Rabu, 22 September 2010

Pemanasan Global, Fakta atau Fiksi?

PADA 19 November 2009 seorang peretas anonim berhasil membobol jaringan komputer Climate Research Unit (CRU) di University of East Anglia, Inggris dan berhasil mendapatkan 160 MB data beserta kumpulan e-mail. Puluhan e-mail yang bocor di dunia maya ini berisi percakapan antara para peneliti utama CRU sejak 1997 hingga sekarang. Dan yang mengejutkan isi e-mail tu menunjukkan adanya manipulasi data pemanasan global (global warming).

Tak pelak  kelompok yang skeptis terhadap isu pemanasan global mengklaim bahwa e-mail tersebut membuktikan para ilmuwan di CRU menyembunyikan data dan memalsukan bukti-bukti ilmiah tentang pemanasan global.

Apabila pemalsuan data itu benar adanya, bisa menjadi skandal terbesar dalam sejarah sains modern. Dan tentu saja akan semakin menambah kelompok yang skeptis, bahkan menolak adanya konsep pemanasan global. Saat ini saja, menurut polling yang dilakukan BBC News pada November lalu, ada peningkatan sebesar 10 persen responden yang menganggap pemanasan global hanyalah fiksi atau rekaan.

Di Indonesia polemik tentang pemanasan global memang jarang terdengar, tetapi bila kita mengikuti perkembangan isu ini di negara-negara barat, seperti di Eropa dan Amerika Serikat, justru perdebatan itu semakin gencar, yang mendukung dan menolak pemanasan global hampir memiliki kekuatan yang seimbang, masing-masing didukung lobi yang kuat dengan dana yang tidak sedikit.

 Kontroversi pemanasan global pada dasarnya terletak pada perdebatan mengenai sifat, penyebab, dan konsekuensi dari pemanasan global itu sendiri. Masalah-masalah yang diperdebatkan termasuk penyebab peningkatan suhu udara rata-rata global, terutama sejak pertengahan abad ke-20, apakah tren pemanasan ini belum pernah terjadi atau hanya variasi iklim yang normal? Apakah manusia telah memberikan kontribusi signifikan? Dan apakah peningkatan tersebut seluruhnya atau sebagian merupakan akibat ketidaktepatan pengukuran?

Gagasan mengenai pemanasan Bumi pertama kali dilontarkan  pada tahun 1841, oleh Jean Baptiste Fourier yang menulis tentang pemanasan global di Surat Kabar Milwaukee Sentinel and Winconsins Farmers. Matematikawan Prancis ini menyimpulkan bahwa beberapa gas bisa memerangkap panas di atmosfer. Dan jika ada lebih banyak gas tersebut, dunia kita akan terus menghangat. Fourier rupanya telah menemukan apa yang sekarang disebut efek rumah kaca.

Kemudian pada 1894, para ilmuwan mengungkapkan bahwa revolusi industri yang dimulai di Eropa merupakan periode titik awal terjadinya polusi lingkungan akibat proses industrialisasi.
Terinspirasi dari Fourier, seorang ilmuwan Swedia, Laureate Svante Arrhenius, pada 1896 berspekulasi bahwa perubahan dalam tingkat karbondioksida (CO2) di atmosfer secara substansial bisa mengubah  suhu permukaan melalui efek rumah kaca.

Hipotesis abad ke-19 ini, menurut sebagian pakar merupakan hipotesis ilmiah yang kabur.  Sebelum tahun 1980-an hipotesis ini biasanya dianggap sebagai rasa ingin tahu karena perhitungan abad kesembilan belas menunjukkan bahwa rata-rata suhu global seharusnya meningkat lebih dari 1 derajat Celsius pada 1940, dan itu tidak terjadi. Namun, pada tahun 1979, Margaret Thatcher (perdana menteri Inggris kala itu) mengangkat hipotesis tersebut menjadi isu kebijakan utama internasional. Dari sinilah isu pemanasan global menjadi topik yang hangat dibicarakan.

Berbagai upaya dilakukan untuk menghentikan proses pemanasan global ini, salah satunya adalah dengan meratifikasi Protokol Kyoto 2005 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Selain itu kampanye pun marak, dan yang terbilang sukses adalah sebuah film dokumenter berjudul ”An Inconvenient Truth” yang dirilis pada 2006.

 Film yang berdurasi 94 menit ini menceritakan sisi kehidupan Al-Gore, seorang pejuang lingkungan hidup asal Amerika Serikat. Dengan cara yang persuasif dan mempesona, mantan wakil presiden era Bill Clinton ini mempresentasikan isu pemanasan global dan bahayanya bagi masa depan umat manusia.

Namun, di mata para penentang konsep pemanasan global, film peraih Academy Award ini tidak berpengaruh sama sekali, mereka balik menuduh gambaran menakutkan akibat pemanasan global dalam film ini terlalu heboh dan dibesar-besarkan.

Untuk  mengetahui seberapa besar terjadinya pemanasan global, menurut Sumaryati dari Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan (“PR”, 18/2), kita mesti menengok jauh ke belakang. Faktanya, suhu bumi yang terekam sejak 2500 SM memang tidak konstan tapi berfluktuasi, sehingga bukanlah pertama kali terjadinya pemanasan global ini. Kenaikan dan penurunan suhu global bumi adalah siklus dengan periode yang tidak sama setiap kejadian. Sejak 2004 ada kecenderungan suhu global bumi turun, bahkan Bob Carter, seorang ahli geologi kelautan dan lingkungan asal Australia mengklaim pemanasan global sudah berhenti pada 1998.

Para ilmuwan yang skeptis menilai, masalah perubahan iklim belum cukup diteliti, masih terdapat kesalahan, adanya laporan parsial, kurangnya kerjasama dan kejujuran dari para pakar pendukung pemanasan global.

Celakanya, para ilmuwan di negara-negara berkembang, memiliki keterbatasan teknologi untuk mengukur perubahan iklim global, sehingga mereka hanya bisa menerima data mentah-mentah dari dunia barat, dan tak pernah mempertanyakan data ini sumbernya dari mana, dan bagaimana cara mendapatkannya?

Kebanyakan orang mungkin belum tahu, data perubahan iklim yang kita ketahui dan didengung-dengungkan oleh berbagai media, ternyata bukan berasal dari hasil penelitian yang kita lakukan, sebagian besar data tersebut berasal dari sebuah lembaga yang bernama Climate Research Unit  yang dibentuk Universitas East Anglia, Inggris. Organisasi ini juga yang memasok data untuk IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) dan peneliti-peneliti pro pemanasan global.
Sebelum bobolnya server CRU oleh peretas dan bocornya e-mail ke publik, CRU banyak menuai kritikan karena tidak transparan, dan tidak pernah mempublikasikan data mentah yang digunakan untuk memperkuat fakta pemanasan global.

”Tongkat Hoki”
Dalam Third Assessment Report 2001, IPCC pernah menerbitkan grafik perkiraan suhu global selama 1.000 tahun terakhir, grafik ini dibuat ahli geofisika Universitas Massachusetts, Michael Mann  dan dimuat  dalam jurnal ilmiah Nature.

 Plot grafik ini dibuat untuk menunjukkan bahwa kita sekarang tengah mengalami iklim terpanas dalam milenium, dan bahwa bumi ini, setelah dingin selama berabad-abad di abad pertengahan, tiba-tiba mulai memanas sekitar 100 tahun yang lalu, hanya pada saat pembakaran batubara dan minyak menyebabkan peningkatan tingkat karbondioksida di atmosfer.

Grafik ini menyerupai tongkat hoki dan menjadi begitu kontroversial sejak diluncurkan, karena banyak menuai kritikan. Menurut para pengritik, studi statistik yang digunakan untuk menghasilkan grafik itu sarat dengan hal teknis, menggunakan secara logis teknik-teknik  statistik yang tidak jelas. 
Dengan tanpa penelaahan terlebih dahulu, grafik ini diadopsi dan diumumkan IPCC. Lebih buruk lagi, banyak negara mengadopsi bagan ini ketika menangani kebijakan nasionalnya terhadap pemanasan global.

Tercatat Ross McKitrick dan Steve McIntyre  mempertanyakan validitas grafik tersebut. Berbekal keterampilan statistik dan komputer, mereka mampu mengurai data yang kompleks dan teknik statistik yang tidak jelas, serta  membuktikan grafik “tongkat hoki” itu cacat.

Perdebatan soal pemanasan global masih akan terus berlangsung bila kedua belah pihak, yang pro dan kontra, tidak secara jujur dan saling terbuka mengedepankan fakta-fakta yang sesungguhnya. Kedua pihak mesti menerapkan aturan-aturan ilmiah yang objektif dan jauh dari berbagai kepentingan.


Terlepas dari fakta atau fiksi, isu pemanasan global banyak juga sisi positifnya, bahkan bisa menjadi lahan bisnis yang menguntungkan, barang-barang ramah lingkungan, makanan organik, barang daur ulang, laris manis. Bohong atau benar pemanasan global memacu orang untuk hidup sehat dan cinta lingkungan. (dari berbagai sumber)***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar