Kamis, 20 November 2008

Pisang "Wortel" Kaya Vitamin A

SOSOKNYA seperti wortel gendut berwarna oranye, namun sesungguhnya ini adalah buah pisang. Pisang yag satu ini kaya akan beta carotene yang oleh tubuh manusia diubah menjadi vitamin A. Para peneliti berharap buah unik ini bisa mencegah kebutaan pada anak-anak terutama di pulau-pulau Pasifik, Micronesia.

Pisang ini disebut "karat" karena daging buahnya berwarna oranye terang. Karat meruapkan varietas lokal Musa troglodytarum. Tanaman ini secara tradisional mengandung obat, serat, daunnya untuk memasak dan pakan ternak. Karat telah berabad-abad digunakan di Micronesia untuk menyapih bayi-bayi dari masa menyusui ke makanan yang lebih padat. Sayangnya kebiasaan baik ini tidak lagi dilakukan, popularitasnya kalah oleh makanan bayi asal impor.

Tampaknya, buah asli daerah ini perlahan-lahan kembali dilirik. Suatu program screening yang disponsori Kementerian Pertanian Pohnpei, salah satu pulau dari Federasi Micronesia, telah menetapkan bahwa pisang mirip wortel ini kaya akan beta-karoten, yang dikenal sebagai pro-vitamin A.

Diharapkan pisang oranye ini dapat secara rutin diberikan kepada anak-anak yag kekurangan vitamin A, membantu mereka terhindar dari masalah penglihatan, bahkan kebutaan. Satu dari 10 anak-anak di pulau ini memiliki penglihatan yang buruk.

Lois Englberger dari Komunitas Makanan Pulau Pohnpei dan Adelino Lorens dari Kementerian Pertanian Pohnpei menyaring 21 kultivar pisang asli pulau bergunung api ini, seluruhnya diseleksi dengan ciri khas berwarna sangat kuning, oranye atau merah, yang menghasilkan carotenoid tingkat tinggi.

Mereka menemukan bahwa 15 jenis mengandung cukup carotenoid untuk memasok setengah dari kebutuhan per hari vitamin A. Dari hasil studi, menunjukkan karat asal Pohnpei ini merupakan kultivar yang sangat menjanjikan, memiliki lebih dari 25 kali beta-karoten dibanding pisang cavendish.

"Karat yang dikukus akan membuat lebih banyak carotenoid di dalam tubuh. Selain itu juga bisa dikonsumsi setelah masak atau masih mentah sekalipun," ujar Englberger, yang mempresentasikan penemuannya ini di Penang, Malaysia, pada konferensi internasional mengenai pisang dan tanamannya. (DS/newscientist.com)***

Foto: IFCP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar