Sabtu, 06 September 2008

Mesopotamia, "Rahim" Peradaban

IRAK sesungguhnya adalah bangsa besar karena sejarahnya dimulai dari Mesopotamia, dataran amat subur antara Sungai Eufrat dan Tigris. Merekalah yang berjasa meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan peradaban. Nenek moyang bangsa Irak menempati Mesopotamia sejak tahun 7000 sebelum masehi (SM).

Kira-kira tahun 3500 SM, hiduplah bangsa Sumeria di daerah rawa-rawa bagian selatan. Merekalah pengembang peradaban yang amat mengagumkan. Manakala wilayah lain di muka bumi ini masih berada dalam kegelapan, Mesopotamia sudah menjdi pusat peradaban manusia yang sudah mengenal dan menguasai pengetahuan dan teknologi logam, ilmu pemerintahan dan kemasyarakatan, ilmu perang, mengembangkan sistem irigasi serta membuat karya-karya arsitektur yang amat mengagumkan.

Di sana, ilmu pengetahuan maju pesat, para ahli perbintangan merancang kalender berdasarkan pergerakan bulan, pemikir mengembangkan konsep matematika kompleks dan bahasa tulis baik untuk perdagangan maupun sastra.

Masa keemasan Mesopotamia, terjadi ketika adanya peleburan suku pendatang Amorit dengan Sumeria dengan Babylon sebagai ibukotanya.

Raja yang paling menonjol di zaman ini adalah Hammurabi (1792-1759 SM), yang menyatukan kota-kota penting di seluruh Mesopotamia dan menerapkan undang-undang yang dikenal dengan Code Hammurabi, merupakan produk hukum tertua yang pernah dibuat manusia.

Pada 689 SM, Babylon dihancurkan oleh bangsa Asiria. Tapi kemudian dibangun kembali oleh Raja Nebuchadnezzar II (605 - 562 SM) menjadi kota terindah dan termodern pada zamannya. Raja ini pula yang membangun "Taman Gantung Babylonia", satu dari tujuh keajaiban dunia yang telah hancur.

Konon, Taman Gantung Babylon (The Hanging Gardens of Babylon) dibangun Raja Nebuchadnezzar II dalam rangka menyenangkan istrinya, Amytis yang kerap rindu pada kampung halamannya, Media yang dikenal hijau, dikelilingi bukit dan pegunungan.

Kerajaan Mesopotamia kuno berakhir ketika Kerajaan Persia di bawah Raja Cyrus tahun 539 SM menduduki Babylonia, dan menjadikannya sebagai provinsi terkaya di Kerajaan Persia.

Peradaban terakhir yang paling kuat bercokol di kawasan ini adalah peradaban Islam yang mengalami masa keemasan hingga 600 tahun sebelum akhirnya ditaklukkan cucu Genghis Khan, Hulagu Khan dari Mongolia pada tahun 1258.

Demikianlah "Taman Firdaus" yang diapit Sungai Eufrat dan Tigris itu sepanjang sejarahnya selalu menjadi incaran para penakluk. Perang dan pergolakan konflik seolah tiada henti hingga kini AS masih menjajah Negeri 1001 Malam ini. (MB Firdaus)***

Foto: Raja
Nebuchadnezzar di Taman Gantung, lukisan karya E. Wallcousins

1 komentar:

  1. Sayang sekali ya, peradaban itu sekarang sudah hancur lebur dibombardir Amerika dan sekutunya.

    BalasHapus