Minggu, 23 November 2008

Membungkus Buah, Cara Efektif Melawan Lalat Buah

Lalat buah merupakan salah satu hama yang sangat ganas menyerang tanaman hortikultura di seluruh dunia. Lebih dari seratus jenis tanaman hortikultura diduga menjadi target serangannya. Pada populasi yang tinggi, intensitas serangannya bisa mencapai 100%. Itulah sebabnya, serangga kecil ini telah menarik perhatian para ahli untuk mengupayakan pengendaliannya.

DI INDONESIA saat ini ada sekitar 66 spesies lalat buah, termasuk spesies yang sangat merusak yaitu Bactrocera spp., yang menyerang buah-buahan seperti belimbing, jambu air, jambu biji, mangga, nangka, semangka, melon, bahkan cabai.

Sifat khas lalat buah adalah hanya bertelur di dalam buah-buahan. Larva atau belatung yang menetas dari telur inilah yang akan mengganyang daging buah, sehingga buah menjadi busuk. Hal ini bisa menurunkan daya saing komoditi hortikultura Indonesia di pasar dunia.

Upaya pengendalian lalat buah telah banyak dilakukan oleh para petani, tetapi hasilnya belum begitu memuaskan. Cara pengendalian yang sederhana yang lazim dilakukan oleh para petani adalah pembungkusan buah.

Upaya pengantongan atau pembungkusan buah dalam areal kebun yag sangat luas, dengan pohon yang tinggi, dan berbuah lebat memang kurang praktis. Namun, bila upah tenaga kerja murah dan banyak tersedia, maka upaya tersebut bisa dilakukan. Keuntungan dari cara pembungkusan ini adalah buah-buahan bisa terhindar dari serangan lalat buah selain bersih, mulus, tanpa pencemaran bahan kimia.

Metode pembungkusan buah telah lama digunakan di Asia oleh para pekebun komersial maupun petani-petani kecil. Tahun 1994, ekspor industri belimbing di Malaysia, mencapai nilai US$ 10 juta, berkat sistem perlindungan seluruh buah dengan pengantongan. Praktek ini telah berlangsung lebih dari 70 tahun dan terbukti berhasil. Membungkus buah, terutama mangga, juga secara luas dilakukan di Thailand dan Filipina. Sementara di Taiwan diaplikasikan untuk melindungi buah melon.

Sistem pengantongan/pembungkusan buah tidak mahal dan mudah melakukannya serta dijamin hampir seratus persen dapat melindungi buah dari serangan lalat buah. Inilah cara ideal bagi petani skala kecil yang tidak menggunakan pestisida untuk melindungi tanamannya.

Cara pembungkusan yang biasa dilakukan petani adalah menggunakan kertas, kertas karbon, plastik hitam, daun pisang, daun jati, ataupun kain untuk buah-buahan yang tidak terlalu besar seperti belimbing, jambu batu, dsb. Untuk buah nangka atau cempedak biasanya petani menggunakan anyaman daun kelapa, karung plastik, atau kertas semen.

Dalam pembungkusan buah, apapun bahan yang digunakan, syaratnya tidak mudah rusak, gelap, dan dapat menjaga kelembaban dalam pembungkus. Setiap jenis pembungkus mempunyai kelebihan maupun kekurangannya.

Waktu pembungkusan agar disesuaikan dengan jenis buah. Misalnya untuk buah belimbing hendaknya dilakukan sedini mungkin, sedangkan untuk buah mangga sebelum buah memasuki stadium pemasakan. Lalat buah pada umumnya tertarik pada warna kuning dan metil eugenol atau amonia yang dihasilkan oleh beberapa jenis bunga dan buah, sehingga upaya pengantongan buah-buahan sedini mungkin, bisa membantu mengurangi serangan lalat buah, sebelum lalat buah betina dewasa meletakkan telurnya.

Membuat bungkus buah secara sederhana bisa menggunakan kertas koran. Dua lapis kertas koran ini bisa dibentuk menjadi kantong berbentuk empat persegi panjang, sementara bagian sisi dan dasarnya dilipat dan dijahir atau di-staple.

Sebelum kantong dimasukkan ke dalam buah, tiup dulu kantong agar menggembung, baru kemudian masukkan ke dalam buah, lalu ikat bagian atasnya dengan tali atau kawat sehingga tertutup. Kantongi buah sebelum masak, sebelum dimasuki larva lalat, namun jangan membungkus buah yang sangat muda. Tekan bagian dasar kantong ke arah atas sehingga membentuk huru "V". Hal ini menjaga kerusakan akibat air hujan dan kantong tetap menggembung, serta buah jauh dari sisi-sisi kantong. Kantong harus mudah dibuka untuk mengecek bila buah di dalamnya telah masak.

Kantong plastik mungkin juga bisa digunakan namun tidak ideal, karena bisa menimbulkan panas dan kelembaban tinggi di dalamnya yang akan memicu pertumbuhan jamur, kantong plastik lebih cocok untuk tanaman golongan cucurbit yang besar.

Alternatif lain, kantong bisa dibuat dari dedaunan. Misalnya daun pandan, pohon pisang, sagu atau taro rawa. Untuk melindungi buah pisang, selain bisa dikantongi dengan karung beras, seluruh tandan bisa dibungkus dengan daunnya sendiri, ini biasa dipraktekkan di Papua Nugini. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***

foto: sekawan.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar