Minggu, 15 Juni 2008

Teknologi Nirkabel untuk Pertanian



BAGI para pebisnis dan kaum profesional di kota-kota besar, teknologi Wi-Fi telah menjadi sarana yang ampuh dalam menunjang aktivitasnya, terutama di saat-saat mobile. Beberapa ruang publik, seperti kafe, restoran, hotel, mal atau di ruang tunggu bandara, kini tidak aneh lagi dengan pemandangan orang-orang yang sedang asyik memelototi layar monitor laptop atau PDA untuk akses ke jaringan internet nirkabel. Tapi mungkin tak pernah terpikirkan oleh anda, bahwa teknologi informasi yang lagi ngetren ini, di negara-negara maju, sudah merambah ke ladang-ladang pertanian untuk dimanfaatkan, mulai dari mengolah lahan hingga memanen hasilnya.


Wi-Fi atau wireless fidelity merupakan teknologi untuk akses internet nirkabel berbasis IEEE 802.11b, yang memungkinkan para pengguna komputer (laptop/notebook), PDA atau smartphone, bisa berkomunikasi lewat jaringan LAN (local area network) atau mengakses internet dengan kecepatan tinggi, 11 hingga 54 Mbps (megabit per detik). Bandingkan dengan akses internet sistem dial up via kabel telepon yang kecepatan transfernya hanya sebesar 56 Kbps.


Stuart Pocknee, dari laboratorium pertanian Universitas Georgia, Amerika Serikat percaya, bahwa beberapa aspek dari Wi-Fi memiliki peluang untuk dimanfaatkan pada bidang pertanian dalam lima tahun ke depan. Misalnya, bisa membantu para petani dalam mengendalikan hama serangga, menggembalakan ternak, mengemudikan traktor, memonitor kelembaban tanah dan mengendalikan pompa-pompa irigasi. Stuart Pocknee, adalah orang pertama yang berhasil menghubungkan jaringan web miliknya ke sebuah ladang kapas, sekitar setengah mil dari laboratoriumnya.

"Teknologi yang diterapkan pada pertanian ini sejenis dengan yang digunakan di kafe Starbucks. Di mana seorang petani dapat memperoleh secangkir kopi, duduk di dalam truk pick-upnya dan tinggal log on ke internet," ujar Pocknee.

Bahkan beberapa petani dari Georgia sudah menggunakan teknologi tinggi ini. Untuk sementara dimanfaatkan dalam mengawasi pengepakan sayuran lewat video nirkabel dan yang lainnya untuk memonitor sistem-sistem pengairan yang bertumpu pada jaringan nirkabel.

Dengan mengadopsi teknologi gelombang radio ini, Pocknee cukup duduk-duduk di kantornya dan melihat posisi dari sebuah sistem irigasi melalui layar komputernya. Sebab, teknologi ini juga dilengkapi dengan sistem Global Positioning System (GPS) dan kamera video untuk memberitahukan dan mengawasi suatu lokasi.

James McKinion, seorang teknisi elektronik di Lembaga Penelitian Agrikultur Universitas Georgia di Starkville, Mississippi, membuktikan bahwa teknologi wireless network ini sukses digunakan pada lahan pertanian seluas 743 ha di dekat Macon, Mississippi dan pada sebuah lahan pertanian seluas 5.575 ha di Mississippi Delta.

Untuk lahan pertanian yang tergolong kecil, teknologi ini bisa diaplikasikan menggunakan frekuensi standar Wi-Fi sebesar 1,4 Ghz. Namun dengan kombinasi dari frekuensi 2,4 Ghz dan 900 Mhz, kemampuan teknologi wireless-nya mampu meng-cover area yang cukup luas.

Lain lagi yang dilakukan Qin Zhang, seorang pakar sistem pertanian berbasis komputer dari Universitas Illinois, ia memanfaatkan jaringan nirkabel ini untuk mengendalikan traktor-traktor robot yang dipandu oleh sinyal-sinyal GPS. Peneliti ini mengklaim bahwa kendaraan ini siap dijalankan di lapangan dengan hasil yang lebih akurat, dibanding traktor yang dikemudikan manusia yang berpengalaman sekalipun.

Dengan Wi-Fi, seorang petani tidak perlu lagi repot belepotan tanah, berkeliling mengawasi ladangnya, menggembalakan ternak atau mengatur irigasi. Hanya melalui sebuah layar monitor laptop, para petani bisa memonitor dan mengendalikan semua aktivitas tersebut, bahkan mereka dapat memberi makan ternaknya melalui remote control. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar