Kamis, 12 Juni 2008

Mengapa Teh Hijau Istimewa?


PADA suatu hari, 2737 tahun sebelum masehi, ketika Kaisar Shen Nung akan minum air hangat, ada beberapa daun dari pohon yang tertiup angin jatuh di wadah berisi air tersebut. Sang Kaisar lantas mencicipi air yang tercelup daun tersebut, dan ia merasakan minuman tersebut terasa sedap dan menyegarkan badan.

Itulah satu episode legenda yang mengawali tradisi minum teh di Cina yang sudah berumur 5.000 tahun. Selama ribuan tahun itu, bangsa Cina telah meminum teh untuk kenikmatan juga untuk kesehatan tubuh. Kebiasaan ini kemudian masuk ke Jepang di awal abad kesembilan, ketika seorang biarawan membawa biji teh setelah pulang dari pengembaraannya di Cina.


Tradisi minum teh kemudian menjadi ritual tersendiri di Jepang hingga saat ini. Dari tradisi Jepang inilah salah satu jenis teh yang biasa dikonsumsi di sana mulai populer karena khasiatnya bagi kebugaran tubuh. Dari berbagai penelitian, teh hijau jepang sangat baik untuk menangkal kanker, jantung, hingga melangsingkan tubuh. Sehingga tidak heran orang mulai meliriknya.


Tanaman teh (Camellia sinensis) banyak ditanam di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Teh bisa tumbuh dengan baik di daerah beriklim sejuk pada ketinggian lebih dari 1.800 m dpl. Tanaman ini berakar tunggang bercabang banyak, tinggi pohon 4-8 meter. Daunnya berbentuk mangkuk panjang dengan gerigi halus di pinggirannya. Bunganya berwarna putih dengan serbuk sari kuning.

Pucuk daun inilah yang diproses lebih lanjut menjadi beraneka minuman teh di pasaran. Ada beragam jenis teh yang dikenal saat ini yaitu teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih. Teh oolong adalah gabungan teh hitam dan teh hijau. Konsumsi teh dunia tercatat sekitar 1 miliar ton per tahunnya, terdiri dari 70% teh hitam dan 30% teh hijau.

Di dunia banyak sekali nama dan sebutan teh, padahal teh dapat dibedakan dari cara perlakuannya. Bila prosesnya dengan cara fermentasi penuh, produknya biasa disebut teh hitam. Bila prosesnya semi fermentasi, produknya disebut teh oolong, dan bila tanpa fermentasi sama sekali, hasilnya adalah teh hijau. Istilah fermentasi di sini adalah membiarkan daun teh beroksidasi di udara.


Di Indonesia teh hijau sudah lama dikenal (di antaranya teh bermerek dagang Walini) tetapi umumnya Indonesia masih belum bisa membedakan antara teh oolong dan teh hijau. Mereka menyebutnya teh hijau. Ada teh hijau yang paling spesifik di dunia yaitu teh hijau jepang, karena bahan baku dan prosesingnya berbeda dengan teh hijau yang kita kenal selama ini.


Teh hijau jepang prosesnya juga non fermentasi. Adapun perbedaan dengan teh hijau lainnya terletak pada proses penonaktifan enzimnya. Teh hijau jepang inaktivasi enzimnya dengan uap panas bersuhu 100 derajat celsius selama Ω hingga 1 menit supaya zat hijau daun (klorofil) tidak rusak sehingga kenampakan dan warna air tetap hijau.

Sementara teh hijau yang lain prosesnya dengan plat panas (pan fired) bersuhu 300 - 350 derajat C atau kalau di Indonesia memakai hong berputar (rotary panner) dengan suhu lebih dari 90 derajat C.


Teh hijau jepang selain khas prosesnya, cara pemetikannya pun tidak boleh dalam keadaan basah atau hujan dan bahan baku pucuknya menggunakan varietas sinensis, sementara teh hijau Indonesia umumnya varietas assamica atau hybrid. Namun demikian Indonesia, dalam hal ini PTPN VIII, telah mampu memproduksi teh hijau jepang jenis sencha.

Di pasaran, selain dalam bentuk kemasan, teh hijau mulai banyak diproduksi sebagai minuman dalam botol atau sachet. Sebenarnya apa apa keistimewaan teh hijau dibanding teh jenis lainnya?


Teh hijau diproses dengan cara khusus. Setelah dipetik, daun teh akan mengalami pengasapan. Proses ini akan mengeringkan daun teh, namun tidak sampai mengubah warna daun. Kondisi inilah yang menyebabkan air seduhan daun teh tetap terlihat berwarna hijau muda. Proses ini kemudian terbukti dapat mempertahankan berbagai kandungan nutrisi, antara lain zat antioksidan polifenol pada daun teh. (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)***


Teh Hijau dan ”Paradox Prancis”

RAHASIA teh hijau terletak pada fakta teh kaya akan polifenol katekin (catechin polyphenols), terutama epigallocatechin gallate (EGCG). EGCG adalah antioksidan yang sangat ampuh: mampu menghambat pertumbuhan sel-sel kanker, tanpa merusak jaringan yang sehat. Ia juga efektif dalam menurunkan tingkat kolesterol jahat LDL, dan menghambat penggumpalan darah yang abnormal -- yang memicu serangan jantung dan struk.


Ada hubungan antara efek-efek minum teh hijau dan "Paradoks Prancis" ("French Paradox"). Bertahun-tahun, para peneliti dibuat bingung dengan sebuah teka-teki; walaupun banyak mengkonsumsi makanan kaya lemak, orang Prancis memiliki insiden yang rendah mengidap penyakit jantung dibanding orang-orang Amerika.

Jawabannya ternyata terletak pada anggur merah (minuman tradisi Prancis), yang mengandung resveratrol, suatu polifenol yang menghambat efek-efek negatif dari merokok dan makanan berlemak.

Dalam studi tahun 1997, para peneliti dari Universitas Kansas menemukan bahwa EGCG dua kali lebih ampuh dibanding resveratrol. Inilah penjelasan yang masuk akal, mengapa angka penyakit jantung di antara orang-orang Jepang cukup rendah, meskipun hampir 75% adalah perokok. (DS/ chinesefood.about.com)***

5 komentar:

  1. Damu pa kmu to?.. Nano ni klase blog man?

    BalasHapus
  2. It could give you more facts.

    BalasHapus
  3. Probably I can say with this blog make, more some interesting topics.

    BalasHapus
  4. that doesn't happen everyday. wish you all the best.

    BalasHapus
  5. The owner of this blog has a strong personality because it reflects to the blog that he/she made.

    BalasHapus