Jumat, 22 Agustus 2008

Periuk Monyek sebagai Tanaman Hias

DI HABITAT aslinya, tanaman pemangsa populasinya terus menurun, ditengarai akibat eksploitasi komersial dan kerusakan hutan, sehingga tidak mengherankan jenis tanaman langka ini dilindungi undang-undang. Namun demikian bukan berarti terlarang untuk memeliharanya, ia dapat diperjualbelikan bila jumlahnya banyak dan berasal dari hasil budidaya.

Di Tanah Air, permintaan akan tanaman unik ini terus meningkat, khususnya tanaman karnivora anggota famili Nepenthaceae, yang kondang disebut "kantong semar" atau "periuk monyet". Tanaman liar dari hutan-hutan kerangas dan rawa-rawa hutan tropis ini populer untuk dijadikan tanaman hias. Para kolektor, hobiis, dan penangkar berlomba memburu Nepenthes ini.

Lain di tanah air, lain pula di luar negeri, di Amerika Serikat dan Eropa, penggemar kantong semar ini sudah tak terhitung jumlahnya, perkembangan budidayanya pun sudah sedemikian majunya, bahkan di Belanda sudah dikembangkan dalam skala industri yang mampu menyumbang devisa bagi Negeri Tulip ini. Ironisnya, sorok raja mantri --sebutan nepenthes di Jawa Barat-- ini kebanyakan berasal dari Indonesia, terutama dari Pulau Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Jangan salah 65% nepenthes dunia ada di Indonesia.

Meledaknya permintaan kantung semar, selain menjadi berkah bagi para penangkar dengan mengalirnya fulus, juga sekaligus sebagai wadah konservasi, sehingga bila spesies ini punah di alam liar, masih ada plasma nutfahnya di penangkar, hobiis, dan kolektor.

Periuk monyek atau Nepenthes relatif mudah memeliharanya. Mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Media cocopeat dicampur sekam bakar dalam pot plastik sudah cukup untuk menumbuhkan pemangsa serangga ini. Sementara perbanyakan bisa dilakukan dengan cara stek batang, biji, dan kultur jaringan.

Sosok pitcher plant dengan kantong-kantongnya yang khas, ditambah pertunjukan "horor" menjerat serangga dengan kantong-kantongnya menjadi daya tarik tersendiri bagi penggilanya. Tidaklah berlebihan bila harga tanaman eksotik ini dalam setiap pameran relatif masih mahal, harganya mulai dari Rp 30.000 hingga Rp 150.000 per potnya tergantung ukuran dan kondisi tanaman. Sebut saja Nepenthes rajah dari Pontianak berkantung superbesar dihargai Rp 100.000 per pot.

Apa tidak tergiur dengan keuntungan yang bakal diraih. Berminat bisnis periuk monyet? (DS/dari berbagai sumber)***

2 komentar: