermat memperlihatkan bahwa jika sebuah bintang berukuran cukup besar akan runtuh ke dalam ketiadaan, namun secara paradoks ketiadaan itu memiliki massa dan tarikan gravitasi yang mahabesar. Dengan kata lain, ini adalah apa yang sekarang kita sebut sebagai lubang hitam.

Tak pelak, teori ini memicu perseteruan antara Chandra dan Eddington. Di tahun 1930-an, Sir Arthur Eddington dikenal sebagai ahli astrofisika Inggris dengan reputasi luar biasa. Ia mampu membuktikan teori relativitas Einstein dan memahami apa yang terjadi di dalam bintang-bintang.

Pada suatu kesempatan pertemuan Royal Astronomical Society, Eddington secara geram menyerang fisikawan India ini dengan mengatakan gagasan Chandra sebagai "pembadutan bintang". Menurut Eddington, bintang-bintang akan mengakhiri hidupnya sebagai gumpalan logam yang disebut katai putih.

Pertentangan dalam sains astronomi ini berlangsung selama tiga puluh tahun. Chandra merasa terluka dan meninggalkan Universitas Cambridge. Ia juga mengubah topik risetnya dan itu berlangsung hingga tiga dekade sebelum teorinya terbukti benar. Eddington meninggal dunia tahun 1944 dan tidak pernah menarik kecamannya terhadap Chandra.

Namun, seperti dikutip dari situs resminya, Chandra tidak pernah menyimpan dendam terhadap mantan gurunya itu, "Saya menjalin persahabatan langgeng dengan beberapa orang, termasuk Sir Arthur Eddington."

Selama kariernya yang gemilang, Chandra mendapat banyak penghargaan, selain Hadiah Nobel, ia dianugerahi Royal Medal dari Royal Society London tahun 1962 untuk riset-riset dalam fisika matematis, terutama yang berhubungan dengan stabilitas gerakan-gerakan konvektif dalam fluida dengan dan tanpa medan magnet. Royal Society juga menganugerahi Copley Medal di tahun 1984, untuk hasil kerja luar biasa dalam fisika teoretis, termasuk struktur bintang, teori radiasi, stabilitas, dan relativitas hidrodinamika. Ia juga diganjar medali Bruce dari Masyarakat Astronomis Pasifik, medali Henry Draper dari Akademi Sains Nasional, AS, dan Gold Medal dari Masyarakat Astronomi Kerajaan Inggris.

Pada 1980 Chandra mengundurkan diri dari karier keilmuannya dan mendapatkan gelar profesor emeritusnya dari Universitas Chicago pada 1985.

Di bulan-bulan terakhir hidupnya, Chandra tua (85 tahun) masih aktif memublikasikan buku terakhirnya, Principia Newton untuk Pembaca Awam. Tidak lama setelah publikasi hasil kerjanya itu, 21 Agustus 1995 ia mengembuskan napas terakhirnya karena penyakit gagal jantung yang dideritanya dan disemayamkan di Chicago, Illinois, Amerika Serikat.

"Chandra mungkin berpikir lebih lama dan lebih mendalam mengenai alam semesta kita dibandingkan dengan siapa pun sejak Einstein," ujar Martin Rees, seorang pakar astronomi kerajaan Inggris. Chandrasekhar memang telah lama meninggal, namun pemikiran yang mendalam mengenai alam semesta ini akan terus dilanjutkan, terutama lewat sebuah satelit yang diluncurkan NASA pada 23 Juli 1999, yang dinamai sesuai dengan namanya, Observatorium Sinar-X Chandra. (Dede Suhaya)***

Sunday, 30 March 2008

Abbas Qasim Ibnu Firnas, Peletak Dasar Konsep Pesawat Terbang

BICARA soal dunia penerbangan, tak pernah lepas dari tokoh-tokoh semacam Sir George Cayley, Otto Lilienthal, Santos-Dumont dan Wright Bersaudara. Merekalah yang dikenal berjasa merintis dunia penerbangan hingga menjelma menjadi industri modern seperti sekarang ini.

Tapi apakah anda tahu bahwa peletak dasar konsep pesawat terbang pertama adalah seorang ilmuwan Muslim dari Spanyol, Abbas Ibnu Firnas? Dialah orang pertama dalam sejarah yang melakukan pendekatan sains dalam mempelajari proses terbang. Ibnu Firnas pun layak disebut sebagai manusia pertama yang terbang, ribuan tahun sebelum Wright Bersaudara berhasil melakukannya.

Abbas Qasim Ibnu Firnas (di Barat dikenal dengan nama Armen Firman) dilahirkan pada tahun 810 Masehi di Izn-Rand Onda, Al-Andalus (kini Ronda, Spanyol). Dia dikenal ahli dalam berbagai disiplin ilmu, selain seorang ahli kimia, ia juga seorang humanis, penemu, musisi, ahli ilmu alam, penulis puisi, dan seorang penggiat teknologi. Pria keturunan Maroko ini hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umayyah di Andalusia (Spanyol).

Pada tahun 852, di bawah pemerintahan Khalifah Abdul Rahman II, Ibnu Firnas memutuskan untuk melakukan ujicoba ‘terbang’ dari menara Masjid Mezquita di Cordoba dengan menggunakan semacam sayap dari jubah yang disangga kayu. Sayap buatan itu ternyata membuatnya melayang sebentar di udara dan memperlambat jatuhnya, ia pun berhasil mendarat walau dengan cedera ringan. Alat yang digunakan Ibnu Firnas inilah yang kemudian dikenal sebagai parasut pertama di dunia.

Keberhasilannya itu tak lantas membuatnya berpuas diri. Dia kembali melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan konsep serta teori yang ia adopsi dari gejala-gejala alam yang kerap diperhatikannya.

Pada tahun 875, saat usianya menginjak 65 tahun, Ibnu Firnas merancang dan membuat sebuah mesin terbang yang mampu membawa manusia. Setelah versi finalnya berhasil dibuat, ia sengaja mengundang orang-orang Cordoba untuk turut menyaksikan penerbangan bersejarahnya di Jabal Al-‘Arus (Mount of the Bride) di kawasan Rusafa, dekat Cordoba.

Penerbangan yang disaksikan secara luas oleh masyarakat itu terbilang sangat sukses. Sayangnya, karena cara meluncur yang kurang baik, Ibnu Firnas terhempas ke tanah bersama pesawat layang buatannya. Dia pun mengalami cedera punggung yang sangat parah. Cederanya inilah yang membuat Ibnu Firnas tak berdaya untuk melakukan ujicoba berikutnya.

Kecelakaan itu terjadi karena Ibnu Firnas lalai memperhatikan bagaimana burung menggunakan ekor mereka untuk mendarat. Dia pun lupa untuk menambahkan ekor pada model pesawat layang buatannya. Kelalaiannya inilah yang mengakibatkan dia gagal mendaratkan pesawat ciptaannya dengan sempurna.

Cedera punggung yang tak kunjung sembuh mengantarkan Ibnu Firnas pada proyek-proyek penelitian di laboratorium. Seperti biasanya, ia meneliti gejala-gejala alam di antaranya mempelajari mekanisme terjadinya halilintar dan kilat, menentukan tabel-tabel astronomis, dan merancang jam air yang disebut Al-Maqata. Ibnu Firnas pun berhasil mengembangkan formula untuk membuat gelas dari pasir. Juga mengembangkan peraga rantai cincin yang digunakan untuk memperlihatkan pergerakan planet-planet dan bintang-bintang.

Yang tak kalah menariknya, Firnas berhasil mengembangkan proses pemotongan batu kristal, yang pada saat itu hanya orang-orang Mesir yang mampu melakukannya. Berkat penemuannya ini, Spanyol saat itu tidak perlu lagi mengekspor quartz ke Mesir, tapi bisa diselesaikan sendiri di dalam negeri.

Abbas Ibnu Firnas wafat pada tahun 888, dalam keadaan berjuang menyembuhkan cedera punggung yang diderita akibat kegagalan melakukan ujicoba pesawat layang buatannya.

Walaupun percobaan terbang menggunakan sepasang sayap dari bulu dan rangka kayu tidak berhasil dengan sempurna, namun gagasan inovatif Ibnu Firnas kemudian dipelajari Roger Bacon 500 tahun setelah Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbangnya. Kemudian sekitar 200 tahun setelah Bacon (700 tahun pascaujicoba Ibnu Firnas), barulah konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan.

Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa gegap gempitanya industri pesawat terbang modern seperti saat ini, tidak lepas dari perjuangan seorang Ibnu Firnas yang rela babak belur untuk sekadar melayang sebentar layaknya burung terbang.

Sosok Abbas Ibnu Firnas, kini hanya bisa kita temui tercetak di atas sebuah prangko buatan Libia, menjelma pada sosok patung dan nama lapangan terbang di Baghdad, dan abadi di salah satu kawah permukaan Bulan. (Dede Suhaya)***

Tulisan ini pernah di Muat HU Pikiran Rakyat

Monday, 28 January 2008

Paul C. Sereno, Paleontolog Populer Penuh Keberuntungan

NAMANYA mencuat, ketika tim yang dipimpinnya berhasil menemukan Sarcosuchus imperator, buaya terbesar yang digali dari Gadoufaoua, Gurun Tenere, Nigeria. Spesimen yang nyaris lengkap itu kemudian lebih populer disebut SuperCroc.

Paul Sereno, merupakan paleontolog paling populer saat ini, bahkan ketenarannya mengalahkan paleontolog terkemuka sekelas Peter Dodson. Di tangan Sereno, paleontologi, ilmu yang mempelajari fosil hewan dan tumbuhan dari periode geologi masa lalu ini, menjadikannya cabang ilmu yang penuh dengan petualangan, seni, wisata, selain sebagai cabang biologi dan geologi.

"Saya memandang paleontologi sebagai petualangan yang sarat makna, ilmu pengetahuan yang memungkinkan Anda berada di sudut terpencil dunia, membangunkan makhluk-makhluk raksasa yang tak pernah dilihat sebelumnya. Anda akan mengetahui trik-trik untuk menemukan fosil besar dan Anda bisa bepergian ke suatu tempat, di mana tak seorang pun pernah mengunjunginya," ujarnya.

Paul Callistus Ser
eno lahir 11 Oktober 1957, dari rahim seorang ibu seniman dan ayah seorang insinyur. Sereno tumbuh besar di Naperville, daerah pinggiran Chicago. Ia belajar seni dan biologi sewaktu kuliah di Nothern Illinois University. Satu tur museum yang pernah ia ikuti, telah membuka cakrawala pada kehidupan sains, seni, dan petualangan. "Saya tidak pernah melupakan kunjungan itu. Dalam paleontologi, saya melihat suatu kombinasi yang sangat menarik antara wisata, petualangan, seni, biologi dan geologi," katanya.

Ketika mendapat gelar doktor dalam ilmu geologi di Universitas Columbia, Sereno mulai mempelajari fosil-fosil dinosaurus di Museum Sejarah Alam Amerika di New York. Tak lama setelah mengelilingi dunia, ia mempelajari fosil-fosil dinosaurus yang berhasil digali di Cina dan Mongolia. Kemudian 1987, ia bergabung sebagai pengajar di Universitas Chicago, di mana ia mengajar paleontologi, evolusi, dan anatomi manusia.

Pada 1998 Sereno dan istrinya, Gabrielle Lyon, ikut mendirikan Project Exploration, suatu organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk mengantarkan penemuan dinosaurus dan sains alamiah ke masyarakat, dan menyediakan kesempatan pengajaran inovatif bagi anak-anak. Paul Sereno juga mendapat kehormatan sebagai Explorers-in-Residence dari National Geographic.

Berkat penemuan-penemuannya yang menakjubkan, Profesor
Universitas Chicago ini disebut-sebut sebagai pembawa revolusi dalam ilmu paleontologi. Dia dikenal memiliki reputasi sebagai orang yang luar biasa "beruntung", betapa tidak setiap ekspedisi yang ia lakukan dari Afrika ke Argentina, dari Mongolia hingga Texas, fosil-fosil dinosaurus seakan menunggu kedatangannya, sampai ia berhasil "membangkitkannya."

Paul Sereno adalah penemu berbagai jenis dinosaurus dari lima benua dan memimpin lusinan ekspedisi. Kerja lapangannya dimulai 1988 di kaki-kaki bukit pegunungan Andes, Argentina, di mana timnya berhasil menemukan kerangka lengkap pertama dari dinosaurus primitif Herrerasaurus. Di kawasan yang sama, 1991, tim Sereno juga menemukan kerangka mungil milik spesies baru Eoraptor. Penemuan kedua dinosaurus generasi pertama ini, telah menyingkap gambaran yang lengkap mengenai permulaan era dinosaurus, kedua predator ini diketahui hidup 228 juta tahun yang lalu selama Periode Triassic.

Di awal 1990-
an riset Sereno beralih ke Sahara, dalam upayanya mencari "dunia yang hilang" dari dinosaurus-dinosaurus Afrika. Dalam ekspedisi ke Nigeria dan Maroko tim Sereno akhirnya menemukan sosok Afrovenator, makhluk pemakan daging dari periode Cretaceous, dan tengkorak pemakan tumbuhan sepanjang 18 meter yang diberi nama Jobaria tiguidensis, juga berhasil digali sosok predator pemakan ikan, Suchomimus.

Yang tak kalah menariknya adalah penemuan Nigersaurus, dinosaurus pemakan tumbuhan setinggi 45 kaki, yang baru-baru ini dipamerkan. Nigersaurus merupakan dinosaurus dengan bentuk kepala yang ganjil, dikenal sebagai "sapi Era Mesozoic."

Di Maroko, Sereno dan timnya berhasil menggali seekor dinosaurus pemakan daging yang sangat tangkas, Deltadromeus, dan tengkorak predator terbesar pertama,
Carcharodontosaurus.

Akhirnya 2000, di gurun terpencil Nigeria, keberuntungan Sereno semakin lengkap dengan ditemukannya tengkorak seekor dinosaurus berwajah keriput, Rugops primus. Penemuan ini melengkapi bukti teranyar tentang Afrika yang terpisah dari super benua Gondwana 120 juta tahun yang lalu. Rugops primus diketahui satu kelompok dengan dinosaurus yang disebut abelisaurid yang banyak ditemukan di Amerika Selatan, Madagaskar, dan India.

Reputasinya sebagai paleontolog yang "beruntung" membawanya pada segudang penghargaan yang ia terima, di antaranya penghargaan dari Chicago Tribune sebagai Teacher of the Year (1993), Chicagoan of the Year (1996) dari majalah Chicago, The Century Club (1997) dari majalah Newsweek, 50 Most Beautiful People (1997) dari majalah People, 100 Best People in the World (1997) dari Esquire. Untuk kontribusi luar biasanya pada ilmu paleontologi ia mendapat anugerah Walker Prize (1997) dari Boston Museum of Science, dan University Medal for Excellence (1999) dari Universitas Colombia. (Dede Suhaya)***


Foto: flickr.com