Minggu, 22 Juni 2008

Channel Reservoir, Usaha Tani ‘Tak Ada Matinya’


SEBAGIAN besar wilayah Indonesia memiliki curah hujan lebih dari 2.000 mm/tahun. Suatu jumlah yang cukup potensial untuk usaha tani tanaman pangan maupun hortikultura, paling tidak untuk dua kali masa tanam per tahunnya. Namun, curah hujan sebesar itu belum bisa dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan pertanian, malah sebaliknya menjadi bencana berupa banjir di daerah hilir dan erosi serta pencucian unsur hara di daerah alirannya.

Bila musim kemarau tiba, sebaliknya persediaan air sangat terbatas bahkan menjadi barang langka, sehingga sebagian lahan menjadi kering tak bisa diusahakan. Kondisi ini tentu saja akan menurunkan luas tanam, intensitas tanam, dan produktivitas lahan.

Akankah kondisi seperti ini akan terus berulang setiap tahunnya? Adakah solusi untuk menanggulanginya secara komprehensif? Jawabannya berpulang kepada kita sendiri, apakah mau mengubah nasibnya menjadi lebih baik?

Kalau mau inovatif sebenarnya ada banyak solusi untuk mengatasi dilema tersebut. Salah satu alternatif yang murah dan mudah diterapkan adalah teknologi “channel reservoir”. Teknologi yang juga dikenal dengan istilah “dam parit” ini terbukti bisa mendayagunakan aliran permukaan (runoff) dengan cara menampung air pada saat kelebihan air di musim hujan, dan mendistribusikannya di saat kekurangan air pada musim kemarau.

Teknologi yang digagas Gatot Irianto, PhD dari Puslitbang Tanah dan Agroklimat Badan Litbang Pertanian Bogor ini adalah suatu metode mengumpulkan atau membendung aliran air pada suatu parit. Tujuannya untuk menampung volume aliran permukaan sehingga selain dapat digunakan untuk mengairi lahan di sekitarnya juga dapat menurunkan kecepatan aliran permukaan, erosi, dan sedimentasi.

Menurut Gatot Irianto--seperti ditulis di sebuah media ibukota--secara konseptual channel reservoir merupakan pengembangan dari sistem sawah dengan teras bertingkat yang sejak lama diketahui sangat ideal dalam menampung, menyimpan, dan mendistribusikan air di alam.

Channel reservoir atau dam parit dibangun dengan cara membendung aliran air di alur sungai, sehingga air yang mengalir dicegat untuk mengisi dam. Dengan lamanya air tertahan dalam wilayah DAS (daerah aliran sungai) maka sebagian air akan meresap ke dalam tanah untuk mengisi (recharge) cadangan air tanah dan sebagian dapat dialirkan ke lahan yang membutuhkan air atau lahan yang tidak pernah mendapatkan air irigasi melalui parit-parit. Pada parit-parit itu selanjutnya juga dibuat dam atau bendung lagi (dam parit bertingkat). Demikian seterusnya sehingga lahan yang dapat diairi lebih luas.

Ada 3 manfaat yang bisa diperoleh dengan mengembangkan channel reservoir. Pertama, mampu menampung sebagian besar volume air hujan dan aliran permukaan, sehingga dapat menekan resiko banjir di hilir; Kedua, mampu menurunkan kecepatan aliran permukaan, laju erosi dan sedimentasi sehingga waktu air menuju hilir akan lebih lama, sendimentasi rendah dan waktu evakuasi korban bila terjadi banjir bisa lebih leluasa; Ketiga, dapat meningkatkan cadangan air tanah pada musim hujan akan memberikan persediaan air yang memadai di musim kemarau.

Lebih ideal, menurut Gatot, bila channel reservoir tersebut dapat dibangun secara bertingkat (channel reservoir linier in cascade). Dengan channel reservoir bertingkat, peredaman besaran banjir (debit puncak dan waktu menuju debit puncak) akan dilakukan secara berlapis. Kelebihan air pada channel reservoir pertama bisa ditampung pada channel reservoir berikutnya dan seterusnya.

Dengan mengaplikasikan dam parit bertingkat ini, maka pasokan air secara kuantitas dan kontinuitas dapat dipertahankan dan fluktuasi debit yang dapat menyebabkan banjir dan kekeringan dapat diminimalkan. “Jika bendungan semakin banyak, air bisa mengalir sepanjang tahun,” jelas Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Balitbang Pertanian itu.

Tersedianya air secara kuantitas dan kontinuitas memungkinkan masyarakat untuk mendayagunakan sumber air tersebut untuk keperluan budidaya seperti: pengembangan sayuran dan buah-buahan, ternak dan perikanan. Berdasarkan hasil penelitian Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi di beberapa DAS Kabupaten Gunung Kidul dan Semarang bekerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa channel reservoir bertingkat selain dapat menekan risiko banjir dan kekeringan juga dapat mengubah pola tanam dari monokultur (singkong) sekali setahun menjadi multiple cropping (padi-padi dan cabe); meningkatkan intensitas tanam; dan meningkatkan pendapatan petani.

Dalam hal pemanfaatan sumber daya air, maka penerapan channel reservoir memungkinkan terjadinya re-use air secara berkelanjutan, sehingga efisiensi penggunaan air dapat ditingkatkan.

Uji keberhasilan channel reservoir ini dilakukan pada musim kemarau panjang tahun 2002. Saat itu ketersediaan air di Sub-DAS Bunder, Gunung Kidul mangalami peningkatan 3 bulan dibandingkan musim kemarau sebelum ada channel reservoir, sehingga petani bisa menanam cabe pada musim kemarau dengan hasil yang sangat memuaskan.

Adapun di sub-DAS Keji Semarang, petani dapat mengembangkan komoditas cabe, mentimun, bawang merah, bawang daun pada musim kemarau. Sementara lahan yang ada di luar areal yang tanpa channel reservoir kondisinya bera (tanpa tanaman). (Dede Suhaya/dari berbagai sumber)

Nilai Tambah Dam Parit

SEBAGAI pedoman pembuatan channel reservoir atau dam parit, bisa mencontoh hasil penelitian pembuatan dam di desa Keji dan Kalisidi oleh Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Dam parit pertama dibangun di Desa Keji berukuran 67,2 m3 dengan luas daerah irigasi 19 ha. Sedangkan dam parit kedua dan ketiga di bangun di Desa Kalisidi berukuran 4,1 m3 dengan luas daerah irigasi 7,2 ha. Kemudian dam parit keempat yang terletak di parit Bender, Desa Kalisidi, Kabupaten Semarang.

Bangunan dam parit terdiri dari badan bendung, mercu bendung, olakan, tanggul bendung, pintu pembagi air dan saluran pembagi air. Lebar seluruh bendung adalah 3,65 m, panjang bendung 4,20 m dan tinggi tanggul dari permukaan air 0,6 m. Pada pintu pembagi air telah dilengkapi bangunan saluran air dengan ukuran lebar saluran 0,6 m, tinggi tanggul saluran 0,5-1,0 m dan panjang saluran 32 m.

Dalam pembuatan dam parit, seperti ditulis di situs http://pustaka.bogor.net/ perlu dipertimbangkan hal-hal di bawah ini:

Dam parit dibutuhkan petani dan diputuskan oleh petani sendiri; biaya pembuatannya murah, mudah, dan dapat dilakukan sendiri oleh petani; penentuan lokasi harus tepat, yaitu lokasi yang apabila dibangun dam parit dapat menampung air sebanyak mungkin dan dapat mengairi lahan pertanian seluas mungkin.

Selain itu, harus pula mempunyai nilai tambah. Selain dapat mengairi lahan lebih luas, pembangunan dam parit juga memiliki dampak langsung yaitu menaikkan indeks pertanaman dan mengubah jenis komoditi, misal dari ubi kayu menjadi padi atau hortikultura. Dampak tidak langsungnya adalah mengurangi banjir, erosi, sedimentasi, dan kekeringan.(DS)***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar