Selasa, 12 Agustus 2008

Belajar dari Kisah Zulkarnain

KEHADIRAN seorang pemimpin yang baik selalu dirindukan oleh rakyatnya sepanjang masa, termasuk masyarakat kita yang tengah mencari sosok pemimpin yang diidamkan. Sesungguhnya, pemimpin yang bagaimana dan seperti apa yang baik itu? Alquran ternyata memberikan banyak gambaran ideal mengenai sosok seorang pemimpin, salah satunya adalah Zulkarnain. Dalam surat Al Kahfi Allah SWT memaparkan kriteria pemimpin sejati yang bisa ditemukan pada diri Raja Zulkarnain.

Walaupun kisah Zulkarnain dalam khasanah Islam masih diselimuti misteri; apakah Zulkarnain yang diceritakan Allah SWT dalam Alquran adalah sosok yang sama dengan Aleksander Agung (Alexander The Great) atau Raja Kurusy (Cyrus The Great)? Dalam Alquran, kita memang tidak mendapat penjelasan tentang siapa Zulkarnain, dari mana asalnya dan kapan kejadiannya. Hal itu tidak terlalu penting, karena yang terpenting adalah pelajaran apa yang bisa diambil darinya.

Zulkarnain (Dzul Qarnain) berkelana bersama tentaranya menaklukan negara-negara yang dilewatinya, Yunani, Turki, Persia, Babilonia, Palestina, Mesir, Libya, Asia Tengah, India, dia juga melampaui Tunisia dan Maroko, dan membangun kota Afrika hingga benua itupun disebut Afrika. Dia berhasil mencapai dua "tanduk matahari", yakni Timur dan Barat, sehingga dia pun dijuluki dan digambarkan dengan sepasang tanduk.

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita tangkap dari kisah Zulkarnain yang heroik itu, khususnya dalam konteks kepemimpinan yang didambakan umat.

Zulkarnain adalah raja yang memiliki kekuasaan yang membentang dari Semenanjung Balkan hingga ke tepi barat Sungai Indus di Pakistan, dengan bantuan tentaranya yang kuat dan terlatih. Namun dengan kekuasaannya itu ia tidak lantas menyombongkan diri. Ketika Zulkarnain menuju ke arah Barat hingga sampai ke satu titik di pantai Samudera Atlantik yang dinamai dengan Laut Hitam. Ia menganggap telah mencapai akhir daratan dan melihat matahari tenggelam di situ. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. Maka dia pun menempuh suatu perjalanan. Hingga apabila telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam." (QS 18:84-86).

Ketika ia mendapati segolongan umat yang telah menyerah kepadanya, ia justru tidak berniat untuk menzalimi dan mengambil keuntungan dari mereka, padahal Allah SWT memberikan pilihan kepadanya antara berbuat baik atau bertindak buruk. Namun ia justru mengajak mereka kepada iman dan amal shaleh. Allah SWT berfirman: Dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka. Berkata Zulkarnain: Adapun orang yang menganiaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada taranya. Adapun orang yang beriman dan beramal shaleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami. Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur), dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah, sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya (QS 18:86-91).

Pemimpin yang baik adalah pelayan bagi masyarakat yang dipimpinnya, begitupun dengan Zulkarnain ia menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin yang sejati dengan melayani dan melindungi rakyatnya, tanpa sedikit pun meminta imbalan. Hal ini tampak ketika dalam pengembaraannya, Zulkarnain mendapati suatu umat yang dalam keadaan terancam dari Ya'juj dan Ma'juj yang suka melakukan kerusakan di muka bumi. Maka Zulkarnain mengerahkan masyarakat tsb untuk membangun tembok yang sangat kuat yang terbuat dari campuran besi dan tembaga, yang dibangun di antara dua gunung sehingga tertutup bagi Ya'juj dan Ma'juj untuk memasuki wilayah penduduk itu (banyak yang percaya benteng Zulkarnain ini terletak di Derbent, Republik Dagestan). Dengan keberhasilan itu, Zulkarnain yang terkenal gagah berani, tetap menyadari kelemahannya karena semua itu adalah karunia Allah SWT. Semua itu Allah SWT ceritakan dalam firman-Nya QS 18:84-98.

Kesediaan Zulkarnain membangun tembok yang kuat dari besi dan tembaga guna melindungi masyarakat dari gangguan Ya'juj dan Ma'juj menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin yang memberi perhatian penuh kepada rakyatnya untuk memperoleh keadilan dan terbebas dari segala bentuk kezaliman.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu berorientasi pada kebaikan, kebaikan bagi rakyat yang dipimpinnya. Karena itu Zulkarnain mengarahkan masyarakat yang dijumpainya untuk beriman dan beramal shaleh. Mereka dilibatkan dalam kerjasama yang baik ketika membangun tembok pertahanan sehingga keamanan yang menjadi pilar penting dalam membangun masyarakat bisa terwujud.

Oleh karena itu, para pemimpin dari level terendah hingga tertinggi sepatutnya mencontoh sifat-sifat baik kepemimpinan Raja Zulkarnain, yang berupaya menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, mengajak beriman dan beramal saleh, bukan malah bersekongkol dengan orang-orang yang melakukan kezaliman dan kerusakan di muka bumi. (Sumber: pk-sejahtera.org)***

Sumber foto Cyrus II: karenswhimsy.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar