Kamis, 19 Juni 2008

Subrahmanyan Chandrasekhar, Pemikir Alam Semesta Setelah Einstein

SEBUAH bintang dengan massa lebih besar 1,4 kali dari matahari mengakhiri hidupnya dengan runtuh ke dalam suatu objek yang memiliki kerapatan mahabesar, di antaranya membentuk objek-objek yang dinamakan lubang hitam (black hole).

Batasan di atas itu kini dikenal sebagai limit Chandrasekhar, suatu tetapan fundamental yang memegang peran penting dalam dunia astrofisika modern.

Chandrasekhar, sebuah nama bernuansa Timur muncul di belantara astronomi yang didominasi nama-nama Barat. Siapakah Chandrasekhar sehingga namanya begitu harum diabadikan dalam suatu tetapan ilmu pengetahuan?

Chandrasekhar adalah seorang ahli astrofisika Amerika Serikat kelahiran India. Salah seorang dari beberapa ilmuwan awal yang menggabungkan disiplin ilmu fisika dengan astronomi, dan berhasil meraih penghargaan bergengsi Hadiah Nobel bidang fisika tahun 1983 berkat studi teoretisnya mengenai proses fisik dari struktur dan evolusi bintang-bintang. Ia mengikuti jejak pamannya, Chandrasekhara Venkata Raman, seorang fisikawan peraih Hadiah Nobel tahun 1930, yang menemukan teori penghamburan Raman dan efek Raman.

Subrahmanyan Chandrasekhar lahir di Kota Lahore, India (kini Pakistan) pada 19 Oktober 1910. Ayahnya, Chandrasekhara Subrahmanyan Ayyar, seorang auditor pemerintah untuk perusahaan kereta api Northwest Railways. Sementara ibunya, Sitalaksmi Ayyar adalah wanita terpelajar yang berperan penting mengantarkan Chandrasekhar kecil menjadi seorang ilmuwan.

Chandra (demikian panggilan akrabnya) datang dari keluarga besar, memiliki dua kakak perempuan, tiga adik laki-laki dan empat adik perempuan. Pendidikan awalnya, hingga usia dua belas tahun, dilakukan di rumah dengan bimbingan orang tua dan guru privat. Pada 1918, ayahnya dipindahkan ke Madras. Di kota ini Chandra masuk SMA Hindu, Triplicane.

Pendidikan tingginya dijalani di Presidency College hingga menyabet gelar B.Sc. dalam ilmu fisika pada Juni 1930. Sebulan kemudian ia mendapat beasiswa dari Pemerintah India untuk studi di Cambridge, Inggris. Di universitas ternama ini ia menjadi mahasiswa riset di bawah pengawasan Professor Ralph Fowler hingga meraih gelar Ph.D. pada 1933.

Lalitha Doraiswamy, seorang mahasiswi juniornya selama kuliah di Presidency College telah memikat hatinya, dan dinikahinya pada 11 September 1936. Lalitha datang dari keluarga yang sangat peduli pada pendidikan, dialah yang selama 59 tahun dengan setia mendukung karier suaminya sebagai periset astrofisika terkemuka dunia.

Di tahun-tahun berikutnya Chandra bergabung menjadi staf di Universitas Chicago, tempat seluruh sisa waktunya dihabiskan, terutama di Observatorium Yerkes, bagian dari Universitas Chicago di Wiscounsin. Ia aktif sebagai asisten profesor astrofisika. Selama berkecamuk Perang Dunia II, Chandra bekerja di Laboratorium Riset Balistik di Aberdeen Proving Ground, Maryland. Dan setelah menunggu selama 15 tahun, keinginannya untuk menjadi warga negara AS akhirnya terkabul pada 1953.

Selama hampir 20 tahun (1952-1971) Chandrasekhar menjadi editor Astrophysical Journal. Sebuah jurnal yang semula merupakan media publikasi lokal Universitas Chicago, namun berkembang menjadi media publikasi nasional dari Masyarakat Astronomis, hingga kemudian menjadi jurnal terkemuka secara internasional.

Ilmuwan kelahiran India ini telah memublikasikan kurang lebih 400 paper dan sejumlah buku. Risetnya mengeksplorasi hampir seluruh cabang astrofisika teori, namun bisa dibagi ke dalam beberapa topik dan periode. Pertama ia mempelajari struktur bintang, termasuk teori katai putih (white dwarf) dari 1929-1939. Kemudian membahas dinamika bintang (1939-1943). Selanjutnya membangun teori transfer radiatif dan teori kuantum dari ion negatif hidrogen (1943-1950), menyusul stabilitas hidrodinamik dan hidromagnetik (1950-1961). Selama tahun 1960-an ia mempelajari kesetimbangan dan stabilitas bentuk elipsoidal namun selama periode itu ia juga mulai menggarap topik relativitas umum, proses reaksi radiasi, dan stabilitas bintang-bintang relativistik.

Periode 1971-1983, ia melakukan riset dalam teori matematis dari lubang hitam, di periode akhir dari hidupnya ia menyusun teori gelombang gravitasional tumbukan. Segenap hasil jerih payah Chandrasekhar di atas memegang peran sangat penting dalam ilmu astronomi.

Chandrasekhar adalah seorang ilmuwan muda India yang brilian, di awal kariernya ia mengajukan teori yang menjelaskan apa yang terjadi pada bintang-bintang ketika bahan bakar nuklirnya habis. Dari perhitungannya yang cermat memperlihatkan bahwa jika sebuah bintang berukuran cukup besar akan runtuh ke dalam ketiadaan, namun secara paradoks ketiadaan itu memiliki massa dan tarikan gravitasi yang mahabesar. Dengan kata lain, ini adalah apa yang sekarang kita sebut sebagai lubang hitam.

Tak pelak, teori ini memicu perseteruan antara Chandra dan Eddington. Di tahun 1930-an, Sir Arthur Eddington dikenal sebagai ahli astrofisika Inggris dengan reputasi luar biasa. Ia mampu membuktikan teori relativitas Einstein dan memahami apa yang terjadi di dalam bintang-bintang.

Pada suatu kesempatan pertemuan Royal Astronomical Society, Eddington secara geram menyerang fisikawan India ini dengan mengatakan gagasan Chandra sebagai "pembadutan bintang". Menurut Eddington, bintang-bintang akan mengakhiri hidupnya sebagai gumpalan logam yang disebut katai putih.

Pertentangan dalam sains astronomi ini berlangsung selama tiga puluh tahun. Chandra merasa terluka dan meninggalkan Universitas Cambridge. Ia juga mengubah topik risetnya dan itu berlangsung hingga tiga dekade sebelum teorinya terbukti benar. Eddington meninggal dunia tahun 1944 dan tidak pernah menarik kecamannya terhadap Chandra.

Namun, seperti dikutip dari situs resminya, Chandra tidak pernah menyimpan dendam terhadap mantan gurunya itu, "Saya menjalin persahabatan langgeng dengan beberapa orang, termasuk Sir Arthur Eddington."

Selama kariernya yang gemilang, Chandra mendapat banyak penghargaan, selain Hadiah Nobel, ia dianugerahi Royal Medal dari Royal Society London tahun 1962 untuk riset-riset dalam fisika matematis, terutama yang berhubungan dengan stabilitas gerakan-gerakan konvektif dalam fluida dengan dan tanpa medan magnet. Royal Society juga menganugerahi Copley Medal di tahun 1984, untuk hasil kerja luar biasa dalam fisika teoretis, termasuk struktur bintang, teori radiasi, stabilitas, dan relativitas hidrodinamika. Ia juga diganjar medali Bruce dari Masyarakat Astronomis Pasifik, medali Henry Draper dari Akademi Sains Nasional, AS, dan Gold Medal dari Masyarakat Astronomi Kerajaan Inggris.

Pada 1980 Chandra mengundurkan diri dari karier keilmuannya dan mendapatkan gelar profesor emeritusnya dari Universitas Chicago pada 1985.

Di bulan-bulan terakhir hidupnya, Chandra tua (85 tahun) masih aktif memublikasikan buku terakhirnya, Principia Newton untuk Pembaca Awam. Tidak lama setelah publikasi hasil kerjanya itu, 21 Agustus 1995 ia mengembuskan napas terakhirnya karena penyakit gagal jantung yang dideritanya dan disemayamkan di Chicago, Illinois, Amerika Serikat.

"Chandra mungkin berpikir lebih lama dan lebih mendalam mengenai alam semesta kita dibandingkan dengan siapa pun sejak Einstein," ujar Martin Rees, seorang pakar astronomi kerajaan Inggris. Chandrasekhar memang telah lama meninggal, namun pemikiran yang mendalam mengenai alam semesta ini akan terus dilanjutkan, terutama lewat sebuah satelit yang diluncurkan NASA pada 23 Juli 1999, yang dinamai sesuai dengan namanya, Observatorium Sinar-X Chandra. (Dede Suhaya)***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar