Jumat, 25 Januari 2013

Mendengkur Tingkatkan Risiko Serangan Jantung



Pendengkur mungkin lebih berisiko terkena serangan
jantung dan stroke daripada kelebihan berat badan, merokok, atau
kolesterol tinggi.

Penelitian terbaru yang mengejutkan ini telah mengungkapkan bahwa
mereka yang mendengkur lebih cenderung memiliki penebalan atau
kelainan pada arteri karotid (carotid) yang memasok otak dengan darah
beroksigen. Kondisi ini merupakan cikal bakal pengerasan arteri, yang
mengarah ke serangan jantung dan pendarahan di otak.

Meskipun mendengkur lebih sering terjadi pada orang yang kelebihan
berat badan, diperkirakan bahwa sekitar 40 persen pria dan 24 persen
wanita memiliki kebiasaan mendengkur.

Selama beberapa tahun para ilmuwan telah menyadari ada hubungan antara
mendengkur dan penyakit kardiovaskuler seperti serangan jantung dan
stroke. Namun para ahli kini memperingatkan implikasi kesehatan
tersebut bisa jauh lebih buruk daripada yang diperkirakan sebelumnya.

"Mendengkur lebih dari sekadar gangguan tidur dan tidak boleh
diabaikan. Pasien harus mencari pengobatan dengan cara yang sama
seperti jika mereka memiliki sleep apnea, tekanan darah tinggi atau
faktor risiko lain untuk penyakit jantung," kata pemimpin studi Dr
Robert Deeb dari Henry Ford Hospital di Detroit, AS, seperti
dipaparkan dalam jurnal The Laryngoscope.

Sleep apnea adalah gangguan tidur dengan kesulitan bernapas yang
berulang kali ketika sedang tidur. Ini merupakan kondisi yang
berpotensi mengancam hidup yang terkait dengan stroke, serangan
jantung, dan tekanan darah tinggi.

Penelitian Dr Robert Deeb, yang dipresentasikan pada 2013 Combined
Sections Meeting of the Triological Society di Arizona, menunjukkan
perubahan pada arteri karotid mungkin disebabkan oleh trauma dan
peradangan yang disebabkan oleh getaran dari dengkuran.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar